Seiring berkembangnya zaman, persoalan pendidikan menjadi salah satu penentu yang tidak bisa dikesampinkan bagi kemajuan suatu negara. Pendidikan akan memberikan dampak kemajuan baik untuk individu ataupun sebuah bangsa negara. Selain itu seseorang dengan pendidikan yang tinggi akan disegani dan menjadi individu yang banyak dibutuhkan keahliannya.

Ensiklopedia Pendidikan Indonesia menjelaskan, bahwa pendidikan yaitu sebagai proses membimbing manusia atau anak didik dari kegelapan, ketidaktahuan, kebodohan, dan kecerdasan pengetahuan.

Tentu negara yang maju juga telah mempersiapkan langkah dalam meningkatkan daya saing, talenta, dan kualitas sumber daya manusia. Lantas bagaimana mengukur daya saing tersebut? Apakah pendidikan di Indonesia sudah maju dengan berkembangnya zaman?

Daya saing Indonesia yang Rendah


Dikutip dari Global Talent Competitiveness Index (GTCI) tahun 2020, merupakan pemeringkatan daya saing negara yang dapat dijadikan indikator untuk mengukur bagaimana suatu negara dan kota berkembang menyediakan sumber daya manusia untuk meningkatkan daya saing.

Beberapa indikator penilaian indeks ini meliputi pendidikan, pendapatan per kapita, infrastruktur teknologi komputer informasi, Gender, lingkungan, tingkat toleransi, hingga stabilitas politik.

Pada tahun 2019 peringkat Indonesia pada Global Talent Competitiveness Index (GTCI) menempati posisi 67  yang kemudian meningkat keposisi 65 di tahun 2020 dari 132 Negara. Meskipun meningkat, tentu dengan data yang ada saat ini daya saing Indonesia dengan negara lain masih rendah.

Pada tingkat ASEAN saja daya saing Indonesia juga masih rendah. Singapura menempati peringkat pertama dengan skor 78.48. Peringkat berikutnya disusul oleh Malaysia (60.04), Brunei Darussalam (52.17). Sementara itu, Indonesia ada di peringkat kelima dengan skor 41,81 hanya unggul dari negara Thailand, Vietnam, Laos, dan Kamboja.

Singapura menjadi negara di ASEAN yang bisa kita jadikan teladan dari segi daya saing. Tidak hanya unggul di tingkat ASEAN, singapura juga menempati posisi ketiga dari 132 negara yang terdaftar di Global Talent Competitiveness Index (GTCI), unggul dari negara besar di Eropa sepert Finlandia dan Belanda.

Oleh karenanya, dibutuhkan perombakan yang berani agar kualitas daya saing Indonesia dapat menunjukan tren positif. Barulah dengan begitu Indonesia dapat bersaing dengan negara lainnya serta menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Sistem Pendidikan di Indonesia yang Kaku

Dilansir dari KOMPAS.com - Pengamat pendidikan Mohammad Abduhzen menilai pendidikan di Indonesia terlalu kaku, birokratis dan seperti hampa makna. Pasalnya penerapan sistem pembelajaran yang dipakai dinilai sangat terpaku pada standar-standar, pada target muatan kurikulum, hampa makna, dan dimungkinkan kurang pragmatis.

"Apabila sistem tersebut masih dijalankan di Indonesia, maka akan menghasilkan sarjana yang kurang bermutu," ujarnya kepada Kompas.com, saat dimintai tanggapan terkait peringatan Hardiknas 2 Mei, Sabtu (2/5/2020). Kekakuan pembelajaran tersebut dinilainya tidak hanya di jenjang pendidikan dasar saja, melainkan hingga jenjang perguruan tinggi.

Mengatasi masalah pendidikan memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Adanya ketimpangan pendidikan karena efektivitas serta efesiensi yang kurang masih gampang ditemui. Gaya pengajaran yang kurang efektif dan hanya menumpukkan pendidikan pada sistem hafalan tanpa memahami juga menjadi masalah yang sejak lama belum ditemukan.

Adanya musibah Covid-19 ini, imbuhnya pendidikan kita seperti dipaksa untuk berubah, bukan saja model pembelajaran, tetapi juga menginspirasi tentang orientasi. "Saya kira hikmah corona ini makin mendorong ide mereka belajar," katanya lagi.

Kendati demikian, solusi yang diharapkan olehnya yakni pendidikan memang perlu perubahan yang menyeluruh. Mulai dari arah, tujuan, orientasi hingga aspek-aspek operasional, dan kebermanfaatan produk.

Sementara itu, Konsultan Pendidikan dan karier, CEO Jurusanku.com, Ina Liem menilai pendidikan di Indonesia belum membaik. Misalnya dari segi infrastruktur di daerah tertinggal, masih banyak ditemui gedung dan fasilitas yang belum memadai.

“Untuk kondisi home lerning saat ini, misalnya, belum semua daerah terjangkau internet, bahkan ada yang belum punya akses TVRI,” ujar Ina saat dihubungi terpisah oleh kompas.com, Sabtu (2/5/2020)

Untuk memaksimalkan sistem pendidikan di Indonesia yang dijalankan, maka diperlukan pemetaan terlebih dahulu. “Untuk daerah tertinggal misalnya, ukuran keberhasilan mungkin bisa dinilai dari jumlah peserta didik yang memang sudah meningat,” katanya lagi.

Mengutip laporan The Need for a ivot to Learning: New Data on Adult Skills, para pemuda Jakarta berusia 25-26 tahun, imbuhnya memiliki kemampuan literasi lebih rendah dari ulusan SMP di Denmark. Dari laporan tersebut, dirinya mengambil kesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia belum membaik.

Kritik dan Saran

Untuk memperbaiki persoalan pendidikan, tentu perlu adanya kritik dan saran agar dapat mengetahui kekurangan dan memperbaiki kekurangan tersebut. Pertama, memberantas koruptor di sektor pendidikan yang belum menjadi fokus utama pemerintah.

Kedua, menekan pelatihan guru yang lebih efektif. Fakta di lapangan banyak sertifikasi guru diambil secara jalur cepat.

Ketiga, penempatan guru yang merata.

Keempat, untuk kota-kota yang fasilitas sudah memadai, blanded learning harus mulai diterapkan. Dalam dewasa ini muncul istilah Flipped classroom dalam sistem belajar mengajar. Flipped classroom yaixtu mendegarkan materi lewat video di rumah, tapi latihan soal di sekolah.

Dari sini guru sebagai fasilitator bisa melihat siswanya sudah paham belum. Waktu berdiskusi di kelas juga lebih banyak, untuk meningkatkan critical thinking siswa.