Kebaikan tidak terjadi begitu saja. Ada sebuah proses yang menjadi awal mula pengalaman tersebut. Mulai dari ketidaktahuan, adaptasi, sampai menjadi tahu dan bergegas menjadi lebih baik.

Bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadan, Kurio sebagai aplikasi pengumpul informasi yang berisi konten-konten beragam pilihan, mencoba membantu para penggunanya untuk menemukan inspirasi-inspirasi kebaikan yang ada.

Topik yang sedang hangat dibicarakan adalah Parenting. Isu Parenting di dunia digital saat ini banyak mendapat sorotan karena perbedaan-perbedaan dalam pola asuh dalam keseharian. Makin tingginya penggunaan media sosial, tak ayal topik ini heboh menjadi perdebatan sendiri.

Salah satu cara untuk menengahinya adalah dengan edukasi yang cukup melalui informasi-informasi mendalam dari sumber yang kredibel.

Beberapa waktu lalu kita pernah mendengar berita tentang seorang ibu yang nekat membunuh anak-anaknya di sebuah rumah kontrakan. Saat dikonfirmasi, sang ibu disebut sangat menyesal dan suami yang jarang pulang menjadi faktor utama kenapa si ibu memutuskan untuk menyudahi hidup anak-anaknya yang masih balita. 

Dari segi psikologi, hal ini bisa masuk ke dalam konteks baby blues, dan fase yang lebih parahnya lagi postpartum depression, kondisi di mana seorang ibu, biasanya, pasca melahirkan, tidak mendapat dukungan yang sebetulnya mereka butuhkan. Tidak menyampingkan fakta bahwa tindakan membunuh memang salah.

Akar masalah yang ditemukan, sang ibu butuh didengar, tidak di-judge, dan mendapat dukungan dan bantuan. Tapi bagaimana dengan lingkungan sosial saat ini yang seringkali justru asal main tuduh? Maka, kita perlu tahu, hal-hal apa yang sebaiknya tidak kita katakan (jika memang tidak ada dasar penelitian ilmiahnya) kepada para orang tua? 

Dengan #UpdateTerusKebaikan ke sesama, ke depannya diharapkan tak ada lagi ditemukan kasus serupa yang membahayakan keselamatan orang lain. So, you better know these rules…

Lahiran Normal atau Bedah Sesar?

Sah-sah saja bertanya tindakan persalinan yang dilakukan kepada seorang ibu yang baru melahirkan. Namun cap/ labelling bahwa persalinan normal adalah segala-galanya dan bedah sesar merupakan hal yang buruk, ini hal yang sangat keliru. Ibu mana yang tidak ingin melahirkan secara natural? 

Namun jika semua cara sudah dilakukan namun kondisi tubuh atau kandungan tidak memungkinkan, dokter pasti akan menyarankan untuk melakukan bedah sesar demi keselamatan ibu dan bayi. 

Jika memang kita tidak mengetahui 100% alasan di balik tindakan bedah sesar yang dilakukan, alangkah baiknya jika kita tidak perlu memperlakukan atau menyebar omongan-omongan buruk tentang sang ibu kepada orang lain. 

Banyak pengorbanan dari melahirkan anak lewat bedah sesar, mulai dari tak bisa langsung berjalan pasca operasi hingga sakitnya jahitan berlapis-lapis di bagian perut selama berminggu-minggu. Apakah adil jika kita berbicara bahwa predikat “menjadi ibu seutuhnya” hanya bisa didapatkan jika sang ibu melahirkan secara natural saja?

Asi atau Sufor?

Percaya deh, tidak ada ibu di dunia ini yang tidak ingin semua yang terbaik untuk anaknya. Begitu pula dengan pilihan memberi minum asi kepada si kecil. 

Di zaman yang serba modern, semua usaha bisa dilakukan demi memberi anak asi walaupun bekerja. Usahanya seperti pumping, minum booster asi, dan lain-lain. Namun bagaimana jika kondisi medis sang ibu memang tidak memungkinkan sang anak untuk minum asi? 

Atau kondisi mental yang memang sangat mempengaruhi produksi asi? Lagi-lagi, dont judge, apalagi jika kita memang tidak tahu alasan sepenuhnya di balik pemberian susu formula oleh orang tua. Atau pilihlah dengan hati-hati kata-kata yang akan kita lontarkan saat menyampaikan “kamu jangan stres, nanti asi nya makin seret”. 

Tidak semua orang tahu bagaimana cara menangkal stress dalam sekejap atau menjadi bahagia dalam waktu satu hari. Masalah menyusui memang terkenal akan dramanya. Cukup dukung dengan menjadi pendengar yang baik. Jika memang tidak bisa, sarankan kerabat mu untuk mendatangi konselor laktasi atau ahlinya.

Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja?

Sudah tidak perlu diragukan lagi ada berapa banyak mulut yang senang menjelekkan status ibu yang bekerja. Status ibu rumah tangga memang sangat mulia karena para ibu rela berkorban demi selalu mendampingi pertumbuhan anak, hal ini sangat benar. 

Namun bagaimana dengan para ibu yang memilih (atau memang tidak ada pilihan) untuk meninggalkan anak dan bekerja? Di cap tidak sayang anak atau lebih memilih uang, sudah ditelan bulat-bulat. 

Bagaimana jika memang sang ibu terpaksa bekerja karena tak ada jalan lain demi membantu suami menafkahi? Atau demi kelangsungan akademik anak yang baik? Atau demi kenyamanan kehidupan anak-anaknya? 

Setiap ibu pasti memiliki objektif masing-masing. Tak sedikit, ibu yang sudah menghabiskan harinya di perjalanan pulang-pergi ke kantor, lelah bekerja, sampai di rumah tetap harus menenangkan anak yang rewel atau sekedar bermain sambil menemani belajar. 

Ternyata memang alasan-alasan pribadi bukan ranah kita untuk mengurusnya dan tindakan seperti mendukung akan jauh lebih baik untuk para ibu.

Kedangkalan pemikiran hingga timbulnya alasan-alasan negatif dalam pikiran kita sangat berbahaya. Selain tidak terbukti 100% benar, omongan yang keluar dari mulut kita bahkan bisa mengancam kelangsungan hidup orang yang kita gunjing.

Bukankah dengan saling support, hidup terasa semakin damai? Jika sudah tau rules nya, yuk kita #UpdateTerusKebaikan dengan tidak asal berbicara atau menghakimi para orang tua jika kita memang tidak tahu benar alasan di baliknya. 

#UpdateTerus informasi mengenai parenting dalam topik #Parenting di Kurio. Kamu juga bisa #UpdateTerusKebaikan di bulan suci Ramadan dengan mengakses informasi dari berbagai publisher Islami terpercaya di Kurio. 

Selamat menjalankan ibadah puasa!