Pertama, saya akan membuat sebuah pengakuan. Katakanlah pada paragraf pembuka ini, saya, mewakili seluruh kreator yang ada di Indonesia, mewakili tokoh publik yang ada di Indonesia, mengucapkan terima kasih dan menjadikan awalan dari tulisan saya ini sebagai wujud apresiasi kepada warganet yang “Mahakritis”, sehingga masyarakat Indonesia terhindar dari image “zonk of knowledge” dalam hal-hal tertentu, terlebih hal itu bersifat publikatif.

Warganet, saya adalah seorang Muslim, dan berlatar belakang arsitektur. Dalam dunia arsitektur, sayangnya kami tidak punya “warganet”.

Menginjak tahun kedua bangku perkuliahan, seorang dosen, yang juga merupakan dosen idola saya, berkali-kali menegaskan, “Dalam dunia arsitektur itu tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah! Semua bergantung pada ‘konsep’; apabila konsep atau dasar sebuah rancangan itu kuat, maka itu akan menjadi betul.” (Ratna Amanati, 2016)

Sekarang saya bekerja di salah satu kantor konsultan swasta yang berlokasi di Pekanbaru-Riau. Baru-baru ini, saya mendapatkan sebuah proyek mendesain rancang bangunan gereja. Tentu saja, untuk sebagian pihak, yang saya lakukan ini merupakan sesuatu hal yang “bertentangan” sedang saya berstatuskan seorang Muslim.

Tetapi, warganet, entah kenapa, sisi lainnya pada diri saya seketika meronta-ronta, bahwa saya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap dunia arsitektur, dan begitu juga dengan pencapaian saya sebagai seorang arsitek”

Saat memutuskan untuk menjadi mahasiswa Teknik Arsitektur di kampus negeri terbaik pertama di Provinsi Riau, angan saya tidak hanya sebatas ingin menjadi Arsitek Wanita Pekanbaru (di mana mayoritas masyarakatnya memang beragama Islam) semata, melainkan menjadi Arsitek Wanita Kelas Dunia.

Itu artinya, kendati saya menapaki negara-negara di mana mayoritas masyarakatnya bukanlah penganut agama Islam, apakah saya harus menolak proyek rancang bangunan untuk rumah ibadah tertentu juga?

Sungguh warganet, konsep yang saya terapkan pada rancang bangunan gereja tersebut sesuai dengan hukum-hukum rumah ibadah, terkhususnya gereja di mana konsep yang saya terapkan  itu adalah “Keagungan Tuhan” dengan pendekatan “Arsitektur Klasik”.

Sedang untuk pengaplikasiannya, selain mendominasi bangunan tersebut dengan mega-mega pilar yang saya beri sentuhan warna gold, juga material kaca yang menambah kesan mewah, berikut penggunaan plafon yang tinggi berselimut ornamen dan ukiran-ukiran berisi pujian untuk Tuhan.

Serta, penataan interior seperti adanya podium dengan 10 buah anak tangga atau setinggi 1,5 m yang juga terdapat mega pilar di sana, guna memperkuat kesan “meng-agungkan Tuhan” serta penggunaan lampu kristal dengan poros berbentuk bola besar, lalu terdapat bola-bola kecil sebagai wujud “berkah” Tuhan kepada hambanya.

Dari arah belakang patung Yesus, saya juga menambahkan 19 buah pilar tinggi namun lebih halus, posisi di mana pilar tersebut lebih tinggi dari masyarakat dan lebih rendah daripada patung Yesus. Hal ini saya jadikan sebagai pengingat, atau suatu alarm kepada umat Kristiani bahwa 19 pilar tersebut adalah wabah Covid-19 yang saat ini sedang merajai hampir seluruh negara yang ada di dunia, namun tidak perlu khawatir karena Tuhan pasti akan melindungi hambanya.

Hal itu jugalah yang menjadi alasan kenapa 19 pilar itu saya posisikan di belakang patung Yesus, seolah Tuhan berada di antara wabah dan hambanya dan masih banyak yang lainnya. Kemudian, saya juga memperhatikan hal-hal apa saja yang menjadi sakral di dalam suatu rumah ibadah. Lalu apakah ini akan menjadi betul jika saya kembalikan pada cuitan dosen idola saya sebelumnya?

