Mengkaji suatu pemikiran kerap menimbulkan aliran-aliran, meskipun masih berhulu pada pemikiran yang sama. Salah satu pemikiran yang menimbulkan aliran-aliran itu ialah Darwinisme. 

Teori-teori yang dikemukakan oleh Charles Darwin memang pada dasarnya ditujukan untuk ilmu biologi. Namun pada perkembangannya, ilmu-ilmu sosial - dari ekonomi hingga politik - juga terpengaruh, hal ini yang kemudian dikenal dengan istilah Darwinisme sosial (social Darwinism).

Ian Adams dalam buku Political Ideology Today (2004) yang sudah diterjemahkan mengatakan tentang asal-usul ide ini. Menurutnya, banyak pemikir dari berbagai spektrum ideologi yang mengkonsepsikan ide Darwin ke ilmu sosial, namun yang paling tersohor adalah Herbert Spencer (hal. 90-91).

Dalam karyanya yang berjudul The Social Organism (1860), Spencer dengan berani membandingkan masyarakat (manusia) dengan organisme hidup lainnya. Bagi Spencer, masyarakat juga mengalami evolusi dan terus mengalami proses perkembangan yang juga meningkatkan kompleksitas.

Pemikiran Spencer bahkan sering mendapatkan kritikan, bahkan salah satunya langsung dari Charles Darwin sendiri. Dalam sebuah surat yang ditulis Darwin kepada Alfred Russel Wallace, ia menegaskan kalau Spencer telah keliru dalam memahami karyanya, khususnya tentang masalah 'seleksi alam'.

Meskipun mendapatkan banyak penentangan, Spencer tetap mempertahankan pemikirannya. Ia bahkan kemudian menciptakan frasa-frasa baru, salah satunya adalah 'survival of the fittest' - yang dikemudian hari menjadi tolok ukur para pemikir sayap kanan.

Menurut Geoffrey Hodgson dalam Social Darwinism in Anglophone Academic Journals: A Contribution to The History of The Term (2004), Darwinisme sosial secara umum dapat diartikan sebagai penerapan teori-teori Darwin ke dalam masalah-masalah sosial kemasyarakatan - seperti yang dilakukan Spencer.

Dalam pandangan Hodgson (hal. 428), Darwinisme sosial telah banyak disalahgunakan oleh para ideolog-ideolog sayap kanan. Hal ini kemudian yang mendorong munculnya ideologi ultra-nasionalis, dan yang paling terkenal adalah fasisme dan Nazisme.

Meskipun mengklaim dirinya menolak Darwinisme sosial, Hodgson sendiri tidak menampik bahwa sains dan ilmu sosial memang memiliki keterkaitan. Bagi Hodgson, ia meganggap Darwinisme sosial sebagai pseudo-scientific dan hubungan yang mengerikan dengan Perang Dunia II (hal. 428-429).

Kemudian Ian Adams dalam tulisannya yang telah disebutkan, juga mengatakan kalau Darwinisme sosial digunakan oleh hampir seluruh spektrum ideologi, termasuk liberalisme dan sosialisme. Tetapi Adams masih mengakui, kalau spektrum kanan sedikit lebih banyak dipengaruhi (hal. 90-91 dan 302).

Adams menyebutkan dalam bukunya tersebut, bahwa sebenarnya Darwin sendiri tidak pernah menyebutkan apapun tentang ras. Namun pada perkembangannya - seperti yang dikatakan oleh Hodgson- beberapa ideolog sayap kanan kemudian menggunakan Darwinisme untuk membentuk pandangan rasis (hal. 301).

Lanjut Adams, kelompok sayap kanan telah menginterpretasikan Darwinisme sosial secara ekstrim dan radikal. Intepretasi tersebut berkaitan dengan masalah perebutan dominasi antar kelas, bangsa, dan ras (hal. 91). Hal ini yang kemudian menimbulkan konflik yang dibenarkan dengan Darwinisme sosial (hal. 301).

Adams menjelaskan kalau prinsip 'survival of the fittest' telah mengambil posisi paling penting dalam Darwinisme sosial. Konsep ini berkaitan dengan masalah 'siapa mendominasi siapa', untuk itulah mengapa kemudian konflik sesama manusia terjadi dengan tujuan utama, yakni mendominasi (hal. 301-302).

Baik Hodgson ataupun Adams jelas melihat Darwinisme sosial sebagai salah satu landasan berpikir ideologi ekstrim kanan, seperti fasisme dan Nazisme. Kaum fasis dan Nazi memang menempatkan konflik dan perang sebagai kerangka utama, bahkan beberapa menjadikannya sebagai tujuan disamping mendominasi.

