Researcher
2 tahun lalu · 1052 view · 6 min baca menit baca · Saintek maxresdefault_32.jpg

Darwin dan Psikologi

Memperingati 208 Tahun Lahirnya Charles Darwin

Tepat pada hari ini, 208 tahun yang lalu, Charles Robert Darwin dilahirkan. Berjalan di atas bumi sekitar 73 tahun, menelurkan beberapa karya yang mengubah pandangan dunia, selamanya.

Darwin biasa ia dikenal, menggegerkan dunia dengan karyanya yang fenomenal, The Origin of Species, sebuah buku yang diklaim sebagai buku akademik paling berpengaruh sepanjang sejarah oleh Guardian. Dalam bukunya itu, Darwin menawarkan sebuah pandangan baru tentang penciptaan, yaitu evolusi melalui seleksi alam.

Pandangannya yang kontroversial saat itu (bahkan, hingga saat ini bagi beberapa orang ortodoks) menggoyang fondasi dasar keimanan yang mempercayai bahwa semua makhluk yang ada saat ini merupakan ciptaan Tuhan yang begitu adanya.

Dari kalangan agamawan hingga ilmuwan mengkritik habis-habisan pandangan Darwin saat pertama kali dicetuskan. Teori evolusi Darwin memang tidak sempurna, tetapi setelah bergabung dengan bidang genetika oleh Gregor Mendel, keduanya menjadi pilar yang sangat kokoh dalam teori evolusi modern.

Seiring berjalannya waktu, bukti-bukti dari berbagai bidang membenarkan teori evolusi Darwin, sebut saja biologi, paleontologi, geologi, genetika, sosiologi, antropologi, dan berbagai disiplin ilmiah lainnya.

Pada akhirnya, hampir (jika tidak ingin dikatakan semua) ilmuwan mengukuhkan teori evolusi. Bukti-buktinya sangat jelas. Teori evolusi mengukuhkan dirinya sebagai primadona di dunai sains, khususnya ilmu sosial. Pertentangan tetap datang dari kalangan agamawan, khususnya agama Samawi. Karena bagi yang memahami agama secara ortodoks, teori evolusi jelas-jelas menggerogoti ajaran tentang penciptaan Adam.

Jika ingin jujur, hampir seluruh gagasan ilmu-ilmu sosial modern seperti sosiologi, antropologi, bahkan psikologi berangkat dari asumsi dasar teori evolusi melalui seleksi alam yang dicetuskan Charles Darwin. Saya pikir, hanya mereka yang picik yang kesulitan menerima fakta Darwinian ini. Tulisan ini berusaha sedikit mengupas tentang pengaruh teori evolusi dengan Psikologi. God Bless, Darwin atas jasanya dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Pengaruh Darwin dalam Psikologi

Jika psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia atau apapun tentang manusia, sepertinya sulit melacak pemikiran psikologi pada masa lampau. Sudah pasti sejak manusia mampu berpikir logis dan memiliki kesadaran, ia sudah bertanya tentang hakikat manusia. Kajian psikologi yang paing lampau, yang berhasil saya temui berkisar dari 500-400an SM.

Kita akrab dengan istilah kepribadian sanguinis, koleris, melankolis, dan plegmatis yang sejatinya dicetuskan Hippokrates sekitar tahun 400an SM. Walaupun keabsahan ilmiahnya dipertanyakan, tetapi tipologi kepribadian Hippokrates tersebut masih marak digunakan hingga saat ini.

Sebenarnya, penjalasan Siddharta Gautama tentang psikologi dengan jauh lebih komplit dari Hippokrates, tapi India bukan pemenang perang, tak heran teorinya kalah populer dibanding Hippokrates yang dari Yunani.

Sejak era itu, banyak sekali teori tentang manusia yang dicetuskan pemikir-pemikir hebat dari era Yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles, ke era keemasan Islam seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, hingga ke era renaisans dan pencerahan seperti Rene Descartes, Joch Locke, dan Nietzsche.

Masih banyak tokoh lain yang memaparkan teori psikologi dari masing-masing era, tetapi psikologi modern menjadi disiplin mandiri setelah Bapak Psikologi, Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium di Leipzig pada tahun 1879.

Setelah itu, psikologi di Eropa dipopulerkan oleh pemikir besar Sigmund Freud yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Darwin. Jika diperhatikan, insting seksual yang menjadi dorongan terbesar dalam psikoanalisis Freud sejalan dengan teori evolusi Darwin untuk bertahan hidup.

Di Amerika, ada Bapak Psikologi Eksperimental, William James yang juga sangat dipengaruhi oleh Darwin. James banyak berbicara tentang insting, yang menurutnya bertempat di sirkuit saraf yang tak lepas dari produk evolusi.

Darwin dalam The Origins of Species menuliskan prediksi yang berani: “Di masa depan, saya melihat bidang-bidang terbuka bagi jauh lebih banyak lagi penelitian. Psikologi akan didasarkan pada pondasi baru yang memberikan setiap kekuatan dan kemampuan mental secara bertahap. Banyak titik terang akan terungkap tentang asal-usul manusia dan sejarahnya” (Darwin, 2015; 470). Satu abad kemudian, ramalan Darwin makin mendekati penyingkapan.

