Kirana ♈ Azalea
1 bulan lalu · 128 view · 8 min baca menit baca · Gaya Hidup 51053_83568.jpg
Dok. Pribadi

Deasy Noviyanti, Perempuan Berbadan Defisit Lemak

Setiap ada orang yang bertanya tentang arti ‘alobatnic’, saya selalu menjawab, “Dibaca dari belakang.” Jawabannya selalu begitu, memang seperti itu. 

‘Alobatnic’ yang ketika dibaca dari belakang menjadi ‘cinta bola’ adalah utak-atik dari frasa football lovers. Frasa tersebut kali pertama saya kenal dari Deasy Noviyanti, penyaji berita di One Stop Football (OSF) yang tayang di TV7 kemudian Trans7 setiap Sabtu. 

Gagasan membalik sendiri muncul dari kebiasaan orang Malang, konon kabarnya begitu. Hal ini karena saya adalah pendukung klub sepak bola Arema.

Saya tahu Deasy Noviyanti ketika usianya 24 tahun. Waktu itu saya yang masih berumur 9 tahun mulai serius untuk menikmati sepak bola. Kebetulan Deasy memandu acara berita khusus sepak bola. Buat saya, Deasy adalah icon tersendiri sebagai penyaji kabar sepak bola.

Pada masa sekarang mungkin peran penyaji berita kurang berguna, jauh lebih berfaedah menjadi pengisi suara video ulasan terkait sisi tertentu dari sepak bola. 

Namun, ketika saya masih anak-anak, bersama teman-teman, kami punya penyaji berita sebagai idola masing-masing. Deasy dengan kelincahan bicaranya, Terry Putri dengan suara serak-serak keset, Efranda Stefanus dengan wajah bersinar, dan Donna Agnesia dengan kesintalan badan menawan.

Selain dari sepak bola, arena MotoGP juga menyumbangkan penyajinya. Uniknya, kalau di sepak bola saya suka Deasy, di MotoGP saya lebih nyaman dengan Widya yang notabene lebih kalem. 

Meski saya juga suka gaya bicara Yuanita Christiany maupun bentuk badan Soraya Chilmy, tapi Widya lebih merasuk sukma. Ehm. Di antara Deasy Noviyanti dan Widya, terdapat sosok penengah: Riyanni Djangkaru, pemandu Jejak Petualang.

Di luar kegiatan sebagai penyaji berita, istri Saladdin Yudono ini juga aktif di kegiatan sosial, seperti Yayasan Pembinaan Ibu dan Anak Penderita HIV AIDS. 

Kalau sepakat dengan gagasan erotic capital (modal erotis) dari Catherine Hakim, ibu Jazmeen Indira Arkani dan Galadriel Kenez Syahin ini boleh dibilang memenuhi enamplus satu kriteria yang disampaikan oleh sosiolog Britania tersebut. Pasalnya wajah Deasy awet kayak diformalin, badannya seakan kekurangan lemak, serta lidahnya ketika bicara seperti Gareth Bale menjebol gawang Barcelona saat final Copa Del Rey musim 2013/2014.

Secara pribadi, dampak Deasy paling kentara buat saya diperoleh melalui keteladanan ketika memandu acara secara live. Deasy punya kelihaian memainkan keadaan seperti Alex Ferguson kalau sudah injury time setiap klub itu sedang ringsek. Kelihaian itu kian apik dengan ketenangan yang dimiliki seperti Arsene Wenger ketika mendampingi Arsenal di pinggir lapangan.


Selama 16 tahun menyaksikannya, baik melalui televisi, searching di YouTube, sampai stalking Instagram, terdapat satu keajegan dari Deasy yang mungkin paling mudah disepakati seluruh umat, baik penggemar BLACKPINK atau bukan. 

Satu keajegan itu ialah bentuk dan berat badan Deasy. Seolah-olah bentuk badannya Deasy dapat dirumuskan sebagai persamaan linear dengan berat konstan, yang berlaku di setiap ruang pada semua waktu. Apasih.

Setelah ditodong terkait bentuk dan berat badan, Deasy mengakui bahwa dirinya termasuk manusia yang tekun berolahraga. Perempuan yang suka warna hitam ini sangat menyukai kutipan, “If you want to start, to do sport or hit to the gym. Start NOW!” Buatnya, untuk memulai sesuatu yang baik, “Jangan ada kata nanti.”

Lalu bagaimana proses yang dialami oleh Deasy hingga jangan ada kata nanti untuk merawat bentuk dan berat badan dengan cara rutin berolahraga? Berikut ini rekaman obrolan yang insya Allah enggak melebar dan melubar kayak intro yang saya sampaikan.

Apa pencetus mbak Deasy menjadi fit mom dan rajin berolahraga?

Kalau rencana mau olahraga itu, sudah ada dari 2012. Tapi baru sebatas wacana. Sementara itu, dari dulu suami saya sudah rutin olahraga. Mulai dari nge-gym, pilates, dan renang . Saya waktu itu baru sebatas ikut-ikutan saja. Nah, pada akhirnya. 

