Penulis
9 bulan lalu · 107 view · 3 menit baca · Hukum 74010_82509.jpg
Ilustrasi: gtpolice.com

Darurat Narkoba yang Berlebihan

Marah, sedih, kecewa, dan bingung bercampur aduk di dalam hati; sebuah kolaborasi perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kurang lebih begitulah ungkapan perasan ketika dihadapkan dengan persoalan hukum tentang narkoba di Indonesia.

Saya paham betul persoalan hitam di atas putih tentang narkoba di negara ini. Kita sedang dalam fase "Darurat Narkoba", kata pemimpin republik ini. Undang-undang kita mengharuskan untuk menjebloskan siapa pun yang ketahuan mengonsumsi apalagi terlibat transaksi narkoba.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah logika di balik hukum pemberantasan narkoba ini.

Begini, hukum itu diciptakan untuk mendorong lahirnya Greater Good untuk orang kebanyakan. Inilah logika dasar dari hukum. Gampangnya, sesuatu yang mengurangi kebaikan untuk banyak orang adalah pelanggaran.

Persoalannya adalah apa yang baik itu? Nah, ini tergantung filsafat moral yang dianut oleh masyarakat setempat.


Daripada bicara panjang lebar tenang filsafat moral (yang memang sangat panjang dan pasti membuat tangan pegal), mari langsung masuk ke pokok persoalan. Masyarakat modern seperti kita, menganut filsafat moral utilitarianisme yang berdasarkan pemikiran John Locke, lalu dikembangkan John Stuart Mill, kemudian disempurnakan oleh John Rawls dan Jonathan Bentham.

Utilitaranisme berbicara bahwa yang terbaik adalah kebahagiaan orang banyak. Jadi, apa pun yang menguranginya adalah kejahatan. Contohnya, kalau kamu mencuri motor saya, maka kamu akan membuat kebahagiaan saya berkurang. Artinya, kamu melakukan kejahatan dan patut dihukum.

Apakah kalau kamu mengejek saya, maka kamu patut dihukum? Tidak juga, sebab kadar orang itu berkurang kebahagiaannya ketika diejek sulit diukur. Terlalu subjektif sehingga sulit dijadikan indikator sebagai objek hukum.

Sebetulnya, perlu  juga memahami konsep hak kepemilikan dalam filsafat moral utilitarianisme yang berakar dari John Locke. Jadi, ada 2 faktor seseorang bisa dijerat hukum. Yang pertama, kelakuannya berpotensi mengurangi kebahagiaan orang lain. Kedua, merampas hak kepemilikan orang lain. Ya, kurang lebih begitulah logika hukum.

Lantas, mengapa pengguna narkoba bisa dijerat hukum? Bukankah ia tidak melanggar 2 faktor di atas? Apakah karena narkoba membuat seseorang menjadi kecanduan sehingga orang tersebut tidak dapat melakukan aktivitas ekonomi? Enggak juga.

Ada banyak artis, musisi, bahkan atlet atau malah pekerja swasta yang menggunakan narkoba tapi tetap mampu beraktivitas.

Oke, memang faktor adanya narkoba yang membuat penggunanya kecanduan berat. Tidak bisa hidup normal tanpa narkoba. Sakau, sakit karena engkau. Sebut saja heroin, putaw, kokain, dan lain-lain. Tapi, apakah tidak menggeneralisir beberapa hal yang berbeda dalam satu tabel?

Orang Tiongkok sering kali mendapat label pelit, tapi mengapa semua orang Tiongkok itu pelit bukan saja tidak bijak. Anggapan itu juga salah total sama halnya dengan ganja, menyamaratakan dengan narkoba yang memiliki tingkat kecanduan tinggi adalah anggapan salah.

Lagi pula, apakah hanya narkoba yang membuat penggunanya kecanduan seperti mayat berjalan? Kalau kita mau sedikit membuka pikiran, ada banyak sekali hal yang memuat manusia menjadi kecanduan. Gampangnya adalah game online. Pasti pernah dengar, kan, seorang pecandu game yang sampai meninggal dunia? Kalau belum, mungkin kamu kurang membaca.


Oke, memang benar adanya kalau dibilang narkoba memiliki efek merusak. Tapi lagi-lagi bukan anggapan yang bijak jika menyamaratakan semua efek merusak dari semua narkoba. Rokok, alkohol, gula, bensin, dan lain sebagainya juga punya efek merusak.

Saya katakan sekali lagi, kalau saja kita tidak mau sedikit membaca, hal yang saya sebut diatas jauh lebih merusak dibandingkan ganja. Tapi, apa yang bisa diharapkan dari bangsa yang kemampuan literasinya nomor 2 dari bawah menurut riset PICA?

Narkoba yang saya tekankan di sini adalah jenis ganja. Beberapa negara maju yang rela menggelontorkan dana negaranya untuk riset sudah mulai terbuka matanya. Beberapa dari mereka sudah berani melegalkannya.

Dari beberapa hasil riset, ganja memiliki manfaat yang sangat luas. Termasuk manfaat medis dan tekstil. Bacalah sendiri kalau tidak percaya. Bagaimana dengan penggunaan ganja yang bertujuan untuk rekreasi? Ini masih dalam ranah perdebatan.

Tetapi, bukankah filsafat moral yang kita anut dewasa ini bertujuan agak manusia mencapai kebahagiaan? Ada yang dengan cara belanja gila-gilaan demi menjadi paling modis. Ada yang bermain game online seharian suntuk untuk mendapatkan ranking 1. Ada yang mengejar hasrat seksual, baik dari mengumbar janji manis ataupun merogok kocek, untuk memperoleh kenikmatan seksual.

Lantas, apa yang salah dari pengguna ganja yang mengejar kebahagiaan dengan menghisapnya? Mereka juga melakukan jual-beli dengan kesepakatan. Artinya, tidak ada yang dirugikan, baik penjual maupun pembelinya.

Sayangnya bangsa kita senang memelihara kebodohan untuk tujuan politis. Meninabobokan kesadaran kritis dengan candu agama!


Artikel Terkait