Pesatnya arus teknologi yang kian menjamur, bak banjir bandang yang mau tidak mau kita terseret oleh derasnya air. Dahulu, kalau seseorang ingin membeli sebuah buku, ia harus mengayun pedalnya, memencet starternya, atau jalan kaki menyusuri berbagai halangan dan rintangan yang menghadang.

Sekarang, kita bisa membeli buku secara online. Cukup ambil Hp, pastikan punya kuota internet, buka aplikasi, pilih buku sesuai selera, tinggal klik-klik, jadi. Langsung sampai? Emang di surga? Menunggu dulu. Minimal sehari baru datang ke pangkuan.

Para pelapak buku saya akui sangat lihai dalam mempromosikan dagangannya. Terutama jika bisnisnya menggunakan aplikasi Instagram.

Laporan dari Tempo (05-05-2019) yang mewawancarai seorang bernama Wido mengatakan, bahwa meskipun umur Instagram masih 8 tahun, yang terbilang cukup belia, pengguna aktif per bulan secara global berjumlah 1 miliar. Selain itu, Instagram juga memiliki 25 juta profil bisnis dan 2 juta pengiklan secara global.

Dalam hal ini, secara tidak langsung Instagram merupakan salah satu media sebagai ajang pertempuran bisnis. Apa yang dikompetisikan? Dalam pengamatan saya, pertarungan bisnis melalui media sosial, termasuk Instagram, digantungkan oleh seorang content creator. Ia mengambil kendali untuk menarik hati konsumen melalui pembuatan konten yang unique.

Biasanya, untuk menarik hati konsumen, para pelapak buku sering membuat konten bermuatan self-reminder dari ilmuwan tersohor yang dikutip di dalam buku yang mereka jual. Misalnya nih, buku Tekstualitas Alquran karya Nasr Hamid Abu Zaid. Oleh si admin dikutiplah salah satu ungkapannya;

“Pembaruan yang dilandasi dasar ideologis, tanpa bertumpu pada kesadaran ilmiah terhadap tradisi, tidak kalah bahayanya dari sikap taklid” (2016: 11).

Atau kutipan Karl Marx dalam buku Filsafat untuk Para Profesional (2016: 105):

“Agama adalah keluh kesah makhluk yang tertekan, perasaan dari dunia yang tak berhati, sebagaimana dunia itu sendiri merupakan roh dari pelbagai keadaan tanpa roh.”

Atau kutipan Hairus Salim HS dalam buku Tuhan yang Tersembunyi: Renungan dari Balik Aksara (2019: vii):

“Karya sastra memperlihatkan dengan jitu paradoks agama.”

Saya akui, membuat kutipan menarik dari suatu buku itu susah-susah gampang. Tidak jarang saya melihat akun pelapak buku di Instagram yang mengutip kata-kata seseorang tidak menarik sama sekali.

Mungkin hal ini bisa dikarenakan horizon penafsir yang berbeda-beda. Bagi saya, kata-kata yang saya kutip di atas cukup menarik, namun saya meyakini, belum tentu menarik bagi orang lain.

Untuk menghindari larinya konsumen, para content creator akan membuat design gambar semenarik mungkin. Dibumbui dengan caption yang khas dari si admin. Kadang konyol, naif, ideologis, dan lain-lain.

Apabila langkah di atas terbilang sukses, biasanya para admin akan mempertahankan reputasinya dengan cara bersedekah. Bahasa Inggrisnya, give away. Menurut teman saya yang kebetulan jadi pelapak buku, ini adalah bagian dari strategi markesot, eh, marketing.

Untuk mendapatkan buku gratis dari pelapak buku terdapat syarat-syarat yang bermacam-macam. Yang pasti dan yang wajib, diharuskan memfollow akun yang mengadakan give away. Syarat lainnya, biasanya disuruh memberikan jawaban dari pertanyaan admin, memberikan pernyataan tertentu, dan disuruh nge-tag teman-teman pribadi.

