Pilgub Jawa Barat tahun depan sudah panas dari sekarang, saya ingin mengulas kembali kiprah Bupati Purwakarta yang sekarang ini digadang-gadang akan ikut bertarung dalam konstetasi pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun depan. Sebagai orang yang sedikit tahu sepak terjang Dedi dibalik layar, karakter kepemimpinannya, siapa saja orang-orang terdekatnya, dan caranya memimpin pegawai negeri sipil (PNS) di Purwakarta. Hal itulah yang membuat saya ingin mengulasnya kembali. 

Sepak terjangnya bisa kita simak dari perspektif sosial-kebudayaan yang saat ini tengah ia tumbuhkan lagi di Purwakarta. Apabila ditelisik lebih dalam, sejauh mana kepantasan Dedi menjadi calon Gubernur Jawa barat? Apa saja yang bisa ditawarkan untuk meyakinkan pemilih rasional di Jawa Barat? Perlukah menjual sebuah rekam jejak? 

Saya sendiri mengajukan pertanyaan tentang pemilih rasional dan mengenai nilai jual yang dimiliki oleh beliau karena apabila memilih pangsa pasar dalam politik, setiap elit sudah memiliki basis pemilihnya masing-masing. Secara tersirat Dedi sudah pasti akan memiliki basis yang kuat di pedesaan. Karakteristik pemilih di pedesaan terinterpretasikan dalam sosok Dedi.

Dengan membangun branding sebagai tokoh yang sederhana, merakyat, mau memeluk mesra setiap nenek yang pra-sejahtera dan rela hingga kotor-kotoran bermain lumpur saat kunjungan desa dirasa cukup untuk mendapatkan tempat di hati masyarakat pedesaan. Namun, apabila untuk menyasar tipe pemilih yang secara kategori mengedepankan rasionalitas, cara-cara tersebut belum bisa sepenuhnya bisa meyakinkan karena cenderung mempertimbangkan program kerja yang akan dilaksanakan. 

Perlu dipertimbangkan, Dedi Mulyadi sebagai stakeholder kebijakan publik seyogyanya telah mampu menghidupkan kembali sendi-sendi kebudayaan yang saat ini nyaris hilang, baik oleh gerakan pemurnian ajaran agama yang diklaim kaum puritan maupun arus aliran politik transnasional. Sosoknya yang juga keras kepala untuk menanamkan rasa cinta terhadap kebudayaan dan kearifan lokal patut di apresiasi. 

Budaya sunda yang hampir tergerus oleh arus globalisasi direka ulang oleh sentuhan manis dari Dedi Mulyadi. Selain itu concern—nya terhadap deradikalisasi agama dengan merangkul mantan teroris dan program tafsir Al-Qur’an dengan kitab kuning menjadi bukti keseriusannya menyeimbangkan antara kebudayaan dan keagamaan. Setiap keputusannya untuk publik sedikit mengingatkan saya pada sosok Syarif Hidayatullah yang menyiarkan agama Islam di Tatar Sunda dengan menyeimbangkannya melalui kebudayaan. 

Harus kita akui, Dedi Mulyadi mungkin pantas untuk memimpin Jawa Barat di masa datang, kinerjanya tidak sempurna untuk Purwakarta, terlalu banyak aspek yang bisa kita kritik dari kinerja beliau. Apabila melihat dari ketersediaan calon yang ada mulai dari Deddy Mizwar, Aa Gym, Dessy Ratnasari hingga Dede Yusuf saya jelas akan katakan dari nama-nama tersebut Dedi jauh lebih baik. Saya juga yakin, Dedi dibutuhkan oleh Jawa Barat bangkit dari keterpurukan serta melawan gerakan intoleran yang tumbuh subur di Jawa Barat.

Dirinya sering dicaci oleh kelompok ormas keagamaan, karena tindakannya yang sering dianggap musyrik. Penjiwaannya terhadap akulturasi kesundaan dalam menata fasilitas kota pernah menimbulkan pertentangan dengan terjadinya pembakaran terhadap patung-patung yang menurut mereka sebuah perwujudan kemusyrikan. 

