Seorang teman akrab meminta saya menjahitkannya beberapa potong gamis plus kerudungnya. Model yang diinginkannya biasa saja, simpel tanpa banyak rempel.

Biasanya orderan seperti itu saya ambil tanpa banyak pikir. Tapi orderan kali ini memaksa saya pikir-pikir dulu. Soalnya teman saya itu seorang pria -anggap saja namanya Limin- dan gamis yang diordernya mau dia pakai sendiri. Duuhh!

Saya berteman dengan Limin sudah lama sekali, belasan tahun. Dia pria dengan gestur yang gemulai, cara bertuturnya juga. Tapi selama ini pakaiannya biasa saja, maksud saya sama saja dengan para pria lain. Kemeja atau t-shirt dengan celana. Kadang-kadang memang dia memakai aksesori yang agak feminin semacam bros, giwang, atau tas dan sepatu yang ada bling-blingnya.

Katanya, gamisnya mau dipakai ke pengajian komunitasnya. You knowlaaah, komunitas transgender. Di tengah resistensi masyarakat luas, komunitas-komunitas seperti ini ternyata lumayan eksis juga di kota saya. Hanya saja memang kebanyakan sifatnya sangat tertutup, bergerak dalam senyap.

Di masa pandemi Covid-19 ini, mereka banyak melakukan konsolidasi juga. Samalah seperti komunitas lain, ramai ngobrol di grup-grup percakapan terbatas semacam WA atau Telegram maupun Zoom. Pengajian yang dimaksud Limin itu pengajian melalui aplikasi Zoom.

“Memang harus pakai gamis syar’i, kah, Cyin? Kalau di Zoom, kan, percuma juga gamisnya cantik-cantik, yang keliatan, kan, cuma muka! “

“Tidak harus, Kak. Tapi itu anak-anak rata-rata pakai gamis, pamer-pamer di WA, masa saya plain begini saja!” Lalu mengalirlah ceritanya tentang gamis yang dipakai temannya; Winona, Vanessa, dan Kajol. Semua tampak menawan dan anggun di matanya. Dia menginginkannya.

***

Sebenarnya saya merasa sedikit khawatir menjahitkan gamis dan kerudung buat Limin.

Pertama, agama yang saya dan Limin anut melarang pria menyerupai wanita, maupun sebaliknya. Menyerupai dalam hal berpakaian termasuk salah satunya. Jika saya menjahitkannya, berarti saya memfasilitasinya melakukan perbuatan terlarang. Dosa! Aduh, takut ah.

Kedua, saya kenal baik juga dengan ibunda Limin. Saya juga tahu kegalauan beliau perihal anak laki-laki bungsunya itu. Inginnya tentu anaknya normal. “Tapi mau bagaimana lagi, adonannya sudah begitu. Yang penting dia tidak pakai rok dan gincu saja. Kalau melanggar, terpaksa coret dari KK!” begitu kira-kira ultimatum beliau. Bahaya, kan?

Nah, kalau saya ketahuan menjahit rok buat anaknya, ada kemungkinan saya kena damprat juga. Kalau saya kena damprat, reputasi saya bisa ternoda. Idih, ngeri.

Ketiga, saya khawatir, setelah sukses mengenakan gamis di pengajian komunitas, Limin tergoda memakainya keluar. Hadeuh.

Masyarakat di lingkungan kami ini konservatif. Dan makin konservatif belakangan ini. Dengan pakaiannya yang tidak secara ekstrem menyimpang dari kenormalan saja, hujatan dan cemoohan sering mampir menyapa Limin. Bisa gawat darurat kalau dia nekat melambai sok manis di jalan kampung, dengan gamis dan kerudung.

Secara umum, saya paham bahwa perkara berpakaian adalah perkara kebebasan individual. Tapi ini juga perkara konstruksi sosial kultural yang terbangun seiring dengan berjalannya peradaban. Tidak bisa juga ditabrak atau dijungkir-balikkan sesuka hati kita saja. Gesekan sosial dan konflik horizontal sangat mungkin terjadi karenanya.

