Mahasiswa
2 minggu lalu · 222 view · 4 min baca · Filsafat 60539_74332.jpg
Carolus Duran - The Convalescent (1860)

Death Anxiety

Sebuah Tinjauan menuju Kerelaan

Di tengah kejemuan mengerjakan tugas akhir sekolah pascasarjana, hari ini, tiba-tiba muncul ingatan pada sebuah kejadian yang akan menimpa saya cepat atau lambat: kematian!

Saya sedang memikirkan apa yang para psikolog sebut sebagai primal existential quandary of human existence. Sebuah keadaan psikologis di mana kita membayangkan bahwa pada saatnya tiba kematian itu akan terasa begitu menyakitkan dan menyedihkan.

Bagaimana kita tidak sedih sedangkan kita tidak tahu akhir perjalanan ini? Maut telah mengepak-ngepakkan sayapnya di atas kepala kita. Namun tampaknya saya tidak memikirkannya sendirian. Anda dan milliaran orang di luar sana pasti pernah memikirkannya sesekali.

Yang jadi masalah adalah, alih-alih Anda menerima dan mempersiapkannya dengan cara terbaik versi Anda, apakah ada di antara Anda yang justru acuh pada kefanaan dan mengingkari kematian?

Saya teringat kisah klasik dari novel karya Leo Tolstoy yang dulu pernah baca meski tak selesai. Novel tersebut berjudul The Death of Ivan Ilych, Kematian Ivan Ilych.

Dalam kisahnya, Ivan Ilych berusia 45 tahun, seorang hakim mahkamah agung di Saint Petersburg yang hidupnya didedikasikan pada status sosial.

Satu hari, ia terjatuh dari tangga yang membuat pinggangnya bermasalah. Alih-alih mereda, rasa sakit yang menimpanya makin memburuk, lambat laun ia tidak bisa untuk beraktivitas sama sekali dalam pekerjaannya.

Status sosial yang telah ia raih—berbagai polesan-polesan kehidupan seperti kecerdasan, wibawa dan martabatnya hanya tinggal kenangan. Teman dan kolega menjauhinya.


Perawatan-perawatan ia jalani. Biaya mahal harus ia keluarkan. Namun tak ada diagnosa yang berarti dari para dokter. Pengobatan mereka tak menyelesaikan apa pun. Bagi Ilych, semuanya menjadi siksaan tak tertahankan. Ia marah pada keadaan.

“Yang paling menyiksa bagi Ivan Ilych,” tulis Tolstoy, “adalah kebohongan, bahwa bagi mereka ia baik-baik saja. Kematian tidak benar-benar akan merenggutnya. Ivan hanya sakit biasa-biasa, tak usah terlalu banyak berkeluh kesah, jalani saja perawatan yang ia terima, dan semuanya akan baik-baik saja.”

Pada kenyataannya, ia makin melemah. Tubuhnya kurus kering. Ia hidup berbantalkan derita. Ia takut akan bayang-bayang kematian. Bahkan dokter, keluarga, dan teman-teman tak dapat menenangkannya. Bagi Ivan Ilych. ketakutan akan kematian menjadi kepedihan yang begitu mendalam.

Sama halnya dengan kekhawatiran Ivan Ilych, apakah kematian adalah sesuatu yang harus kita mungkiri selamanya? Ataukah kematian dan aturan yang ia mainkan di alam semesta adalah sesuatu yang lebih baik kita terima?

Tentu saja, kita tak ingin mati, setidaknya untuk saat ini. Namun tidak seperti Ivan Ilych, yang menganggap kematian adalah akhir dari kisah hidup yang menyedihkan, penerimaan pada kematian yang tak terhindarkan, dan mengurangi ketakutan terhadapnya akan memberi kita nilai kejujuran dan kekuatan.

Pada usia tertentu, kita mulai memahami bahwa suatu hari kita dan orang-orang yang kita sayangi akan pergi meninggalkan kita. Dan pada saat tersebut, kita harus mulai mengembangkan semacam mekanisme pertahanan untuk menghadapinya.