Dalam disertasi berjudul Exploring the Intellectual Foundations of Egyptian National Education (2013) yang ditulis oleh Sabrin Mohammed, Darwinisme sosial berdampak pada penjajahan. Hal ini dikarenakan penjajahan dekat dengan masalah dominasi, khususnya pada abad 18 dan 19 (hal. 29-30).

Dalam disertasinya tersebut, Sabrin menyatakan bentuk dominasi Eropa melalui penjajahan terhadap bangsa di luar Eropa. Dalam hal ini ia mencontohkannya pada kolonialisme Inggris dan Perancis (hal. 26).

Konsep 'survival of the fittest' telah membuat beberapa bangsa - khususnya di Eropa - untuk mendominasi bangsa lainnya. Bahkan sesama bangsa Eropa pun berusaha saling mendominasi, implikasi dari hal ini adalah munculnya perang dan penjajahan.

Untuk menaklukkan bangsa lainnya, maka suatu bangsa perlu menjadi kuat dibandingkan dengan yang lainnya. Beberapa bangsa kemudian mengembangkan kekuatan militer sebagai bentuk kekuatan fisik yang paling jelas.

Dalam buku Introduction to Political Science (2008) yang sering dijadikan rujukan bagi akademisi ilmu politik, kekuatan militer menjadi utama karena menunjukkan supremasi suatu bangsa. Bagi kelompok sayap kanan - khususnya fasis - militer adalah unsur yang wajib untuk mencapai kemenangan (hal. 157).

Kemenangan yang dimaksudkan adalah dominasi atas bangsa lain, menaklukkan wilayah lain dan termasuk menguasai politik dalam negeri. Tentu saja, karena menggunakan kekuatan militer maka kekerasan menjadi unsur yang tak dapat dilepaskan.

Dalam buku Pemikiran Politik Barat (2007) karya Ahmad Suhelmi, fasisme - di Jerman khususnya - memiliki keterkaitan dengan Darwinisme sosial. Bangsa Jerman yang saat itu tengah terpuruk, tidak semata-mata memilih Nazi dan Adolf Hitler, tetapi juga keinginan untuk mendominasi bangsa lain (hal. 341).

Hitler sendiri pun kerap mengutip hal-hal yang berkaitan dengan evolusi dalam bukunya Mein Kampf. Ia menganggap jika Bangsa Jerman adalah bangsa yang tertinggi, hasil dari proses evolusi manusia, oleh karena itu Hitler beranggapan jika seluruh dunia harus berada dibawah kekuasaan dominasi Jerman.

William Ebenstein juga mengatakan hal demikian dalam bukunya yang sudah diterjemahkan, Today Isms: Communism, Fascism, Capitalism, Socialism (2014). Meskipun sebenarnya Ebenstein tidak secara eksplisit menggunakan istilah Darwinisme sosial, tidak seperti yang dilakukan oleh Ahmad Suhelmi.

Namun beberapa rincian dari pemikiran hingga tingkah laku fasis yang diungkapkan oleh Ebenstein memiliki keterkaitan dengan Darwinisme sosial. Misalnya tentang kepemimpinan golongan terpilih, dalam pemikiran fasis mereka yang terpilih adalah mereka yang terkuat, sehingga berhak memimpin (hal. 131).

Selain itu, Ebenstein juga mengungkapkan bila fasisme menolak pada kesetaraaan (equality). Bagi fasis, menusia terdiri dari golongan-golongan, pembagian ini menghasilkan pemisahan antara mereka yang kuat (superior) untuk mendominasi mereka yang dianggap lemah (inferior) (hal.127-128).

Pemikiran dari kelompok sayap kanan itulah yang kemudian melahirkan peperangan, dengan tujuan untuk menjadi yang terkuat, untuk mendominasi. Maka tidak heran bila banyak akademisi, intelektual dan cendekiawan yang menentang gagasan Darwinisme sosial - bahkan termasuk Darwin sendiri.

Gagasan-gagasan yang ditawarkan oleh kelompok fasis ataupun Nazi memang didasari pada konsep 'survival of the fittest' dari Herbert Spencer. Namun masalahnya, Spencer telah dianggap salah kaprah terhadap ide-ide Darwin - apa yang disebut Hodgson sebagai pseudo-scientific.

Dari sini memang perlunya diskursus mengenai Darwinisme. Di samping sebagai ilmu biologi, mau tidak mau Darwinisme juga memiliki keterkaitannya pada masalah-masalah sosial. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana meluruskan kekeliruan Darwinisme sosial kepada kelompok sayap kanan.