Anda tentu pernah mendengar ungkapan “mata keranjang”.

Tetapi pernahkah Anda mendengar penjelasan bahwa ungkapan di atas ternyata disalahpahami oleh banyak orang, termasuk—bisa jadi—Anda dan bahkan mantan Anda yang mungkin kini lebih bahagia tanpa Anda? Duh, gusti.

Jadi, apa yang salah? Tak lain dan tak bukan, kesalahan terletak pada bayangan tentang penulisan “keranjang”, sejenis tempat dengan banyak lubang, umumnya digunakan sebagai tempat untuk membuang sampah. Karenanya, kebanyakan orang membayangkan ungkapan “mata keranjang” untuk merujuk pada orang yang memiliki mata dengan banyak lubang, suka melirik ke sana dan kemari.

Padahal, makna ini tak tepat. Tak ada urusan antara lubang-lubang di keranjang dengan mata orang.

KBBI seri kelima memang menyertakan “mata keranjang” dengan penjelasan “Sifat selalu merasa berahi apabila melihat lawan jenisnya; sangat suka pada perempuan”, tetapi tetap saja penjelasan ini tak tepat. Pertama, penjelasan seperti ini terlalu heteronormatif.

Bagaimana dengan lelaki penyuka sesama jenis? Apakah mereka tak bisa disebut “mata keranjang” karena berahinya justru pada sesama laki-laki?

Kedua, ungkapan ini terlalu merendahkan laki-laki, lesbian dan queer yang kebetulan menyukai perempuan, sebab "mata keranjang" diartikan sebagai sikap yang “sangat suka perempuan”. Lah, apa salahnya menyukai perempuan? Kok, dilabeli buruk gitu?

Ungkapan di atas lebih tepat ditulis dengan “ke” sebagai kata depan (preposisi), sehingga penulisannya harus dipisah dengan kata “ranjang” yang mengikutinya. Dengan begitu, “mata ke ranjang” dapat lebih mudah dipahami, yakni jenis orang yang kelaminnya mudah baper, tiap melihat orang atau hal lain yang bening, langsung ingin membawanya ke ranjang.

Yang ada di otak orang-orang “bermata ke ranjang” hanyalah hubungan seksual, yang sialnya, hanya dilakukan di atas ranjang. Nggak seru, ih!

Nah, kesalahpahaman di atas sebaiknya dipahami sebagai cara alam untuk menunjukkan kesaktian imbuhan “ke”; sebab, beda cara penulisannya, beda pula artinya. Jadi gini, dalam aturan tata bahasa kita, “ke” dapat digunakan untuk dua hal: kata depan (preposisi) dan awalan (prefiks).

Sebagai kata depan, “ke” harus ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, bukan karena sombong sampai tak mau berdekatan begitu, tetapi karena memang begitulah aturannya. “Ke” menjadi preposisi ketika digunakan untuk menunjuk arah atau tujuan (tempat); ke sana, ke Jakarta, ke mana pun, dll.

Sementara sebagai awalan, “ke” ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti. Akibat ditulis mepet banget dengan kata yang mengikuti, maka “ke” dapat membentuk tiga jenis kata; kata benda, kata kerja, dan kata bilangan.

Sebagai pembentuk kata benda, awalan “ke” hanya melahirkan tiga kata baru, yakni: ketua, kekasih, dan kehendak. Pada kata “ketua”, awalan “ke” menambah makna “yang bersifat atau berciri” pada kata “tua”. Sehingga ungkapan “Siap, Ketua!” berarti loyalitas pada orang yang dituakan—memiliki sifat-sifat orang yang sudah tua; bijaksana. 

Beda halnya dengan “kekasih” dan “kehendak”. Pada dua kata ini, awalan “ke” memberi tambahan makna “yang dituju dengan”. Jadi, ungkapan “engkaulah kekasih hatiku” berarti aku menujumu dengan kasih yang ada di hatiku. Cie…

Bagaimana dengan bentuk kata kerja? Mudah saja. Umumnya, “ke” membentuk kata kerja pada kata yang dalam ragam percakapannya berimbuhan “ter-“, contohnya “terbalik” menjadi “kebalik”, “terangkat” menjadi “keangkat”. Dalam konteks ini, awalan “ke” memberi makna tak sengaja (kebalik, ketabrak, kesandung, dll) dan mampu (keangkat, kerasa, dll).

Ketika “ke” hijrah untuk membentuk kata bilangan (numeralia), awalan ini dapat dibedakan ke dalam dua jenis, kata bilangan tingkat dan kata bilangan kolektif. Apa bedanya? Letak.

Jika “ke” berada depan nomina yang dijelaskan, maka ia membentuk kata bilangan kolektif, misalnya “kedua tuna asmara”, “kelima maling”, dst. Sementara jika “ke” diletakkan di belakang nomina, maka ia membentuk kata bilangan tingkat, misal “kamu adalah tuna asmara kedua yang mencoba bunuh diri siang ini”, “maling kelima sudah ditangkap”.

Eh, mumpung ingat. Yang benar adalah “ditangkap”, ya, bukan “tertangkap”, yang berarti tak sengaja melakukan penangkapan. Ya, kali si polisi lagi selonjoran trus nggak sengaja nangkap maling?

Oh iya, dalam bentuk numeralia, kata “satu” tak bisa dijadikan bilangan kolektif (kesatu maling), ia hanya bisa dijadikan numeralia tingkat, bersinonim dengan “pertama”, misalnya “maling kesatu” atau “maling pertama”. Tak bisa “kesatu maling”. “Satu” hanya bisa ditempeli “ke” jika kata itu berakhiran “-an” sekaligus, menjadi “kesatuan”.

Selain dapat dipasangkan dengan akhiran “-an”, “ke” juga kerap kita jumpai berduet dengan akhiran “lah”. Dalam kasus ini, imbuhan “ke-lah” umumnya digunakan untuk menunjuk arti perintah atau imbauan. Contoh, “ketahuilah”, “kemarilah”, “kesampingkanlah”, dll.

Nah, kata lain dengan imbuhan “ke” yang kerap membuat bingung banyak orang adalah “keluar”. Sama dengan “keranjang”, perbedaan cara menulis “ke” pada ini dapat berakibat pada perubahan makna. “Keluar” tentu tak sama dengan “ke luar”. Apa bedanya? “Ke luar” harus di luar, sementara “keluar” boleh di dalam.

Duh, meteng maneh iki bojoku…