Privasi atau hal-hal yang sifatnya pribadi adalah milik semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, yang lebih sensitif atas hak-haknya biasanya perempuan.

Perempuan dengan segala keunikannya, sekaligus segudang privasi yang wajib dijaganya. Terkadang laki-laki tidak paham masalah ini.

Mungkin tulisan ini lahir dari salah satu dendam saya terhadap laki-laki yang "lancang" melewati batas-batasnya. Sepele sih, masalah foto selfie.

Jadi ceritanya kami bertukar nomor WhatsApp via Instagram. Itu pun saya memberikan karena laki-laki itu dahulu kakak kelas ketika SMA. Saya tidak berburuk sangka terhadap dia. Sama sekali tidak ada.

Saya berniat baik untuk berteman. Sama sekali tidak ada niat saya untuk lebih dari itu. Dan, saya tidak pernah sembarangan ingin mengenal orang lain jika belum pernah bertatap langsung.

Prinsip itu sah-sah saja. Karena saya sebagai perempuan harus menyayangi dan menghargai diri saya sendiri terlebih dahulu. Upaya tersebut termasuk salah satu proteksi diri untuk menghindari hal-hal yang bisa merugikan perempuan.

Lanjut cerita, percakapan awal-awal masih biasa saja. Sampai pada akhirnya saya merasa dia mulai ingin "menjajah" saya. Saya merasa dia melupakan hak-hak yang menjadi privasi saya.

Dia meminta saya mengirimkan foto selfie. Foto selfie biasa, bukan foto dengan catatan apa-apa. Tetapi, itu rasanya sudah membuat saya tersengat dan mengusik privasi saya.

"Halah, lebay. Cuma foto selfie aja, kok dipermasalahkan," mungkin pikirnya begitu. Itu bukan "cuma", lho. Dan, ketika saya tanya untuk apa, dia jawab, "Untuk dipandang." Perempuan bukan objek visual untuk dinikmati, lho.

Realistis saja, saya bukan bocah ingusan lagi. Hal-hal seperti itu jika di-ladeni akan menjurus pada "penjajahan" yang saya takutkan. Saya tahu, dia berharap lebih.

Lebih parahnya, dia berani bertanya tentang status saya. Untuk apa bertanya-tanya tentang status, jika pada ujungnya dia tidak berharap lebih? Perempuan tidak sebodoh itu, Ferguso!

Bagi saya, komunikasi, ya murni komunikasi. Toh, berteman tidak pandang laki-laki atau perempuan. Tidak mempermasalahkan jenis kelamin. Namun, saat-saat sudah demikian, "alarm" tanda bahaya saya berbunyi.

Dengan adanya tulisan ini, bukan berarti saya membenci orang tersebut. Saya hanya benci "perilaku"-nya. Dengan dia memperlakukan saya seperti itu, sudah cukup mengatakan bahwa dia memandang "perempuan sebagai objek visual untuk memuaskan matanya."

Sedikit-banyak, saya paham gerak-gerik laki-laki yang menyukai perempuan. Ya, saya bukan anak kecil lagi. Untuk menghentikan "bahaya" yang mengancam saya, maka bukan saya caci-maki. Saya tetap menghargainya, hanya saja tidak saya balas lagi pesan-pesannya.

Mungkin perlakuan itu membuat dia berpikir saya sok-sok-an. Lho, justru saya baik. Saya memberikan sinyal supaya dia tidak berharap sama saya. Karena memang saya niat hanya berteman saja.

Yang membuat saya tidak habis pikir, sekilas saya pernah melihat dia mengunggah foto dengan pacarnya (atau sudah mantan). Lalu, dia bermaksud "apa-apa" terhadap saya, saya dianggap sebagai Betadine (penyembuh luka), gitu?

Jangan terlalu sadis, dong, wahai laki-laki. Jika pun mungkin saya juga suka dengan dia, saya tidak akan mungkin menerima. Pertama, dia memperlakukan pacarnya seperti itu. Bukan tidak mungkin akan memperlakukan saya dengan hal yang sama.

Kedua, sudah ada tanda-tanda bahwa saya akan terjajah. Dua alasan sudah cukup menghentikan. Karena saya bertanggung jawab atas kebahagiaan saya sendiri.

Perlakuan seperti itu seakan bercerita kepada saya, "Laki-laki sebenarnya tidak benar-benar membutuhkan 'kamu'. Dia hanya tidak bisa hidup tanpa perempuan. Buktinya, dia mengejar perempuan lain. Bermiliaran perempuan di bumi ini, sedangkan 'kamu' hanya satu."

Idealnya, jika benar-benar menginginkan "kamu" sebagai satu perempuan di hidupnya, dia tidak akan tergoda perempuan lain. Karena "kamu", ya kamu. Hanya satu di bumi ini.

Tetapi, saya selalu percaya. Meskipun perempuan dekat sekali dengan yang namanya "dijajah", asal tidak permisif tidak mungkin akan "terjajah", harus punya filter, dong.

Bukan karena saya belum menemukan laki-laki yang tepat, lantas saya menerima siapa saja laki-laki yang datang saat ini. 

Lucunya, sebagian patriarki pasti menganut paham mati satu tumbuh seribu. Atau, dia merasa memiliki kuasa untuk memilih perempuan. Seperti singa si raja hutan.

Ya tidak bisa seperti itu. Memilih perempuan tidak semudah gonta-ganti pakaian. Perempuan bukan boneka. Perempuan juga punya hati.

Apalagi yang dihargai hanya lewat foto selfie. Perempuan tidak semurahan itu, lho. Pulsa aja dibeli pakai duit, masa perempuan dengan cuma-cuma rela "tunduk" mengirimkannya?

Saya percaya, tidak semua laki-laki memperlakukan perempuan dengan semena-mena. Harapan saya untuk bertemu dan menghabiskan hidup dengan laki-laki baik sangat tinggi. Itu sebabnya filternya harus makin kuat.

Impian itu berupa laki-laki yang memperlakukan perempuan dengan baik dan sopan. Sebab perempuan bukan objek untuk dinikmati. Dalam Instagram-nya, psikolog Dedy Susanto menuliskan, "Laki-laki baik itu masih ada, bukan dalam mitologi. Bersabarlah."