Sayangnya, sebagian besar psikolog abad ke-20 lebih berfokus pada perilaku dan penjelasan terdekatnya sehingga segala sesuatu yang bersifat abstrak jauh ditinggalkan, termasuk pembahasan tentang evolusi. Behaviorisme, yang fokus pada perilaku dan melepaskan pelaku perilaku (manusia) menjadi primadona yang seksi kala itu.

Darwinisme semakin ditinggalkan dan mendapat kecaman setelah dijadikan kendaraan politik sebagai pembenaran pemusnahan etnis, pemurnian ras, hingga kebijakan egeneutika ala Nazi yang tidak manusiawi. Ya, Hitler keliru memahami teori evolusi Darwin dan menganggap bahwa ras Arya merupakan puncak dari evolusi manusia. Padahal, tidak ada kata final dalam evolusi. Setiap spesies berevolusi berdasarkan seleksi alam pada lingkungannya

Darwin dan Psikologi

Psikologi yang mengadopsi pisau perspektif Darwin, dikenal dengan psikologi evolusioner. Ia adalah sebuah pendekatan baru dalam disiplin psikologi yang kira-kira berkembang pada tahun 80an, dikembangkan oleh pasangan suami istri Cosmides dan Tooby dari University of’8 California.

Perkembangan psikologi evolusioner sangat dipengaruhi oleh perkembangan pesat dalam disiplin neurosains dan kognitif yang memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang otak manusia.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa otak merupakan pusat segala aktivitas manusia, baik yang sadar (seperti gerak tubuh) maupun tidak (seperti detak jantung). Setiap bagian otak tertentu (sirkuit) bertanggung jawab pada aktivitas spesifik tertentu. Ada yang mengatur bagian bahasa, memori, logika, sensori, dan lain sebagainya. Lalu, apa yang bertanggung jawab dalam pembentukan otak? Ia adalah gen, yang secara turun temurun diwariskan melalui reproduksi.

Singkatnya, jika otak dibentuk oleh gen yang diwariskan secara turun temurun dan terus berevolusi sesuai seleksi, bukankah sangat memungkinkan perilaku manusia (sebagai hasil aktivitas otak) juga sangat dipengaruhi oleh evolusi?

Kita tidak ragu bahwa gen membentuk anatomi tubuh, tetapi ketika gen diklaim bertanggung jawab pada perilaku? Rasa nyaman kita sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas sedikit terusik. Apakah kita bebas berperilaku? Atau perilaku kita didikte oleh gen? Entahlah, perlu tulisan sendiri untuk mengupas masalah ini.

Psikolog evolusioner berusaha menjawab permasalah psikologis dengan menggunakan perspektif evolusi. Berusaha mendamaikan pengaruh bawaan gen (nature) dan pengaruh lingkungan (nurture) pada perilaku manusia. Tidak semua tindakan dikendalikan gen, tapi tidak ada satu pun perilaku yang tidak melibatkan sel otak. Psikologi, khususnya di Indonesia, sering kali mengabaikan fakta ini. Tapi, untuk keperluan pragmatis, pemahaman teoritis macam ini memang tak perlu.

Psikologi evolusioner, bagi saya, memberikan penjelasan yang memuaskan terhadap perilaku manusia. Contohnya, mengapa manusia sering tolong menolong? Karena tujuan setiap makhluk hidup adalah bertahan hidup, maka tolong menolong dikembangkan untuk dapat menambah peluang untuk hidup sesama spesies, terutama makhluk yang hidup berkelompok. Tak ada makhluk sosial yang tidak mengembangkan sikap tolong menolong antaranggota kelompoknya.

Lalu, mengapa pria cenderung melirik perempuan dari segi fisiknya? Karena, pria secara tak sadar membutuhkan perempuan yang bugar secara fisik untuk dapat merawat anak-anaknya. Kecantikan adalah mekanisme yang dikembangkan perempuan untuk menunjukkan kebugaran fisiknya agar dapat dikawini, sebab perempuan juga butuh untuk mewariskan gennya.

Perempuan juga melakukan seleksi, ia cenderung tertarik pada pria yang memiliki status sosial yang tinggi, untuk dapat menjamin keberlangsungan hidupnya dan anak-anaknya nanti. Seleksi seksual ala Darwin.

Mengapa sebagian kita secara naluriah lebih takut pada ular dibandingkan bis? Padahal bis lebih banyak membunuh manusia dibandingkan ular saat ini? Karena manusia mengetahui bahwa ular berbahaya sejak ratusan ribu tahun yang lalu, sedangkan bis? Belum ada tiga abad. Penyimpanan memori genetik perlu waktu lama. Primata lain juga memiliki rasa takut naluriah pada ular.

Bagi saya, psikologi evolusioner merupakan sebuah pendekatan dalam psikologi yang memberikan jawaban yang sangat memuaskan terhadap mekanisme psikologis manusia. Meskipun saat ini masih banyak sekali perdebatan di kalangan ilmuwan tentang ini.

Tapi, ketika teori besar ilmu alam seperti gravitasi Newton dan relativitas Einstein dapat menghasilkan teori besar lainnya yang mengungkapkan rahasia alam yang lebih besar lagi. Mengapa ilmu sosial tidak berusaha memecahkan persamaannya?

Saya kira, psikologi evolusioner memberikan fakta-fakta ilmiah pada psikoanalisa yang dianggap terlalu abstrak. Mungkinkah alam bawah sadar Freud atau ketidaksadaran kolektif Jung merupakan sebuah informasi yang dibawa oleh gen melalui seleksi alam? Wallahu a'lam.

Artikel Terkait