Saya menyelesaikan proyek ini dalam keadaan sadar, dan memahami makna dari rancang bangunan gereja yang saya kerjakan tersebut. Serta ini akan terdengar sedikit tegas, namun pada kenyataannya, sebagai seorang arsitek, tentu saya ingin menguasai dan mampu menyelesaikan segala jenis rancang bangunan ataupun kawasan yang ada, tanpa pandang Ca-Ci-Cu, dan di sini pun, saya sama sekali tidak mengonsentrasikan diri saya kepada satu jenis aliran arsitektur seperti “Arsitektur Klasik” saja, atau “Arsitektur Islami” saja, atau “Arsitektur Futuristik” saja, serta aliran lainnya dalam dunia arsitektur.

Tapi sepertinya proyek ini cukup menyita waktu saya, lantaran baru sekarang saya menyadari bahwa telah terjadi suatu penghujatan, suatu pembulian, terhadap salah satu grup band Indonesia, yaitu Sabyan, atas peng-cover-an mereka terhadap lagu yang berjudul “Ya Tabtab Wadalla” dan dilantunkan oleh Nancy Ajram, perempuan berkebangsaan Lebanon yang juga merupakan pemeluk agama Kristen Ortodoks. Lagu itu pula yang kemudian mereka bawakan pada sebuah acara yang berjudul “Syair Ramadhan” di GTV Official.

Barangkali, sama halnya seperti saya, sebagai penyanyi, sebagai suatu grup band, Sabyan tentu juga ingin menguasai dan mampu menyanyikan segala jenis aliran musik. Hanya saja, grup band ini telah mengonsentrasikan diri mereka ke dalam aliran musik gambus. 

Sehingga menjadi astral jika mereka menyanyikan lagu yang lainnya, terlebih lagu tersebut dianggap jauh dari aliran musik gambus yang identik dengan ajaran Islam itu sendiri.

Dan keteledoran mereka, membawakan lagu tersebut pada acara “Syair Ramadhan” dimana setelah saya telusuri, bahwa lagu yang berjudul “Ya Tabtab Wadalla” ini, memiliki makna,

Ya tabtab wa dalla
Haruskan ku elus / ku tepuk dan memanjakannya?

Yay ollanat ghayaret ‘aleih
Maukah dia berkata “Aku telah berubah”

Anazhal awalah
Aku kesal, aku geram

Mah kullihamu zayardi
Yang ia pedulikan hanyalah kesenangannya sendiri

Oululu tana bardu sa’at fe halal
Pergi dan berkata “Aku tak selalu ceria”

Wa raza ‘al marrat belu eyni
Kadang aku marah, dan kadang aku merelakan mata ku untuk mu

Men fini ala halokol el aw ‘at?
Siapa yang bisa tahan dengan kondisi seperti ini.

Beta’ebni awi tallah ‘eyni
Semua ini buat ku muak dan kesal

Kurang lebih seperti itu. Ditambah lagi, beberapa clip dari lagu tersebut ditampilkan dalam wujud wanita-wanita berpakaian seksi yang sedang menari perut. Lagi-lagi di sini saya dibuat terkesan oleh warganet yang benar-benar jeli dalam meng-up peristiwa ini hingga sedetail-detailnya.

Saya rasa pun sekarang ini grup Sabyan berada di posisi yang serbasalah, wahai warganet. Jika tetap bersikeras dan mempertahankan kredibilitas mereka bahwa aksi mereka itu adalah sesuatu hal yang wajar, maka grup Sabyan untuk seterusnya akan ditandai sebagai "penggeser aliran" atau "penggiring aliran" yang dengan sengaja membenarkan sesuatu hal yang jelas-jelas itu tidak pada tempatnya (saya pun tidak mengatakan bahwa ini salah).

Kemudian, jika mereka mengakui kesalahan mereka, dan meminta maaf secara cuma-cuma seperti yang dilakukan oleh tokoh publik kebanyakan, itu justru malah memunculkan image “zonk of knowledge” dari grup itu sendiri.

“Makanya, jangan asal cover.”

“Makanya, kalau nggak tau artinya, jangan asal nyanyi-nyanyiin doang!”

“Dikata lagu bahasa Arab semuanya adalah lagu Islami?”

Saya rasa akan seperti itu. Sedang dari diri saya pribadi, apa pun yang melatarbelakangi keteledoran tersebut, atau peristiwa tersebut, sebaiknya kita mengucapkan terima kasih kepada warganet yang sudah berjuang untuk menyampaikan unek-unek mereka ke publik dan bahkan sampai kepada grup band idola mereka itu sendiri.

Good job, warganet! (Applause)