Mahasiswa
1 bulan lalu · 284 view · 3 min baca menit baca · Budaya 14043_74684.jpg
Para Penari di Sungai Wehea (Foto: Chris Djoka)

Dayak Wehea

Menjaga Tradisi Mencapai Harmoni

Dayak Wehea adalah satu dari 405 sub-rumpun suku Dayak di Kalimantan. Bila ditarik garis ke atas, ratusan sub-rumpun itu mengerucut menjadi enam rumpun besar, yaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan, dan Punan. 

Walau memakai nama dan bahasa berbeda-beda, semua sub-rumpun itu punya kesamaan budaya, yaitu rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kapak Dayak); menjaga alam, menganut sistem perladangan, dan tradisi tari.

Sub-rumpun Dayak Wehea tinggal dan tersebar di enam desa di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Desa Nehas Liah Bing (Desa Tertua), Long Wehea, Diaq Leway, Dea Beq, Dia Lay, Bea Nehas. Enam desa Dayak Wehea ini merupakan bagian dari desa-desa yang ada di Kecamatan Muara Wahau, atau sebelumnya bernama Lebeng Wehea. 

Selanjutnya berubah menjadi Muara Wahau. Sebutan tersebut di karenakan orang (di luar suku Dayak Wehea) kesulitan menyebut kata "Lebeng Wehea", akhirnya diubah menjadi Muara Wahau. Lebeng artinya Muara, sedang Wahau artinya Wehea.

Wilayah adat Dayak Wehea sangat luas. Di bagian utara berbatasan dengan Gunung Meratus, Kabupaten Berau, dan Kutai Timur. Di sebelah selatan sampai Kelang, bagian hulu Batu Ampar, Kutai Timur. Di sebelah timur sampai Sungai Kelay, yang sekarang masuk Kabupaten Berau. Terakhir, di sebelah barat hingga Sungai Telen, Kutai Timur.


Desa Nehas Liah Bing adalah desa tertua yang di diami Dayak Wehea. Desa berpenduduk kurang-lebih 2.613 jiwa itu berjarak 387 kilometer dari kota Samarinda. Sedangkan dari kota Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutai Timur sendiri, desa yang ada di sepanjang Sungai Wehea itu bisa dicapai dalam waktu lima jam (187 kilometer).

Selain Dayak Wehea, suku lain yang mendiami Nehas Liah Bing adalah Jawa, Bugis-Makassar, Kutai, dan Timor. Di Desa Nehas Liah Bing, warga Dayak Wehea yang memeluk Islam hanya sekitar 10% dari jumlah anggota suku Dayak Wehea. Mayoritas lainnya menganut Katolik dan Protestan.

Masyarakat suku Dayak Wehea rata-rata masih menjalankan adat istiadat warisan leluhur. Meskipun warga Dayak Wehea menganut agama berbeda, mereka tetap hidup harmonis. Sebab nilai-nilai adat mereka dari dulu sangat kental dan ketat mengatur relasi antar-sesama.

Relasi sosial ini terlihat ketika di kampung itu ada warga yang meninggal. Dengan kesadaran yang tinggi, mereka saling membantu meringankan penderitaan keluarga yang ditinggalkan. Mereka memberikan santunan dalam bentuk beras. Sama halnya dengan pesta pernikahan, dan kelahiran.

Biasanya, dalam upacara perayaan, babi selalu disajikan sebagai menu makanan. Untuk menghormati penganut Islam, keluarga yang menggelar acara juga menyediakan menu ayam potong. Apabila ada konflik, masyarakat suku Dayak Wehea selalu menyelesaikannya dengan cara hukum adat. Adapun mekanisme adat itu untuk menghindari politisasi agama.

Akar budaya dengan fondasi harmoni dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi keyakinan adat masyarakat Dayak Wehea. Upaya menjaga nilai-nilai budaya turut menjadi tanggung jawab pemerintah. Ibarat segitiga emas, kekuatan pemerintah, agama, dan adat harus dipadukan sebagai landasan ikatan sosial dalam menjalani kehidupan bersama.

Oleh karena itu, penting ketika forum lintas agama diharapkan mampu melibatkan unsur tokoh adat. Ini penting karena selama ini, forum lintas agama hanya menyentuh elite, tidak sampai ke akar rumput. Kerangkanya harus jelas agar tidak membunuh identitas budaya masyarakat lokal.

Nilai adat istiadat tidak hanya mewarnai kehidupan sosial, melainkan juga urusan politik. Kepala desa yang dilantik pun harus menjalani sumpah adat. Bila ada kepala desa yang melanggar sumpah adat, dipercaya tujuh turunan keluarga kepala desa itu akan mengalami kesialan. "Ada beban sosial,".


Tradisi lain yang dipertahankan suku Dayak Wehea adalah melestarikan hutan dan alam. Ini terlihat ketika Lembaga Adat Desa Nehas Liah Bing pada 27 Oktober 2005 mengukuhkan keberadaan Hutan Lindung Wehea seluas 38.000 hektare. 

Agar hutan tetap rimbun, aturan adat Dayak Wehea menerapkan pembatasan jumlah binatang yang bisa diburu dan hasil hutan yang dapat diambil. Berburu binatang hanya boleh untuk ritual adat dan mengambil tanaman hanya boleh untuk keperluan ramuan obat. Penebangan kayu dilarang.

Untuk mengawasi pelaksanaan hukum adat itu, dibentuk kelompok penjaga hutan yang disebut Petkuq Mehuey. Mereka rutin berpatroli dan memantau kawasan hutan. 

Keseriusan warga Dayak Wehea di Desa Nehas Liah Bing mempertahankan budaya lokal mereka dalam berbagai sisi kehidupan membuat Bupati Kutai Timur, Awang Faroek Ishak pada 2006 menetapkannya Desa Nehas Liah Bing sebagai desa budaya dan konservasi.

Artikel Terkait