Mahasiswa
2 bulan lalu · 294 view · 4 min baca menit baca · Politik 96182_63400.jpg
Tempo

Daun Palem: Dari Yesus hingga Emak-Emak Aksi Bawaslu

Puncak dari pemilihan umum—pemungutan suara—yang sudah kita lewati bersama pada 17 April silam tampaknya masih menyisakan konflik. Narasi bahwa kecurangan masif terjadi dalam proses pemilu masih menjadi ‘peluru’ andalan bagi kubu Prabowo-Sandi untuk menegaskan bahwa Jokowi-Ma'ruf layak untuk didiskualifikasi. 

Saya kemudian teringat perkataan dari Mahfud MD pada salah satu siaran televisi yang menyebutkan bahwa “KPU selalu salah di mata yang kalah”. Itu setidaknya terjadi pada hari-hari ini.

Apa yang dilakukan kubu Prabowo-Sandi adalah hal yang lumrah. Negara yang menganut sistem demokrasi seperti Indonesia menghargai setiap kritik dan masukan (input) dengan syarat disampaikan melalui mekanisme yang konstitusional. Itu setidaknya terjadi pada Jumat (10/5) silam di mana terjadi aksi demo di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).

Ratusan demonstran pendukung kubu Prabowo-Sandi terlihat memadati ruas jalan di depan gedung Bawaslu. Itu terjadi bukan hanya sebagai aksi solidaritas kepada Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang pada kesempatan yang sama menyerahkan laporan dugaan kecurangan pemilu kepada Bawaslu, namun juga sebagai suatu simbol harapan akan penyelenggaraan pemilu yang bersih dari setiap kecurangan yang terstruktur, masif, dan sistematis, yang mereka duga itu terjadi pada pemilu 2019 silam.

Mahkota Palem

Kaum emak-emak tampaknya punya tempat tersendiri di kubu Prabowo-Sandi. Militansi yang kerap melekat pada kelompok tersebut kerap kali menjadi satu simbol perjuangan yang kerap diangkat oleh Paslon nomor urut 02 ini, tak terkecuali aksi uniknya pada Demo di Bawaslu (10/5) lalu.


Puluhan orang yang terhimpun dalam komunitas Emak-Emak Damai tampak menunjukkan kreativitasnya tersendiri. Sembari menyuarakan aspirasi mereka kepada Bawaslu, puluhan emak-emak tersebut terlihat menggunakan mahkota yang dibuat berdasarkan anyaman daun palem.

Daun palem dimaknai mereka sebagai suatu simbol perdamaian dan kesatuan, persis seperti nama komunitas mereka, yakni ‘Emak-Emak Damai’. Daun palem yang menghiasi kepala mereka dan tidak sedikit pula yang melambai-lambaikannya diselingi juga dengan lantunan selawat serta pekikan takbir. Itu semua bermuara pada satu hal: agar Bawaslu membongkar kecurangan selama proses Pemilu 2019.

Penyambutan Yesus

Aksi yang dilakukan di atas mengingatkan saya akan tradisi Minggu Palma. Itu merupakan peristiwa awal dari kisah Minggu Sengsara yang dialami Yesus yang dieluk-elukan ketika masuk ke Yerusalem.

Unsur yang penting dalam tradisi tersebut adalah daun palem, sama seperti apa yang digunakan emak-emak sebagai satu bentuk demonstrasi di Bawaslu. Injil mencatat bahwa “Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh 12:13)

Tidak jauh seperti apa yang dimaknai emak-emak pada aksi di Bawaslu, daun palem pada peristiwa penyambutan Yesus sebagai suatu simbol kemenangan dan damai. Daun palem memiliki warna hijau untuk menunjukkan identitasnya sebagai tumbuhan musim semi. Makna ‘kemenangan’ melekat ketika daun palma sebagai simbol kemenangan dari musim semi atas musim salju.

Tradisi tersebut masih dilakukan umat Kristen sampai saat ini. Pada peristiwa yang disebut sebagai Minggu Palma, umat akan melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi. 

Hal ini menyatakan keikutsertaan umat bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem. Ini menyatakan tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang: kota Allah, di mana ada kedamaian.

Titik Temu

Tampaknya ada titik temu antara aksi yang dilakukan emak-emak di Bawaslu dengan tradisi Minggu Palma yang dihayati umat Kristiani. Titik temu tersebut ialah ketika ada harapan akan perdamaian. 


Itu tentu terlepas dari pertanyaan: apakah aksi yang dilakukan emak-emak tersebut terinsiprasi dari tradisi Minggu Palma? Saya hanya mampu menemukan titik temu dari dua hal itu. Pertanyaan tentang inspirasi dari gerakan tersebut tentu bisa dijawab oleh insiator dari gerakan aksi di Bawaslu tersebut.

Harapan kedamaian tentunya menjadi tujuan kita bersama. Proses pemilu yang sudah berlangsung lama dan akan segera berakhir tentu merupakan proses yang panjang dan melelahkan bagi siapa saja yang mengikutinya secara intens. 

Pelbagai konflik, drama, hingga banyak peristiwa telah mewarnai proses dinamika pesta demokrasi ini. Maka merajut kembali politik persahabatan tampaknya menjadi hal yang penting untuk dilakukan dalam rangka mencapai kedamaian politik.

Kebaikan sebagai Kebenaran 

Plato menjadi salah satu tokoh besar yang membawa gagasan tentang persahabatan. Ia menyoroti betul gagasan tentang kebaikan sebagai kebenaran yang tertinggi. Persahabatan sejati, bagi Plato, tidak hanya pada tataran terciptanya relasi yang baik dengan yang lain. 

Persahabatan sejati terwujud ketika ada prioritas kebenaran (kebaikan) dalam relasi perjumpaan antarmanusia. Itu pula yang dilontarkan Aristoteles yang adalah murid dari Plato sendiri. Ia berujar, “Plato memang sahabatku, namun kebenaran lebih akrab bagiku.”

Kebaikan sebagai kebenaran tidak hanya dihayati masyarakat biasa, namun juga para elite politik di negeri ini. Berkaca pada gagasan persahabatan menurut Plato, nilai yang baik dan elok harus menjadi kepentingan abadi setiap aktor politik yang ada. 

Itu terwujud, misalnya, pada penyampaian berbagai kritik atas kecurangan yang ada dalam proses pemilu dengan cara yang konstitusional, hukum yang berjalan secara adil dan tidak menguntungkan pihak tertentu, ataupun berbagai nilai lainnya yang dapat membawa semangat asali dari politik, yakni kebaikan bersama.


Kata ‘merajut’ selalu mengandaikan sebuah proses. Begitu juga dengan tindak merajut kembali politik persahabatan. Ia tidak hadir dalam bayang-bayang yang instan dan semu belaka. 

Ketika kita dipanggil untuk berproses di dalamnya, dengan demikian lahir keniscayaan bahwa politik persahabatan bukan sesuatu yang mustahil terjadi di negeri ini sehingga perdamaian makin mencerahkan proses perpolitikan di negeri ini. Semoga.

Artikel Terkait