Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan kata deadliner, kan? Sebenarnya, apa sih deadliner itu? Jadi, deadliner merupakan julukan bagi orang yang baru mengerjakan sesuatu saat sudah mendekati batas akhir pengumpulan. Kalian masuk mana, nih? Tim deadliner atau tim mencicil dari jauh-jauh hari?

Biasanya, deadliner ini menjadi penyakit para mahasiswa yang sangat sulit dihilangkan. Deadliner memang identik dengan kemalasan, seperti ungkapan “Bersantai-santai dahulu, berpanik-panik kemudian.” Tentu saja kepanikan selalu menjadi teman dekat bagi para  deadliner. Siapa sih yang tidak panik kalau tugas belum selesai padahal deadline ada di depan mata? Tentu saja tidak ada. Kalaupun ada, mungkin hanya sepersekian persen manusia yang ada di muka bumi ini.

“Katanya panik, tapi kok tetap dilakuin?” Mungkin begitulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul untuk kaum-kaum deadliner yang sudah merajalela ini. Kebanyakan dari mereka biasanya akan mengeluarkan jawaban seperti, “Sebenarnya aku tuh ngga mau jadi deadliner, tapi ya gimana ya, susah ngilanginnya.” Tidak jarang dari mereka juga memberikan jawaban dengan menunjukkan kemalasan mereka untuk mengerjakan sesuatu, padahal mereka sebenarnya hanya terlalu rajin. Penasaran mengapa seorang deadliner bisa menjadi terlalu rajin?

Apa yang dipikirkan oleh mereka yang mencicil pekerjaannya? Biasanya mereka akan menjawab bahwa mereka ingin cepat bermalas-malasan dengan tenang, berbeda dengan deadliner yang memilih mengerjakan dalam satu waktu. Seorang  deadliner merupakan anak rajin yang terbungkus dengan kemalasan. Bagaimana bisa begitu?

Bayangkan saja saat kalian diberi waktu seminggu untuk mengumpulkan tugas, tetapi kalian baru mengerjakannya sehari sebelum pengumpulan karena kalian merupakan kaum deadliner. Kalian mengerjakannya dengan cepat, hanya sehari jadi bagaikan Bandung Bondowoso yang membuat seribu candi dalam semalaman. Berbeda dengan teman-teman yang kalian anggap sebagai anak rajin yang mengerjakan tugas jauh lebih lama daripada kalian. Kalian sebagai kaum deadliner dapat selesai hanya dalam sehari, mereka bahkan sampai berhari-hari, tentu saja kaum deadliner yang lebih rajin. Membayangkan mengerjakan tumpukan tugas dalam semalam saja sudah terasa malas dan memuakkan, lebih baik mengerjakan dengan santai dan bisa istirahat dengan tenang, kan? Namun, para deadliner bahkan bisa melakukan hal tersebut berulang kali, mereka sangat rajin.

Selain deadliner tugas, ada lagi tipikal deadliner saat menjelang ujian. Yup, belajar H-1 sebelum ujian dimulai. Apakah bisa tipikal seperti ini masuk di dalam golongan manusia rajin? Tentu saja sangat sangat dan sangat bisa. Orang yang malas adalah mereka yang mencicil belajarnya jauh-jauh hari sehingga sehari sebelum ujian dia bisa mengistirahatkan otaknya dengan tenang tanpa panik mengejar materi. Bagaimana dengan kaum deadliner? Mereka pasti akan mengejar materi seharian penuh disertai dengan rasa panik di dalam hati. Coba sandingan orang yang sudah mengejar materinya dengan kaum deadliner yang baru mengejar materinya, pasti kaum deadliner yang paling sering memegang buku ke sana-kemari. Biasanya, orang yang paling sering memegang buku adalah orang yang rajin.

Kali ini, kaum deadliner memenangkan kategori kaum paling rajin. Kemalasan seorang deadliner hanyalah sebuah kostum yang menutupi bakatnya untuk menjadi orang yang rajin atau mungkin sangat rajin. Jadi, apakah pilihanmu masih sama? Kaum yang selalu dijuluki sebagai anak rajin, atau kaum deadliner dengan kostum malasnya?


Apa aja sih sisi positif dan negatifnya?

Setiap hal pasti memiliki sisi positif maupun sisi negatif, begitupula dengan sifat deadliner. Tak jarang orang selalu memikirkan bahwa deadliner adalah hal yang buruk, padahal tidak juga loh. So, apa saja sih sisi positif menjadi bagian dari kaum deadliner?

Menjadi seorang deadliner dapat melatih kemampuan dalam berpikir dengan cepat dan juga praktis. Hal itu terjadi karena kaum deadliner terbiasa melakukan pekerjaan dengan waktu yang singkat sehingga mereka harus sebisa mungkin berpikir secara cepat dan juga lebih praktis supaya bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu. Selain itu, mereka juga dapat lebih mudah dalam beradaptasi saat diberi pekerjaan yang bersifat mendadak. Para deadliner juga dituntut untuk menjadi sosok yang teliti karena mereka tidak ada waktu lagi untuk melakukan banyak revisi pada tugas-tugas yang dikerjakannya, harus fokus dan teliti. Banyak juga kan sisi positif dari kaum-kaum deadliner? Lalu, bagaimana dengan sisi negatifnya?

Masalah pertama dan yang paling utama, sifat deadliner ini dapat menimbulkan penyakit. Bagaimana bisa? Alasannya adalah karena mereka harus menyelesaikan tugasnya secepat mungkin sehingga tak jarang dari mereka yang begadang serta melewatkan makanannya. Selain itu, mengerjakan tugas secara deadliner dapat menyebabkan panik terutama jika masih banyak sekali tugas yang belum terselesaikan. Orang yang panik pasti akan sulit melakukan sesuatu dengan tenang sehingga mereka seringkali kehilangan fokusnya dan tugas-tugas pun tidak dapat diselesaikan dengan baik. Hal yang paling fatal dari dari kepanikan tersebut adalah tugas yang dikerjakan ataupun yang sudah dikumpulkan ternyata keliru. Menyeramkan bukan?

Menjadi seorang deadliner atau bukan adalah hak pilih dari setiap orang. Mereka berhak memilih bagaimana mereka dalam menyelesaikan pekerjaannya atau bagaimana mereka akan belajar. Hal yang paling penting adalah menghindari dampak negatif dari pilihan tersebut dan memperdalam dampak positifnya, jangan sampai merugikan diri sendiri dan juga orang lain. 

Jika kamu ingin menjadi deadliner, jadilah deadliner yang bijak!