Saya melihat ini sebenarnya, entah pujian atau cobaan. Orang-orang di sekeliling saya selalu bilang. “Anak dua, tapi badannya langsing. Nggak perlu repot diet dan segala macam.” 

Hanya saja menurut saya waktu itu, saya memang sempat mengatur pola makan untuk alasan kesehatan bayi, dan hal itu saya teruskan. Sehingga mungkin, hal itu yang menyebabkan badan saya, segini-gini saja. 

Tapi semakin ke sini, makin banyak orang yang bicara seperti itu. Jadi saya pikir, gue nggak olahraga saja bersyukur punya bentuk badan seperti ini. Dan orang-orang di sekeliling saya, juga mengamini hal itu. Tanggung! Lebih baik saya beneran olahraga. 

Nah, tujuannya bukan hanya langsing, tapi juga sehat. Hanya saja pemikiran itu, tidak seiring sejalan dengan pemilihan jenis olahraganya apa. Berenang hanya sesekali, sepeda nggak kuat, lari males. Sampai akhirnya melihat pound fit. 

Yang membuat saya tertarik menggeluti pound fit, pada saat melihat videonya, itu lagu-lagunya yang saya tahu. Ada lagu rock, dan late 90. Olahraga ini menurut saya keren, bukan yang cewek banget, terus juga bukannya yang combat banget, dan pakai medianya si stick itu. 

Penasaran, langsung saya cari tahu lebih dalam. Pas saya lihat di Instagram, lihat-lihat pelatihnya ada teman saya juga. Saya tanya deh, olahraga di mana, kapan, dan mau gabung. 

Nah, dari situ, pound fit itu yang paling cocok dengan saya. Sangat visual, auditori, dan kinestetik. Semua rangsangannya dapat. Dari yang awalnya latihan seminggu sekali, dua kali. Dan hampir semua instruktur saya ikuti.

Sampai sekarang frekuensi olahraga mbak Deasy berapa kali sepekan?

Sekarang saya itu ngajar, seminggu bisa 10 kelas, itu karena ada permintaan dan menggantikan teman. Tapi itu nggak selalu. Kalau jadwal rutin saya, hanya 6-7 kelas.

Nah, itu mbak Deasy bisa diminta ngajar bagaimana ceritanya?

Jadi sebenarnya karena, kalau melihat postur aku tahunya langsing dan kurus. Cuma saya merasa, harusnya saya bisa lebih fit kelihatannya. Bukan hanya langsing. Dan soal postur idealnya bisa lebih benar. 

Dan terbukti, pas rajin pound fit, suami saya bilang, postur saya jadi lebih tegak, bahu nggak turun, nggak bungkuk. Terus saya juga nggak gampang capek. Pada akhirnya mau jadi instruktur, ya sekalian ya. Kalau saya hanya olahraga saja, pasti ketemu malas. 

Cuma kalau saya punya sertifikasi mengajar, saya punya tanggung jawab banyak. Ya, ke ijazah yang saya punya, ke guru trainer kita, terus ke peserta yang ikut kelas kita juga. Jadi saya pikir, saya harus punya sesuatu yang membuat saya bertanggung jawab.

Manfaat olahraga selain membentuk tubuh yang estetik, lainnya apa mbak?


Kalau dulu orang-orang sering bilang, olahraga bikin kulit glowing. Saya masih mikir, kalau artis-artis iyalah, kan perawatannya juga kencang. 

Dan ternyata ini juga terbukti di saya, saya tidak menjalani olahraga lain, hanya pound saja. Tapi otot bisa kebentuk. Terus kulit aku lebih segar. Dan saya tidak perawatan dokter, ternyata apa yang dibilang orang-orang saya alami sendiri. 

Selain itu, stamina pas main sama anak, dan mood jauh lebih baik. Jadi dua anak saya, punya karakter yang berbeda. Yang pertama, model yang apa-apa harus pada tempatnya, kaku. Sayanya juga ikutan harus rapi. Kalau nggak nanti takut diprotes. 

Anak saya yang kedua, lebih kinestetik, manjat, dan guling-gulingan. Nah, dengan saya olahraga, tenaga dan energi saya lebih baik, sebelumnya mudah capek. Nge-MC berdiri 3-4 jam sampai rumah sudah capek mau main sama anak. 

Nah, kalau sekarang masih ada energi pas nyampe rumah, untuk melakukan beberapa kegiatan. Dan pelan-pelan anak mulai mengerti profesi ibunya sekarang yang juga ngajar. 

Mereka sering melihat saya latihan sebelum ngajar. Either mereka ikut menirukan gerakan saya di belakang, dan sudah nggak cranky. Di momen ini saya sempat kagum, artinya kalau saya bukan trainer yang sudah bersertifikasi, mungkin saya nggak bisa membawa mentalku seperti ini ke mereka.

Selain olahraga ada nggak pola hidup sehat lainnya yang mbak Deasy berlakukan?

