Catatan pertama tentang The Origin of Species di dunia Islam baru muncul pada tahun 1876 di sebuah jurnal ilmiah berbahasa Arab al-Muqtathaf yang dikelola oleh dua mahasiswa Syrian Protestant College Beirut, Ya’qub Serruf dan Faris Nimr — atau selang 15 tahun setelah penerbitan pertama buku tersebut di London pada 1859. Artikel berjudul ‘Ashl al-Insan atau asal-usul manusia itu ditulis oleh seorang staf pengajar muslim di college tersebut bernama Rizq Allah al-Birbari yang mengkritik pemikiran Darwin karena menganggapnya sebagai bagian dari atheisme. Yang menarik kritik Birbari ini ditulis menggunakan argumentasi seorang teolog Protestan bernama Charles Hodge.[1]

Sejak itu al-Muqtathaf menjadi sumber populer utama untuk mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan termasuk Teori Evolusi di Timur Tengah. Bersama alumnus College lainnya, Jurji Zaydan yang menerbitkan jurnal al-Hilal, jurnal-jurnal ini menjadi bagian dari gerakan renaissance bangsa Arab di akhir abad 19 atau yang lebih dikenal sebagai gerakan Nahdhah di Mesir.

Namun kritik paling terkenal atas Teori Evolusi datang dari pembaharu Islam Jamaluddin al-Afghani dalam artikelnya yang berjudul al-Radd ‘ala al-Dahriyyin atau sanggahan terhadap kaum materialis yang diterjemahkan oleh muridnya Muhammad Abduh kedalam bahasa Arab pada 1881. Meski kritik Afghani sangat terkenal di dunia Islam, tapi isinya hanyalah karikatur terhadap evolusi sekaligus mencerminkan ketidaktahuan sang penulis akan konsep evolusi dan natural selection.

Sekelompok materialis memutuskan bahwa bibit dari semua spesies, terutama hewan, adalah identik, tidak ada perbedaan di antara mereka dan bahwa spesies juga tidak memiliki perbedaan esensial. Oleh karena itu, kata mereka, bibit-bibit itu berpindah dari satu spesies ke spesies lainnya dan berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya melalui tuntutan waktu dan tempat, sesuai kebutuhan dan digerakkan oleh kekuatan luar.

Pimpinan mazhab ini adalah Darwin. Dia menulis sebuah buku yang menyatakan itu bahwa manusia itu keturunan monyet, dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang sebagai akibat dari dorongan luar, dia berubah hingga mencapai tahap orangutan. Dari bentuk itu ia naik lagi ke tingkat manusia paling awal, yang merupakan tingkat kanibal dan orang hitam lainnya. Kemudian beberapa orang bangkit dan mencapai posisi di bidang yang lebih tinggi dari pada orang hitam, yaitu manusia Kaukasia.

Afghani bahkan membuat analogi yang salah tentang cara kerja evolusi:

Apakah orang malang ini tuli terhadap fakta bahwa orang Arab dan Yahudi selama beberapa ribu tahun telah melakukan penyunatan, dan meskipun demikian sampai sekarang tidak ada satupun dari mereka yang terlahir dikhitan?

Satu yang harus dicatat, sasaran utama dari kritik Afghani ini sesungguhnya adalah kalangan naturalis-materialis yang berpendapat bahwa alam semesta dan makhluk hidup dapat ada dan berkembang seperti sekarang tanpa campur tangan Tuhan, sekaligus kaum imperialis Barat yang hendak menjajah dunia Islam sekali lagi dengan ideologi materialistik mereka. Dalam memoarnya dikemudian hari Afghani menerima validitas evolusi dan menyatakan bahwa umat Islam telah terlebih dahulu mengenal konsep tersebut.

Sikap terkemudian dari Afghani ini tercermin dalam kebijakan muridnya yang paling terkenal Muhammad Abduh yang menjadi Grand Mufti Mesir, jabatan keagamaan tertinggi di negara tersebut pada 1899. Semua yang belajar kajian Islam pasti kenal kedua tokoh pembaharu ini.