Padahal, upayanya dalam meningkatkan kembali rasa cinta terhadap tokoh pewayangan dalam kebudayaan sunda sebagai wujud Dedi merawat warisan dan tradisi dari leluhur agar bisa mengingat kembali sejarah nasional. Tanpa harus merujuk sebuah data, saya bisa memastikan setiap manusia yang sempat singgah di Purwakarta bisa merasakan suasana kebudayaan yang kental dengan beragam pernak-pernik khas Sunda.

Kearifan Lokal

Jujur saja, saya lebih setuju menyebut Dedi sebagai budayawan ketimbang politisi. Dedikasinya untuk Purwakarta sudah sepatutnya mendapatkan apresiasi. Bagi siapapun yang menyaksikan perubahan di Purwakarta, akan setuju bila kita melihat meningkatnya tradisi kesundaan yang merupakan hasil jerih payahnya. Budaya sunda yang kental sudah menjadi identitas kabupaten Purwakarta secara nasional. Dedi banyak melakukan terobosan untuk membuat masyarakat mencintai kebudayaan sunda.

Membangun museum digital Diorama yang menggunakan teknologi hanya tindakan konkrit dan sederhana agar masyarakat tertarik untuk berkunjung menggali wawasan sejarah. Generasi Milennials—acapkali lebih menyukai konsep-konsep visual untuk suatu objek yang sedang di pamerkan oleh para penggagas. Kriteria ini yang disasar oleh sang budayawan sekaligus politisi ini.

St. Takdir Alisjahbana pernah mengatakan bahwa memahami kebudayaan sebagai manifestasi dari cara berpikir yang sifatnya sangat luas. Segala sesuatu semestinya dikembalikan kepada cara berpikir. Dengan demikian, memandang kebudayaan sebagai teknik atau pola-pola perilaku manusia dalam berinteraksi dengan alam, sesama manusia dan Tuhan melalui pelbagai karya dan pola pikirnya (Fransiskus Simon, Kebudayaan dan Waktu Senggang: 2008).

Memahami kerangka pikir tersebut, budaya sebagai identitas sebuah masyarakat sunda yang perlu dipertahankan. Keafiran lokal akan mampu mengukuhkan interaksi sosial-budaya, karena setiap culture tidak terlepas dari relativisme cultural

Dalam kacamata politik, kebudayaan sangat berkaitan dengan tugas dan kepentingannya, yakni bagaimana kebudayaan itu dikontrol, dikembangkan dan dijadikan suatu program.Sangat erat kaitannya menelisik bias-bias strata sosial untuk menggali kembali pemaknaan ekslusivitas sejarah. Hal itulah yang terkandung dalam kaidah nasionalisme Dedi Mulyadi yang disinari oleh kebijaksanaan, pengertian, pengetahuan dan kesadarannya terhadap sejarah.

Hal penting yang harus digarisbawahi adalah Dedi Mulyadi memahami bahwa masing-masing kelompok masyarakat mempunyai keunikan dan kelebihannya sendiri-sendiri, hal ini yang coba di reparasi oleh beliau dengan menggagas kembali pendidikan sejak dini dari luar kelas dan membuat program akulturasi budaya sejak usia dini. Intuisinya yang kuat, menganggap anak tidak melulu harus belajar di dalam kelas. Baginya berproses dengan alam sejak dini merupakan fondasi dasar setiap bibit penerus bangsa dalam mengarungi kerasnya arus perubahan yang menimbulkan persaingan global yang semakin kompetitif. 

Tanpa perlu berpikir panjang, para pemilih rasional yang mungkin tidak signifikan jumlahnya di wilayah Jawa Barat patut berbangga, ingin memiliki calon pemimpin dari Budayawan transformatif seperti Dedi Mulyadi? Silakan tentukan pilihan anda!