Justru awalnya saya lebih mudah mengatur pola makan, karena dulu pas saat anak pertama saya lahir. Saya mau menyusui eksklusif, ternyata dia alergi cokelat, kacang, telur, seafood, dan susu beserta produk turunannya. Alhasil kuncinya saya harus mengatur jenis makanan yang saya konsumsi. 

Nah, jadi pola makan saya itu sudan terbentuk semenjak lahir anak pertama itu. Tinggal diteruskan saja. 

Dan untuk anak kedua, akhirnya saya sudah mempersiapkan diri untuk kehamilan sehat. Dan memang terbukti, anak pertama lahir Caesar, lebih rentan kena risiko alergi, dan anak kedua saya ini, normal. Jadinya saya bisa makan dengan bebas. 

Tapi ini justru membuat saya berpikir. Kalau saya makan bebas, dan akhirnya tubuh ini nggak sehat lagi. Nah, akhirnya saya memperdalam lagi, bukan hanya jenis makanan, tapi bagaimana memproses makanannya itu. 

Saya belajar dengan nutrisionist Wied Harry Apriadji. Hal itu terbawa sampai sekarang. Yang saya atur bukan porsinya. Yang pertama jenis makanannya, kedua proses memasaknya.

Ada nggak sih mbak, hal yang membuat kamu malas olahraga?

Mulainya sebenarnya. Kadang, misalnya nggak ada jadwal ngajar. Itu suka malas. Yang paling bikin malas sebetulnya, enaknya leyeh-leyeh sama anak di rumah, ya. Apalagi pas cuacanya mendukung. Triknya, saya harus pasang target. Jadi minggu ini misalnya, saya ngajar. 

Kalau klien baru, lebih banyak penjelasan. Tantangan justru ada mengajar klien-klien lama, ya. Jangan sampai saya menggunakan lagu yang sama berulang kali. Harus cari lagi dan gerakan lainnya.

Favorit gear untuk olahraga ada nggak, mbak?

Saya itu lebih suka hanya pakai sport bra pas ngajar. Soalnya kalau pakai kaos, keringat kita suka lengket di badan. Andalan berikutnya, yang agak aneh menurut saya, adalah karet! Hahaha. 

Saya biasanya kuncir poni rambut ke atas pas ngajar, karena meski rambut saya pendek, kalau rambut sudah kuyup, tetap saja bagian poni suka ganggu. Jadi bentuk kuncirannya seperti air mancur, hahaha. Kalau dilihat, jadi seperti memperburuk penampilan. Tapi itu membuat gerakan saya lebih leluasa, dan nyaman ngajarnya. Nggak sedikit-sedikit benerin poni.

Tempat favorit olahraga di mana saja?

Saya biasa olahraga di SIKU Dharmawangsa.


Kenapa suka di sana?

Karena di sana, ada café-nya, jadi bisa on stop solution. Dan yang penting tempat mandinya bagus. Di sana disediakan handuk juga. SIKU studionya memang nggak besar, tapi fasilitasnya nyaman.

Ada quote favoritkah, berhubungan dengan olahraga?

Lebih ke nasihat untuk diri sendiri kayaknya, ya. Yang sebenarnya harus aku ubah semenjak bertahun-tahun lalu. “If you want start , to do sport or hit to the gym. Start NOW.” 

Nggak ada tuh istilah, “Nanti deh habis lahiran anak pertama,” “Habis tahun ajaran baru,” dan nanti-nanti lainnya. Artinya, kalau sudah punya niat langsung saja lakukan. Yang penting mulai dulu.

Supaya memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, apa nih motivasi yang bisa mbak Deasy sampaikan?

Yang saya rasakan dan nyata. Kalau kita rutin olahraga, energi kita ke anak itu jelas berbeda. Seperti punya booster mood kita juga beda. Dan nggak jadi orang yang emosional.

Mbak Deasy kan punya wajah cantik, ada nggak tips make up untuk perempuan yang bekerja di luar rumah?

Yang terpenting untuk para wanita adalah menggunakan pelembab sebelum melakukan aktivitas. Setelah pelembab jangan lupa menggunakan sunblock agar wajah terlindungi dari paparan sinar matahari langsung. 

Setelah menggunakan foundation dengan warna yang sesuai dengan kulit wajah, jangan lupa menggunakan alis, eyeshadow dengan warna-warna seperti coklat, eyeliner dan lipstik. penggunaan warna yang kalem seperti eyeshadow dan lipstik menjadi pilihan yang tepat agar penampilan terlihat lebih natural dan segar dalam setiap penampilan.

Dari rekaman obrolan yang ternyata melebar ke soal wajah cantik itu, dapat dikayakan bahwa olahraga punya manfaat selain dari sisi kesehatan dan keindahan, tapi juga ketenangan terutama dalam mengasuh anak-anak. Tips bagus untuk orang yang biasa mengajar anak-anak mbandel, kayak saya.

Artikel Terkait