Menerjemahkan jurnal-jurnal kedokteran spesialis mulut yang terakreditasi internasional sungguhlah kegiatan yang mengasyikkan. Banyak hal yang sebelumnya kita klaim sebagai kesalahan atas aroganitas dogmatis, tetiba berbalik beberapa derajat menjadi sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran, dan itu cukup menghajar dan menjalar.

Dari sini kita belajar mikro kehidupan yang sarat dan banyak menjadi dasar-dasar makro kehidupan yang kasat mata. Kecerobohan terhadap konsep kehidupan mikrokospis membuat kedigdayaan makrokospis yang kita banggakan akan menjadi tak berarti.

Peristiwa-peristiwa mikrokospis banyak kita dapatkan dalam satuan-satuan kehidupan kromosom dan bakteri. Kerumitan dan kompleksitasnya, secara perlahan, akan menjadi tambahan keterangan-keterangan yang penting. Kemudian hal tersebut, secara pasti, menjadikan teks-teks orbital ketuhanan, termasuk kaidah makro kehidupan akan makin kokoh adanya.

Kesombongan orbital dogma ketuhanan kadang membuat mata batin kita buta terhadap kehidupan mikrokospis yang ada di sekitar kita. Kadang dengan bangganya kita berdiri di atas podium kealiman, namun ternyata hanyalah sebuah tampilan kelaliman terhadap kehidupam mikrokospis yang belum terjangkau oleh nalarnya.

Itulah yang kadang membuat kita ribut sendiri. Sementara yang paham mikrokospis hanya tersenyum menyaksikan kebodohan kita yang terlihat tegar dibangun di atas dogma-dogma yang membabi buta.

Misal, pada kasus kandidiasis oral, atau infeksi rongga mulut, sebagai tanda adanya infeksi HIV/AIDS yang menyerang tubuh kita.

Yang terindikasi pertama bukanlah hal yang rumit-rumit, ataupun yang jauh dari wajah kita. Ia adalah hal sepele, mulut kita, yang kadang bahkan sering kita sepelekan. Jamur Candida albicans akan segera berkembang hingga menyebabkan kandidiasis atau infeksi di lubang berlendir yang manusia miliki.

Kandidiasis oral merupakan infeksi oportunistik yang sering ditemukan pada penderita yang terinfeksi HIV AIDS ditandai dengan adanya penurunan jumlah CD4 (plus). Air liur yang mengandung faktor kuat antimikroba kadang dibuang sia-sia begitu saja sebagai pengiring sumpah serapah dengan meludahi orang atau sejenisnya: njing, cuihhh, I spit your grave!

Bagaimana dengan kebijakan filsafat ciuman, semisal French Kiss, yang ternyata terbukti sebagai donor antimikroba yang andal, sering terlupakan. Ludah dan liur terlalu banyak kita buang untuk serapah dan penghinaan.

Ludah dan liur adalah sebuah mekanisme pertahanan diri terhadap Candida albicans, penangkal infeksi yang disebabkan oleh HIV/AIDS. Kekuatan mulut kita, baik periodontal, mukosal, oral ataupun dental, setelah atau sebelum terinfeksi oleh patogen melalui aktivasi neutrofil, adalah bukti bahwa ludah dan liur adalah sesuatu yang sangat berharga.

Itulah hal-hal mikrokospis yang sering kita lupakan, remehkan, dan dibuang-buang percuma. Kita terlalu sibuk dengan makrokospis yang kasat. Termasuk pula memandang teori evolusi Darwin, yang kadang hanya diambil ujung rapuhnya: kera dan manusia.

Kita yang sok tahu, dan ternyata benar-benar tidak tahu, bahwa penerapan dan aplikasi teori evolusi ini telah menjadi landasan para ilmuwan selama berpuluh-puluh tahun untuk implementasi teknologi dan ilmu pengetahuan, khususnya bagi bidang riset medis dan rekayasa genetika.

Darwin yang sering dituding-tuding dalam kemelut teori evolusi sejatinya sudah berusaha keras dalam membangun dasar-dasar genetika yang bisa dimanfaatkan dalam pengembangan antijamur bagi berbagai penyakit. Termasuk dalam pengobatan penyakit mulut yang disebabkan oleh jamur di atas. 

Pembuatan obat, vaksin, dan serum tentunya menggunakan dasar teori evolusi Darwin. Termasuk kandidiasis oral yang bisa dirawat dan disembuhkan dengan menggunakan obat antijamur sistemik golongan azole. Ekstasi obat ini juga menggunakan dasar teori Darwin.

Ketidaktahuan kita tentang hubungan kera dan teori evolusi selalu dikait-kaitkan dengan kebodohan Charles Darwin. Kita yang sebenarnya memaksa untuk merumuskan bahwa asal-usul manusia itu dari kera. Padahal, sejarah perumusan teori evolusi tersebut tidaklah pernah ada pernyataan seperti itu. Charles Darwin sendiri juga tidak pernah menyatakan hal seperti itu.

Pengambilan asal-asalan atau comot ujung rapuhnya membuat beberapa buku cetak pelajaran sekolah telah memberikan penjelasan tentang teori evolusi tersebut dengan singkat. Bahkan ada yang lebih ekstrem, berani berkesimpulan tentang kera dan manusia.

Beberapa bahasan di jurnal internasional yang mempunyai kaitan erat dengan evolusi diabaikan begitu saja. Diversifikasi spesies, struktur kromosom, konsep hereditas, mutasi genetik, seleksi alam, dan lain-lain sering kali tidak dihubungkan dengan evolusi. Padahal justru topik-topik tersebut sangat relevan dan telah menjadi landasan kuat teori evolusi Darwin.

Pemahaman konsep evolusi yang begitu sempit dan sektarian telah berkembang pesat tanpa filter jurnal-jurnal internasional. Padahal yang berevolusi itu spesies, sedangkan kera itu bukan nama spesies. Kera adalah super-familia hominidae dari order primata.

Tidaklah bisa dipukul rata bahwa semua binatang yang suka berayun di pohon itu adalah kera. Termasuk monyet (Macaca fascicularis), dia bukan kera. Dengan memahami taksonomi, maka didapatkan bahwa order primata itu dibagi menjadi sub-order atau superfamily: Homonidae (kera), Simiformes (monyet), Lemuroidae (lemur).

Jadi monyet itu bukan kera. Kera adalah kera, monyet adalah monyet, dan tentunya manusia adalah manusia. Kenapa kau bilang manusia itu monyet?