34308_50707.jpg
koleksi foto pribadi
Politik · 3 menit baca

Debat Berbahasa Inggris untuk Jokowi dan Prabowo

Pertarungan politik menuju Pilpres 2019 nampaknya mulai mencari bentuk-bentuk baru. Salah satunya muncul dari timses Prabowo-Sandi yang mengusulkan format debat dalam bahasa inggris selama satu jam. Awalnya saya melihat pernyataan ini hanya seloroh saja. Tapi, semakin dalam saya menelisik, ternyata ini adalah manuver politik tingkat tinggi. Mengapa demikian?

Jauh sebelum pernyataan Ketua DPP PAN (Yandri) ini menguak ke permukaan, Joko Widodo memang pernah dirundung isu ketidakmampuan berbahasa inggris dengan fasih dan lancar. Pihak oposisi mungkin melihat kelemahan tersebut sebagai salah satu peluang untuk diperlihatkan di hadapan pemilih. 

Dalam konteks politik elektoral, semakin banyak kelemahan lawan yang terlihat, semakin besar tingkat popularitasnya. Begitu kira-kira adagiumnya.

Di sisi lain, baik Capres Prabowo dan Cawapres Sandiaga Uno diasumsikan memiliki penguasaan kemampuan berbahasa inggris yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena language exposure bahasa inggris Prabowo dan Sandi lebih berpengalaman. Sandi mengenyam pendidikan di english-speaking countries, dan Prabowo pernah tinggal Yordania juga memiliki pergaulan internasional selama berkarir di militer.

Adapun pasangan Jokowi-Ma'ruf, harus diakui bahwa kemampuan bahasa Inggris keduanya relatif di bawah pasangan lawan. Namun, banyak pihak yang melihat hal ini bukan kelemahan karena untuk menjadi seorang pimpinan negara menguasa bahasa Inggris memang perlu tapi tidak wajib. 

Komisioner KPU, sebagai lembaga yang memiliki wewenang untuk menentukan format debat, mempertimbangkan usulan tim Prabowo-Sandi tersebut. Pertanyaanya adalah, jika usulan ini benar-benar dikonversikan menjadi sebuah format debat resmi, apa yang akan dilakukan oleh masing-masing timses untuk mempersiapkan performa masing-masing kandidat?

Faktanya, semua tema dan pertanyaan pada masing-masing sesi debat akan diberikan oleh KPU menjelang diselenggarakannya debat. Masing-masing pasangan calon dan timses hanya memiliki sedikit waktu untuk membangun argumentasi, eviden dan mengembangkan narasi. Meski Prabowo-Sandi diunggulkan dalam english proficiency, namun pemilihan kata, metafora dan lokusi pragmatisnya tetap harus dilatih, mengingat debat adalah konteks formal dan diskursus terstruktur.

Kondisi panggung terbuka, ditonton oleh jutaan mata secara langsung dengan circumstances formal memberikan tekanan public speaking yang besar bagi tiap-tiap orang yang terlibat di dalamnya, terlepas dari media bahasa apa yang digunakan. Kabarnya, hal yang paling ditakuti oleh sebagian besar CEO-CEO di dunia adalah berbicara di depan umum. Karena itu, tim sukses Jokowi-Ma'ruf memiliki "PR" yang lebih besar untuk memantapkan verbal communication bahasa inggris dalam konteks berdebat. 

Selama 3,5 tahun menjabat presiden, Jokowi pasti memiliki pengalaman komunikasi internasional dengan gaya dan konten komunikasi bahasa inggris tingkat tinggi. Satu kelebihan yang tidak dimiliki Prabowo atau Sandiaga dalam perspektif pengembangan encyclopedic mind dan penguasaan konten bicara. 

Terlalu dini memang untuk mengharap format debat dalam bahasa inggris ini menjadi salah satu pilihan KPU, mengingat Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita wajib digunakan dalam pidato resmi kenegaraan dan kebangsaan. Dan perlu diingat, meski bahasa Inggris digunakan oleh hampir seperempat populasi dunia,  namun ada bahasa-bahasa lain yang juga perlu dikuasai oleh pemimpin-pemimpin dunia yaitu Mandarin, Jerman, Arab dan Melayu.

Di samping itu, debat adalah sarana bagi semua anak bangsa untuk mempertimbangkan ke mana suara politiknya akan berlabuh. 

Masyarakat Indonesia telah dipersatukan oleh Bahasa Indonesia sebaga bahasa persatuan dalam lautan multietnik dan linguistic diversity dengan puluan ribu varian. Setiap timses pasti telah mempelajari titik lemah dan titik kuat dalam diri sendiri dan kubu lawan, semua memiliki hak untuk mengusulkan dan menolak. Asas regulasi dan konstitusi yang akan menakar kelayakannya. 

Apa pun yang menjadi format debat KPU, akan menarik dan tugas kita semua anak bangsa ini untuk mencermati tiap lema yang keluar dari mulut para paslon Capres dan Cawapres. Masing-masing timses juga harus mempersiapkan semua potensi skenario penampilan apalagi jika benar ada format berbahasa Inggris.

Tapi ingat, ini bukan lomba pidato atau debat bahasa Inggris. Jangan terpukau oleh kefasihan dan kelancaran, fokuslah pada substansi!