Ada dua versi dari mekanisme pertahanan dalam menghadapi kematian. Pertama, menurut terror management theory (teori management terror) yang digagas Sheldon Solomon dan Jeff Greenberg, kesadaran akan kematian akan mengubah pandangan kita terhadap dunia dan manusia lainnya.

Dengan mengingat kematian, manusia seyogianya akan menjalani sisa hidup dengan penuh kesadaran bahwa kita adalah makhluk fana. Bermodalkan hal tersebut, kita mencoba untuk menjalani hidup berkualitas bersama orang-orang terkasih, melakukan hal-hal luar biasa dan bermanfaat bagi sesama.

Bagi sebagian orang, kesadaran akan kematian adalah anugerah. Anugerah untuk menjadikan hidup sebagai satu-satunya kesempatan. Tentang hal ini, Anda bisa membacanya secara detail dalam Being Mortal dari Atul Gawande.

Kedua, adalah dengan ketamakan dan keangkuhan. Ketamakan adalah kondisi di mana Anda begitu berkecukupan, namun tidak memedulikan keadaan orang sekitar yang membutuhkan. Orang angkuh berkata, “Aku baik-baik saja karena aku memiliki segalanya.“ Tamak dan angkuh adalah tanda pengingkaran pada kefanaan.


Di Amerika, dalam sebuah laboratorium bernama Alcor, orang berani membayar mahal untuk menandatangani sebuah kontrak agar bisa dihidupkan kembali jika kelak ia mati.

Laboratorium tersebut sedang mengupayakan sebuah eksperimen cryo-preserved (memisahkan organ kehidupan dari tubuh manusia dengan disimpan pada sebuah titik beku tertentu) dari orang-orang yang telah mati untuk kemudian bisa difungsikan kembali. Menurut pengakuan laboratorium tersebut, upaya tersebut membuahkan hasil.

Menurut Dr. Max More, CEO Alcor Foundation Life Expand, kematian memberikan makna pada kehidupan adalah omong-kosong. Baginya, hidup bisa disebut berarti ketika kita takkan bisa mati. Mengejutkan, bukan?

Sebagai bagian dari perkembangan sains, tentu kita percaya bahwa upaya tersebut mungkin saja berhasil, setidaknya dapat sedikit mengubah definisi dari kata “kematian.” 

Namun, apakah kita menginginkan keabadian tanpa batas? Ataukah kita relakan diri kita direnggut kematian jika saatnya tiba, dan mengembalikan segala hal yang telah kita pinjam pada semesta?

Menyaksikan begitu banyak kefanaan di sekitar kita harus bisa masuk menjadi objek kesadaran kita, bahwa kita pun makluk serupa. Ironis sekali, bahwa kita bisa jadi sangat memikirkan kematian orang lain, tetapi tidak pernah menghiraukan hari akhir kita sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku takjub melihat orang yang tertawa ketika mengantarkan jenazah. Ia tidak tahu bahwa jenazah itu akhir hidup dia juga.”

Nabi Muhammad menyuruh kita menjadikan kematian sebagai objek kesadaran. “Aku tinggalkan kepada kalian dua pemberi nasihat: yang satu bicara, yang lainnya bisu. Penasihat yang berbicara adalah Alquran dan penasihat yang bisu adalah kematian.”

“Katakanlah, sesungguhnya maut yang dari situ kamu melarikan diri, sesungguhnya ia akan menemuimu juga,...” (QS 62:7)

Kematian, bagi sebagian orang seperti Ivan Ilych, dapat membuat kita resah death anxiety. Tapi bagi sebagian yang lain, kesadaran akan kematian menandai perkembangan ruhani yang baik. Matilah sebelum kamu mati, begitu ahli hikmah berpesan.

Kematian adalah niscaya. Memiliki Ayah dan Ibu yang beranjak menua, suatu saat juga akan kehilangan mereka. Oleh karena itu, jawaban dari keduanya adalah: mempersiapkannya. Ketika saatnya tiba, jadikanlah kematian sebagai momen akhir dari keberadaan kita, kembali pada Sang Pencipta.

“Every breath you take is a step towards death. Setiap nafas yang kau hela adalah satu langkah menuju kematian.” - Ali bin Abi Thalib kw.

Artikel Terkait