Itu bagi saya mudah. Tidak perlu dipikirkan dengan mengerutkan dahi dan pake kacamata Conan. Biasanya komentar paling unik dan yang kebetulan dapat keberuntungan saja yang akan mendapatkannya. Pun yang mengikuti give away macam ini cukup banyak, bahkan membludak ribuan komentar. Tergantung sebesar apa hadiah bukunya.

Namun ada pula syarat give away yang cukup memeras otak, yakni meresensi bacaan buku. Saya pernah beberapa kali mengikuti give away macam ini, namun ironisnya hanya sedikit peminatnya. Biasanya tidak lebih dari 10 orang. Bahkan saya pernah menemui hanya 3 orang.

Acara give away semacam itu memang tidak salah. Dalam kajian etika, fenomena semacam ini tidak terlepas dari istilah bebas nilai dan sarat nilai. Maksud daripada bebas nilai adalah mereka bebas menyebarkan informasi, terlepas itu baik dan buruk atau benar dan salah. Hal tersebut dipasrahkan kepada pembaca.

Sama seperti give away. Bagi Admin yang menerapkan teori ini, mereka bodo amat sama netizen, seng penting podo-podo happy.

Sedangkan yang sarat nilai, mereka akan meng-counter informasi tersebut dengan tetap memperhatikan etika-etika yang berlaku sesuai sasaran publik. Kalau ini saya kira perlu digaungkan bagi pelapak buku. Mengapa? Biar strategi marketingnya berkelas.

Kuasa Teknologi dan Sampah Informasi

Informasi yang berkeliaran secara bebas, kalau nggak difilter, akan menumpuk busuk dalam pikiran. Imbasnya, bikin orang mudah depresi, stres, dan kecanduan dengan hal-hal yang tidak ada faedahnya sama sekali. Saya tidak memiliki data konkret mengenai hal ini. Tapi argumen ini bisa dinalar secara logis.

Sudah bukan zamannya, orang di era kekinian tidak memiliki genggaman alat teknologi. Berbagai ciptaan dari teknologi terlihat jelas memuat unsur yang sarat akan ilmu pengetahuan. Dan meminjam perkataan Foucoult, di dalam ilmu pengetahuan sudah pasti terdapat unsur kuasa.

Tidak ada ilmu pengetahuan yang bersifat natural, dibalik itu terselubung relasi kuasa yang terjaring dalam kendali user teknologi. Kehadiran teknologi yang kian pesat itu digenjot oleh otot raksasa kapitalis dari kaum Borjuasi yang dalam visinya menjadikan manusia sebagai boneka.

Faktanya, manusia banyak tergoda dengan jaringan-jaringan ini. Seperti dininabobokkan oleh tawaran-tawaran iklan yang menggiurkan.

Sudah barang tentu kehadiran banyak iklan yang tersebar di berbagai media massa bisa menggantung dalam pikiran kita. Atau bahkan mungkin, karena tidak mampu membeli keinginan yang ditawarkan iklan itu, tertumpuk di dalam alam bawah sadar. Hingga menimbun. Bahkan bisa jadi membusuk.

Hal ini yang biasa menjadi kendala manusia menjadi kurang bisa berpikir jernih. Mempunyai genggaman alat teknologi bukan malah semakin pintar, namun sebaliknya, kurang bisa berpikir jernih, malas berpikir, hingga berujung depresi, stress, dan lain-lain.

Oleh karenanya, memiliki mental yang kokoh sangat diperlukan di jaman yang edan ini. Filter di dalam otak perlu diperbanyak. Khususnya bagi pecinta buku, saya yakin mereka punya pondasi dalam menampung racun-racun informasi. Namun sangat disayangkan jika mereka tidak ikut berkontribusi melawan kegoblokan di era ini. Caranya? Menulis.

Saya semakin sadar, bahwa antara membaca dan menulis, terpaut jauh jaraknya. Ketika membaca sebuah buku atau informasi, pikiran terasa bisa menangkap segalanya. Namun ketika menulis sesuatu, pikiran terasa melayang dan kesulitan menangkap segalanya.

Saya cukup apresiatif dengan tulisan orang-orang yang masuk dalam suatu media, seperti halnya di Qureta ini yang memiliki visi dan misi memberantas kegoblokan.