Di Indonesia, busana muslimah dengan seluruh printilannya, selain terus berkembang sebagai trend berbusana, juga terkonstruksi sebagai identitas agama dan ekspresi kesalehan. Perjalanannya panjang dan tidak lepas dari beragam polemik.

Di masa Orde Baru, busana muslimah pernah dilarang untuk dipakai di institusi-institusi pendidikan. Rezim menganggapnya sebagai simbol politis atau ideologis yang berpotensi mengancam stabilitas politik. Ini sehubungan dengan euforia revolusi di Iran dan fundamentalisme Islam yang masuk dari Mesir. Jilbaber masa itu direpresi. Perjuangannya cukup keras untuk mendapatkan kebebasan.

Selepas Orba, polemik tidak selesai. Jika sebelumnya berlawanan dengan rezim, kemudian polemiknya terus berkembang di antara kelompok-kelompok masyarakat sendiri. Macam-macamlah masalahnya. Mulai dari persoalan motivasi, terminologi, sampai soal model dan ukuran. Ribet dah pokoknya.

Belum lagi kalau bicara polemik sehubungan dengan politik identitas dan politisasi agama yang praktiknya makin semarak belakangan ini. Atau sehubungan dengan isu-isu progresif semisal isu kapitalisme atau isu gender. Hmmm, bisa muntah-muntah kita membahasnya.

Nah, daripada Limin dan teman-temannya ikut nyemplung dalam polemik-polemik tiada akhir  itu, dan bisa dipastikan menjadi pihak yang terpojok bahkan terluka, mending cari aman saja. Tidak usahlah ikut-ikutan bergamis syar’i. Jangan  jadi seperti laron yang terbang mendekati api unggun.

“Whoaa apa-apaan! Anda ini kontra kebebasan berekspresi dan anti-demokrasi!”. “Anda ini pasti tidak paham perkara identitas gender! Sana, perbanyak baca buku bermutu!”. “Kamu kok gitu, fundamentalis, konservatif!” Mungkin akan begitu gerutuan terlontar untuk saya dari para aktivis progresif, misalnya.

Mungkin gerutuan itu benar adanya. Tapi saya ini bermaksud menawarkan solusi praktis, supaya kebebasan mengekspresikan identitas gender bisa berjalan dengan damai tanpa menimbulkan gesekan sosial.

Bukan solusi dari saya sih. Saya sekadar mengingatkan saja. Hehe.

Sepenglihatan saya, Limin dan teman-teman transgender yang kepingin berbusana muslimah sebenarnya ingin ikut dalam arus utama trend busana muslimah. Alih-alih ikut arus, kenapa tidak membuat arus sendiri? Bukankah para perancang busana kelas dunia sudah bekerja keras sejak era 1970-an untuk menghadirkan konsep busana yang menerjang batasan gender? Manfaatkan saja.

Merek-merek terkenal seperti Haute Couture, Rad Hourani, Zara, Gucci, dan banyak lagi sudah sejak lama merintis dan menawarkan konsep busana unisex. Itu konsep busana yang sangat fleksibel karena meniadakan dikotomi busana berdasarkan jenis kelamin. Aman dan klop untuk semua gender.

Konsep busana unisex menurut saya adalah adalah kompromi yang akan menguntungkan semua pihak. Penjahit seperti saya tidak perlu cemas. Ibundanya Limin tidak perlu mencoret anaknya dari KK. Dan teman-teman transgender aman dari tuduhan melecehkan identitas muslimah

Lebih dari itu, konstruksi sosial budaya baru dalam perkara busana akan terbangun, melengkapi konstruksi yang sudah ada. Itu bagus untuk ekonomi, iya gak sih?

Jadi, sudahlah, Limin. Tinggalkan gamis syar’i, hijrahlah ke busana unisex. Saya jamin, itu lebih bisa diterima masyarakat luas. Jangan buang-buang energi menghadapi kontroversi soal pakaian. Mending energinya dipakai untuk menghadapi kontroversi soal isu-isu yang lebih besar.

Isu persekusi dan diskriminasi sosial terhadap transgender, misalnya. Atau mungkin isu legalisasi pernikahan sejenis? Eh. Aduh. Kabuuur!!