Menurut pemerintah Jokowi, Indonesia sedang mengalami “darurat narkoba“ dengan estimasi 18,000 korban per tahun. Kemudian untuk menanggulanginya, pemerintah memilih hukuman mati bagi pembawa narkoba sebagai solusi.

Argumen pemerintah adalah: Generasi muda berada di bawah ancaman narkoba, dan oleh karena itu pembawa narkoba harus dieksekusi mati supaya orang tidak berani lagi menjual atau membawa narkoba. Semua masalah beres karena sumber permasalahan terdapat pada orang yang membawa dan menjual narkoba.

Mampukah kita melihat cacat pada argumentasi ini? Apakah mungkin menolak kecanduan narkoba dan mengurangi korban narkoba hanya dengan mencabut nyawa pengedarnya? Saya rasa yang harus dilakukan, pertama kita harus mengerti bagaimana manusia kecanduan narkoba. Apa yang menyebabkan kecanduan? Sayangnya dalam argumentasi pemerintah, faktor kecanduan terbatas pada narkoba saja.

Narkoba menyebabkan kecanduan yang berakhir maut – Pandangan negatif kita terhadap narkotika berasal dari sebuah eksperimen yang dilakukan pada awal abad ke-20. Pada eksperimen tersebut, seekor tikus diletakkan dalam sebuah ruangan yang berisi dua jenis air. Satu air biasa dan satu lagi adalah air dicampur heroin. Yang terjadi, tikus memilih air berheroin terus-terusan hingga tikus mati karena narkotika tersebut.

Tetapi pada dekade 70an, seorang profesor psikologi bernama Bruce Alexander meragukan eksperimen tersebut dengan asumsi: tikus berada sendiri dalam kandang. Bruce Alexander berpandangan bahwa tikus juga makhluk sosial seperti manusia. Tikus memilih minuman bernarkotik karena tikus merasa stress dan bosan.

Berdasarkan asumsi tersebut kemudian ia melakukan sebuah eksperiman baru. Dia tidak lagi menggunakan seekor tikus sendiri saja dalam sebuah kandang kecil. Tikus eksperimen diperbolehkan hidup dalam kandung besar bersama tikus-tikus lain, tapi bisa bermain dan bercinta – tempat yang menjadi surga untuk tikus.

Para tikus juga bisa memilih antara air biasa dan air yang dicampur dengan narkotika. Dan kemudian apa yang terjadi? Tikus jarang minum air yang dicampur dengan narkoba dan jika tikus meminumnya, dia tidak kecanduan dan mampu memilih air biasa lagi.

Kita mampu menarik kesimpulan bahwa bukan narkoba saja menyebabkan kecanduan tapi lingkungan sosial. Tentu saja eksperimen ini terbatas hanya dengan tikus saja, bagaimana dengan manusia? Tahukah kita bahwa kita bisa mendapat narkoba di rumah sakit? ketika kita di rumah sakit dan menderita penyakit yang menyebabkan rasa sakit atau rasa sakit setelah operasi, kita menggunakan narkotika untuk meredam rasa sakit yang dirasakan.

Dan justru narkoba yang digunakan di RS jauh lebih kuat daripada yang bisa didapat di pasar bebas. Walau begitu, penggunaan narkotika ini tidak membuat pasien menjadi kecanduan. Mengapa? karena, ketika mereka sehat lagi dan pulang ke keluarga mereka, hilang sudah keinginan untuk menggunakan narkoba.

Manusia yang kecanduan narkoba adalah manusia yang mengalami masalah sosial dengan lingkungannya. Mereka yang tidak peduli atau stres. Manusia yang yang memiliki masalah sosial bisa kecandungan dengan banyak hal selain narkoba. Bisa kecanduan rokok, alkohol, coklat, main game aplikasi, nonton televisi, nonton pornografi, dll. Tentu saja, menjual narkoba itu kejahatan dan mereka harus diadili. Tapi dengan itu saja, akar masalah belum selesai.

Dewasa ini, banyak manusia ternyata hidup dalam kandang layaknya tikus eksperimen. Mereka tidak mengalami pengakuan dari lingkungan sosial. Pemerintah yang benar-benar peduli dengan korban narkoba seharusnya tidak melakukan politik simbol saja, tapi membangun program rehabilitasi dan memikirkan apa alasan yang membuat manusia tidak merasa nyaman dengan masyarakat ini.

Itu sebenarnya tugas besar yang harus dikerjakan bersama dengan masyarakat: Kita butuh wacana tentang bagaimana kita mau hidup, apa yang penting supaya manusia hidup secara layak, dengan pengakuan dan tanpa ketakutan. Manusia adalah makhluk sosial tapi kita mewujudkan sebuah masyarakat di mana hubungan sosial sering gagal.

Namun, tampaknya pemerintah memilih jalan praktis tanpa mau menyelesaikan masalah yang sesungguhnya. Mengeksekusi mati kurir narkoba dianggap jauh lebih mudah. Padahal banyak riset sudah menjelaskan bahwa hukuman mati tidak punya efek apa-apa terhadap kriminalitas.

Di Amerika Serikat misalnya, angka kriminalitas di Negara bagian yang menerapkan hukuman mati tidak lebih besar daripada di Negara bagian yag tidak menerapkannya. Tidak jauh berbeda dampak yang diberikan penerapan hukuman mati dalam tindak pencegahan kriminalitas.

Jokowi berusaha untuk menggambarkan diri dan pemerintahannya sebagai pemimpin dan pemerintah yang kuat: eksekusi mati, foto di kapal perang di laut Natuna, hukuman kebiri untuk pemerkosa hingga program bela negara. Tapi semua itu hanya politik simbol yang sebenarnya tidak memberi solusi untuk akar masalah tertentu. Hanya kalau warga menjadi cerdas dan tidak dipuaskan lagi dengan politik simbol saja, kita bisa mulai mencari solusi yang benar.

Dalam kasus narkoba, Indonesia butuh sebuah wacana luas tentang bagaimana kita bisa mewujudkan hubungan sosial yang memanfaatkan individu sehingga individu tidak merasa sendiri, terancam dan putus asa hingga kecandungan narkoba. Darurat narkoba itu sebenarnya efek dari masyarakat yang belum suksess membangun hubungan sosial yang sehat bagi semua.

Kebanyakan korban narkoba sesungguhnya di Indonesia adalah anak dari kelompok miskin yang kecandungan menghirup lem perekat. Menghirup lem perekat merusak otak dan dan lem perekat merupakan salah satu narkoba yang cukup berbahaya. Tapi remaja miskin bisa membeli pereka di mana-mana dan kalau mereka mencium perekat, mereka melupakan masalah mereka untuk sebentar.

Tapi masalah yang kelompok miskin alami adalah ciptaan masyarakat sendiri karena politik gagal menyelesaikan masalah sosial yang membuat anak miskin kecandungan mencium perekat. Kecandungn itu juga masalah sosial. Kenapa Indonesia yang begitu kaya sumber daya alam masih memperbolehkan kemiskan sehingga masyarakatnya bisa kecandungan narkoba?

Kalau bangsa Indonesia benar-benar mau menolak narkoba, bangsa ini harusnya mencari solusi yang jujur dan melupakan jalan pintas yang tidak pernah menyelesaikan masalah apa pun justru gagal membentuk citra sebagai negara yang kuat tetapi Negara yang gagal menyelesaikan permasalahan yang dibuat oleh dirinya sendiri.