Kerampilan menyetir mobil saat ini memang sangat dibutuhkan. Terlebih lagi bagi kita yang selalu ingin bepergian dengan menggunakan mobil. Tentu saja sangat dibutuhkan keterampilan khusus keselamatan berkendara atau safety riding.

Banyak di antara kita belajar menyetir mobil dilakukan bersama dengan kerabat yang memang sudah memiliki keterampilan dan sebagian lagi beralih ke lembaga kepelatihan yang memang memberikan pelatihan dan keterampilan menyetir mobil.

Di setiap kota di Indonesia, tentu lembaga kepelatihan kursus menyetir mobil pasti jumlahnya sangat banyak karena pertumbuhan jumlah mobil di kota-kota besar makin meningkat. Hal ini didorong dengan tren yang menunjukkan bahwa kemahiran menyetir mobil menjadi kebutuhan.

Saya sangat merasakan bahwa menyetir mobil di era saat ini merupakan suatu kebutuhan yang harus saya miliki. Bermodal pengetahuan dasar melalui video-video di YouTube atau belajar mengemudi dengan kerabat, semua sudah saya rasakan. Namun, semua itu dirasa sangat kurang menyentuh. Entah otak atau kepekaan saya terhadap ilmu yang masuk, semua dirasa sangat kurang dan saya membutuhkan hal yang lebih dari itu semua.

Saya sebagai calon siswa kursus menyetir mobil saat itu dikatakan sangat bingung untuk memilih mana sekolah mengemudi yang cocok. Berangkatlah saya berseluncur di dunia internet untuk mencari tahu keberadaan "perguruan" untuk menimba ilmu yang saya inginkan.

Sebagai seorang mahasiswa, saya harus berpikir realistis memilih sekolah mengemudi ini. Bagi saya waktu itu, bukan dari segi kompetensi dari sekolah mengemudi yang saya butuhkan, melainkan biaya yang terjangkau untuk menghindari Kanker atau Kantong Kering.

Di antara mereka menawarkan iklan yang menarik mata saya waktu itu dengan cekatan saya mengendalikan seluncuran ini di tengah arus internet untuk menghindari kesalahan "memijak".

Di tengah selancar yang saya lakukan di dunia internet, mata saya memandang sebuah hal unik mengenai sekolah mengemudi yang ada di Kabupaten Boyolali. Dengan sadar diri ini berkata dalam hati, "Tahukah kamu jika di Kabupaten Boyolali terdapat kursus menyetir mobil yang sudah ada sejak tahun 1966?"

LPK Teratai namanya. Lembaga Kepelatihan dan Kursus ini didirikan oleh Ridjo Erjanto yang semula berlokasi di Jl. Merapi bertepatan di sebelah barat SMP Negeri 1 Boyolali.

LPK Teratai yang saat ini berusia kurang lebih 54 tahun membuat saya sangat tertarik untuk mendaftar di sekolah mengemudi ini. Faktor biaya yang murah menjadi salah satu alasan dan selain itu jiwa kepo saya sebagai mahasiswa sejarah makin meronta-ronta karena penasaran bagaimana sebuah sekolah mengemudi bisa bertahan lama.

Selama kurang lebih satu bulan saya mengikuti sekolah dengan instruktur yang sangat ramah untuk kalangan pemula seperti saya. Alhasil, saya dapat mengemudikan mobil dengan percaya diri.

Namun, satu hal yang tidak bisa memenuhi hasrat saya, yaitu keingintahuan mengenai bagaimana sebuah lembaga kursus atau sekolah mengemudi bisa bertahan? Saya memikirkan bahwa keberadaan LPK Teratai ini merupakan kajian alternatif baru terhadap cerita sejarah Kabupaten Boyolali.

Bermodal sebagai alumni dari LPK Teratai, saya menemui pemilik dari LPK Teratai untuk memuaskan hasrat diri.

Sigit Sulaksono selaku penerus dari LPK Teratai yang mengisahkan bahwa pada awal kursus ini dibuka, mobil yang digunakan adalah Morris, yaitu mobil pabrikan Inggris yang dibuat pada tahun 1960-an.

Menariknya lagi, siswa yang belajar di kursus ini bukan hanya berasal dari Boyolali karena pada tahun 1966 sendiri di Boyolali tidak banyak orang yang memiliki mobil.

"Kalau pada saat itu siswa yang kursus di sini itu hanya kalangan ekonomi atas karena banyak masyarakat Boyolali belum punya mobil. Bahkan pesertanya sendiri berasal dari luar daerah Boyolali seperti Salatiga, Kartasura, dan Klaten," kata Sigit saat ditemui di sela-sela aktivitasnya.

Namun, kursus menyetir mobil ini sempat mati suri, lantaran Ridjo Erjanto selaku pemilik pertama kursus menyetir ini wafat pada tahun 1999 dan kini LPK Teratai berlokasi di Jalan Teratai 17 A, Pulisen, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali.

Kursus menyetir yang disebut mati suri ini tetap punya nama. Sigit juga menyebutkan bahwa di masa mati suri tersebut, banyak yang menanyakan kapan kursus menyetir ini mulai beroperasi kembali.

"Selama kurun waktu 1999 sampai dengan 2002 itu mungkin hampir 500 orang yang saya tolak. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk membuka kembali hingga saat ini dengan nama LPK Teratai yang sudah mendapatkan izin dari Dinas Ketenagakerjaan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Boyolali," kata dia.

Menurutnya, kunci LPK Teratai mampu bertahan adalah adanya kurikulum keselamatan berkendara yang jelas dan juga promosi dilakukan melalui mulut ke mulut sehingga dapat dimungkinkan sejak tahun 1966 hingga saat ini nama kursus ini mampu melawan tiap zaman.

Keberadaan LPK Teratai menjadikan adanya keberagaman cerita sejarah Kabupaten Boyolali yang baru karena sebagian besar kisah masa lalu dari Kabupaten Boyolali hanya mengenai politik yang kelam seperti dicap sebagai kandang dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Adanya LPK teratai menjadikan alternatif pengetahuan baru sekaligus menjadi semangat bagi para peneliti dan penulis lain bahwa Kabupaten Boyolali memiliki keberagaman yang layak untuk digali lebih dalam.