Dalam Tafsir Al-Manar yang ditulis oleh muridnya Muhammad Rasyid Ridha, Abduh menjelaskan konsep nafs wahidah sebagaimana tertulis dalam QS 4:1 sebagai asal-usul manusia. Nafs wahidah tidaklah selalu merujuk pada Adam, karena Adam sendiri juga tidak dikenal di kebudayaan lain macam Tiongkok. Karenanya paling aman mengartikan konsep ini sebagai kemanusiaan, dimana semua manusia bersaudara dalam kemanusiaan. Entah ia mengartikan kemanusiaan ini dengan monyet atau Adam itu bukanlah masalah besar.

Abduh juga menafsirkan pengertian “keturunan manusia” dengan sangat fleksibel, yakni memandangnya sebagai ekspresi pergerakan materi dari mineral ke hewan dan kemudian ke manusia. Dimana manusia memiliki sifat ganda: yakni sifat hewani (tubuh) dan yang unik manusia (jiwa).

Terkait pemikiran Darwin yang menyatakan manusia berasal dari makhluk lain yang lebih rendah (hominid) Abduh bersikap diplomatis dimana tidak menolak juga tidak mendukung gagasan tersebut. Dalam Al-Manar ia hanya menyebut Darwin sebagai ilmuwan alam yang termasyhur dan menyatakan bahwa pemikirannya hanyalah hipotesis semata.[2]

Sebagaimana Afghani, Abduh juga menyeru umat Islam untuk mempelajari sains Barat dan menyatakan tidak ada pertentangan antara sains dan agama, termasuk Teori Evolusi Darwin. Hal senada juga ditegaskan oleh Ridha yang dekat dengan keluarga Kerajaan Saudi.

***

Meski secara khusus Darwin hanya merumuskan seleksi alam untuk bidang biologi — dimana ia menggunakan konsep “struggle for existenceThomas Malthus dan di edisi The Origin berikutnya juga meminjam konsep Herbert Spencer tentang “survival of the fittest” untuk mengilustrasikan perjuangan setiap spesies dalam menghadap seleksi alam — namun ia tidak menyadari implikasi sosial dari pemikirannya tersebut.

Pada 1877 untuk pertama kalinya muncul istilah Darwinisme sosial di Jerman yang terinspirasi dari konsep survival of the fittest Spencer. Setahun kemudian istilah ini juga digunakan oleh kelompok anarkis di Paris.

Di Eropa sendiri, paham tentang evolusi sosial adalah sesuatu yang umum. Sebelum Darwin, Hegel telah menyatakan bahwa masyarakat berkembang melalui tahap-tahap perkembangan yang terus meningkat. Bentrokan antar kebudayaan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, sebagaimana digambarkan oleh Hobbes dengan konsep homo homini lupus.

Karl Marx yang juga membaca The Origin pada 1860 menyatakan dalam suratnya ke aktivis Ferdinand Lassalle bahwa “Buku Darwin sangat penting dan membantu saya sebagai dasar ilmu alam untuk perjuangan kelas dalam sejarah”. Ia bahkan menyebut nama Darwin dua kali dalam pembukaan bukunya Das Capital dan mengirimkan satu copy ke Darwin dengan sebuah autograph bertuliskan: “To Charles Darwin from a true admirer, from Karl Marx.”.[3]

Satu dasawarsa sebelumnya, sepupu Darwin, Francis Galton, juga mengemukakan konsep paling kontroversial yang terinspirasi dari pemikiran Darwin yakni eugenic. Menurut Galton bila panti sosial dan rumah sakit jiwa tidak mampu mengendalikan populasi manusia inferior dan membiarkan jumlahnya melebih populasi manusia superior maka masyarakat akan dibanjiri oleh ras-ras lemah.

