Beberapa waktu lalu, aparat kepolisian menciduk seorang artis komedian yang dicurigai menggunakan atau memiliki barang haram. Setelah melalui beberapa proses penyelidikan, diketahui bahwa artis tersebut mengaku menggunakan barang haram karena tingginya pressure atau tekanan yang dihadapinya.

Ia mengaku tuntutan hidup yang datang justru dari lingkup kerjanya atau profesi yang sedang ia jalani. Sebagai komedian, menurutnya, ia dituntut untuk membahagiakan masyarakat. Padahal tak ada satu pun yang mengira bahwa ia sedang tidak dalam waktu atau keadaan yang berbahagia.

Ia mengaku bahwa kesehatan mentalnya sedang tidak baik dan emosinya tidak stabil sehingga ia memilih jalan pintas. Namun tanpa rasa peduli, sang hakim yang akan menjatuhinya vonis berargumen, "Kok bisa? Kan di televisi cengegesan?"

Dengan argumen yang ramai dibicarakan di media sosial tersebut menyebabkan timbulnya berbagai pandangan pada masyarakat. Salah satunya, yaitu rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental, bahkan untuk seorang yang dapat dikatakan memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi.

Kesehatan mental tidak hanya diartikan menderita gangguan jiwa yang berat hingga hilang akal, tetapi juga memiliki arti yang luas.

Apabila dilihat dari UU Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa secara lebih luas, kesehatan jiwa/mental adalah kondisi ketika individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga menyadari kemampuan yang dimiliki untuk mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. 

Yang menunjukkan secara garis besar bahwa manusia yang tampak fisiknya terlihat baik-baik saja, belum tentu mental dan spiritualnya benar seperti itu adanya. Kita tidak tahu apa isi pikiran dan jiwa setiap manusia. Hanya karena seseorang memiliki tampak fisik yang sehat, bukan berarti kesehatan mentalnya juga demikian.

Namun, sering kali orang-orang di sekitar kita tak sadar atas betapa pentingnya memiliki kesehatan mental yang stabil. Banyak dari masyarakat yang menganggap bahwa datang ke psikeater hanya diperuntukkan untuk orang ‘gila’.

Padahal, jika memang kita membutuhkan bantuan mengenai kesehatan mental, tentu saja datang ke psikiater atau psikolog dapat membantu untuk memberi pengobatan atas apa yang dialami oleh penderita.

Tak jarang kita menemui orang yang membutuhkan pertolongan dalam konteks emosional, yaitu mudah mengalami kecemasan. Bahkan banyak dari masyarakat Indonesia yang menerima tekanan dari berbagai aspek hingga mendorong mereka untuk melakukan bunuh diri.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan pada usia 15 tahun mencapai 14 juta orang. Angka ini setara dengan 6 persen jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400 ribu.

Jumlah ini terkesan cukup sedikit di dalam satu kawasan di Asia Tenggara, namun bukan merupakan alasan dari lepas tangannya masyarakat dan pihak terkait untuk tidak menindaklanjuti kasus kesehatan mental ini.

Di Indonesia sendiri, sudah cukup banyak psikiater atau psikolog yang dapat didatangi ketika kita merasa susah untuk mengontrol diri. Tentunya dapat dibantu juga dengan orang di sekeliling kita.

Yang kita perlu hanyalah mengubah mindset masyarakat Indonesia mengenai kesehatan mental, terutama pada orang-orang yang awam dan menganggap sepele arti dari kesehatan fisik, jasmani, dan rohani.

Hal lain yang dapat membantu menurunkan angka kasus kesehatan mental yang sedang terjadi adalah memberikan pengawasan dan wawasan atau pengetahuan akan kesadaran serta kepedulian masyarakat kepada lingkungan sekitar. Banyak dari kasus bunuh diri akibat kesehatan mental yang terganggu. Korban tidak merasa mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya.

Tanamkan bahwa pergi menemui psikiater atau psikolog bukan merupakan tanda bahwa orang tersebut ‘gila’. Karena pada hakikatnya, semua manusia senantiasa memiliki ujian dan cobaan pada hidup mereka masing-masing.

Tanamkan bahwa psikiater merupakan tempat atau seorang ahli yang dapat kita temui sebagai tempat berkonsultasi mengenai masalah dan apa pun yang terjadi dalam hidup seseorang yang kiranya ia tidak dapat ceritakan ke orang lain.

Sangat penting untuk mengubah mindset masyarakat bahwa datang ke psikiater bukan berarti orang tersebut “gila”. Hal tersebut bertujuan agar seseorang yang memiliki kesehatan mental yang terganggu dapat pergi ke psikiater tanpa ada pembicaraan maupun cacian dari orang lain, dan penderita mendapatkan pertolongan sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut dapat mendorong penurunan angka penderita kesehatan mental yang terdapat di Indonesia.

Perlu pengarahan atau sosialisasi dari aparat terkait mengenai pentingnya kesehatan mental pada masyarakat, khususnya yang masih menganggap remeh masalah kejiwaan. Pengarahan tersebut juga akan memberikan wawasan dan pencegahan sebelum masyarakat Indonesia makin banyak yang memiliki kesehatan mental yang tidak stabil. 

Semua itu tentunya untuk menurunkan angka kriminalitas dan menekan kasus-kasus kesehatan mental, sehingga tercapainya kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.