Perkembangan intelektual Eropa inilah yang kemudian menjadi bahan utama dari setiap edisi jurnal al-Muqtathaf. Bahkan setelah Ya’qub Serruf dan Faris Nimr memindahkan usaha mereka ke Mesir, pembahasan tentang konsep Darwinisme Sosial Spencer menjadi jauh lebih dominan ketimbang Teori Evolusi.

Bersamaan dengan itu muncul sejumlah tokoh Arab yang membawa pemikiran radikal terkait Darwinisme sosial. Paling terkenal adalah Shibli Shumayyil, seorang Kristen Arab yang juga lulusan Syrian Protestant College Beirut. Sebagai seorang penganut ideologi Darwinisme sosial, Shumayyil adalah seorang materialist sekaligus atheis. Pendiriannya yang keras agar bangsa Arab segera mereformasi sistem sosialnya dengan sains modern membuatnya banyak dimusuhi baik oleh tokoh Kristen maupun muslim.

Pengikut Shumayyil yang tidak kalah radikal adalah Salama Musa. Seorang Marxist, sosialis yang tergila-gila dengan Darwinisme dan ide-ide manusia super Nietzsche. Dalam al-Tabiyah wa al-Insaniyyah (Nature dan Kemanusiaan) Musa mengutip ahli biologi Inggris Arthur Keith terkait keabsahan perang sebagai cara terbaik untuk survival of the fittest bagi sebuah bangsa. Selain itu ia juga menggaungkan slogan Nietzsche bahwa “Tuhan telah mati” dan seluruh petani Mesir harus dibebaskan dari perbudakan agama.

Namun yang paling radikal dari semua intelektual muda Arab adalah kelahiran kelompok ultra-sekuler Turki, Turki Muda, yang menggunakan basis Darwinisme dan eugenik sebagai justifikasi akan kehebatan bangsa Turki diantara ras-ras lainnya. Kelompok nasionalis sekuler inilah yang bertanggung jawab atas genosida ratusan ribu bangsa Armenia selama PD I.


***

Sampai disini kita setidaknya bisa menilai bila perkenalan pertama Teori Evolusi di dunia Islam bukan saja terkait transfer ilmu pengetahuan melainkan juga filsafat, ideologi dan gerakan. Dimana Evolusi bukan hanya milik para pekerja laboratorium yang acuh tak acuh dengan dunia sekitar, tapi telah menjadi alat perjuangan, kebangkitan sosial, agama dan budaya. Evolusi telah keluar dari batasan-batasan biologi merambah ke ranah pengetahuan lain, jauh dari yang pernah terpikirkan pertama kali oleh Charles Darwin. Maka jangan heran bila para ulama yang melihat perempuan tanpa jilbab saja sudah gundah gulana dihadapkan dengan sebuah cara berpikir yang “sangat monster” seperti evolusi ini bisa anda bayangkan sendiri reaksi mereka.

Satu-satunya keuntungan yang ada hanyalah, hampir 90% umat Islam saat itu buta huruf. Jadi semua kegilaan yang terjadi dikalangan elit intelektual Arab seputar teori Darwin tidak memiliki efek yang dalam di kalangan grass root. Hidup berjalan sebagaimana biasa hingga tiba masa perang.

Berbanding terbalik dengan situasi 70 tahun kemudian, dimana angka literasi dikalangan umat Islam diatas 95% dan persebaran informasi sangat fluid. Bahkan meskipun argumen-argumen yang digunakan kelompok anti-evolusi macam Harun Yahya dan jaringan Wahabi sangat-sangat tidak intelek dan receh, tapi impact yang dihasilkan ditengah masyarakat muslim sangatlah besar.

Catatan Kaki

[1] Ziadat, Adel A., Jallow, Baba G.. Western Science in the Arab World: The Impact of Darwinism 1860–1930. United Kingdom: Palgrave Macmillan UK, 1986. hal. 26

[2] Elshakry, Marwa. Reading Darwin in Arabic, 1860–1950. United Kingdom: University of Chicago Press, 2014. hal. 175

[3] Two Clashing Giants: Marxism and Darwinism | OpenMind