Jikalau ketidakadilan dianggap biasa, subversif dipersekusi, dan ketika satire berujung diklarifikasi, sangatlah beralasan jika bangsa ini sedang lupa cara berguyon, dan menjadi keharusan jika asumsi yang dibangun adalah kita hidup di negeri para "Penjahat".

"Parah" mungkin kata singkat yang cocok untuk menggambarkan tanggapan tentang darurat humor Indonesia.

Setahu saya, bangsa +62 ini sangat senang berguyon dengan taste of humor masing-masing orang yang beragam. Sayangnya, untuk masa ini, tepatnya dengan diiringi berbagai drama terkini, di mana merebaknya segala unsur pembodohan; humor semua orang dipaksa harus sama. Ini layaknya tidak lucu dipaksa "tertawa" dan lucu dipaksa "mingkem", sudah sama seperti penonton alay yang tertawa karena dibayar saja. 

Dulu kita meyakini negara ini sangatlah lucu, dengan berbagai drama para penguasa dan kronconya. Saking lucunya, bangsa sendiri kita jadikan humor, setiap saat polemik diperintil jadi lawakan ala opera van java yang sebenarnya hanya upaya politik pengaburan segala persoalan. Ironisnya, bangsa ini tak mampu melihat gelagat lucu penuh "kemunafikan" ala guyon para elite.

Guyonan para elite dan rakyat biasa itu sangat beda sekali. Jikalau humor versi rakyat biasa adalah senjata kritik sosial, maka humor ala elite adalah membohongi rakyat, korupsi milik rakyat, membungkam rakyat, membodohi rakyat, memiskinkan rakyat, memaksa patuh rakyat, menjual rakyat, meninabobokkan kewarasan rakyat, dan masih banyak lagi. Ini adalah lelucon bagi mereka; dan untuk rakyat, ini adalah sebuah kejahatan tersistematis membekas sepanjang masa.

Humor versi elite adalah tertawa di atas penderitaan, terasa menyakitkan namun menyenangkan. Sedangkan untuk rakyat, mereka akan berhumor tentang kebobrokan para elitenya, dua variable humor dengan kesenangan yang berbeda.

Sudah sejak lama humor adalah cara paling aman untuk menyampaikan kritik kepada penguasa dan kroninya, namun lelucon ala rakyat biasa adalah humor yang tidak lucu bagi elite. Simpulannya; "apa yang lucu bagi elite tidak lucu untuk rakyat, dan apa yang lucu bagi rakyat tidak lucu untuk elite".

Tadinya kita akan dibuat lucu dengan kebobrokan bangsa sendiri, tapi makin ke sini +62 jadi tidak lucu lagi. Realitas yang membuktikan negara ini mulai tidak lucu lagi ketika humor dijadikan bahan "kurang kerjaan" penegakan hukum, sungguh sangat kurang kerjaan sekali memakai hukum mempersekusi sebuah humor.

Hal ini berawal dari unggahan guyonan seorang netizen Sula yang berasal dari Maluku Utara tentang 3 jenis polisi jujur versi Gus Dur, yang makin tak lucu lagi ketika terjadi fitnah ala kaum pro choice elit terhadap komika Bintang Emon. 

Ketika masih banyak yang menggunakan humor untuk mengkritik, seharusnya ada rasa bangga dari yang menjadi bahan lelucon. Mengapa tidak, faktanya humor berbau satire yang dijadikan kritik jauh lebih adem dan cerdas dibandingkan ujaran kebencian dan caci maki secara langsung. Humor adalah kritik sosial yang disampaikan secara tidak langsung, namun kekuatan humor dapat membakar jenggot beribu kepala, sehingga humor adalah cara paling aman nan jitu. 

Jika dilacak asal-usulnya, humor berasal dari kata Latin "umor" yang berarti cairan. Sejak 400 SM, orang Yunani Kuno beranggapan bahwa suasana hati manusia ditentukan oleh empat macam cairan di dalam tubuh, yaitu: darah menentukan suasana bahagia (sanguis), lendir yaitu perasaan tenang dan dingin (phlegm), empedu kuning menentukan suasana marah (choler), dan empedu hitam menentukan perasaan sedih (melancholy).

Perimbangan jumlah cairan tersebut menentukan suasana hati. Kelebihan salah satu di antaranya akan membawa pada suasana tertentu (Manser, 1989). 

Teori mengenai cairan itu merupakan upaya pertama untuk menjelaskan tentang sesuatu yang disebut humor. Namun demikian, ajaran yang disusun oleh Plato itu tampaknya sudah tidak ada hubungannya dengan pengertian umum di zaman sekarang ini. 

Dalam perkembangan selanjutnya, selama berabad-abad, lahirlah segala macam teori yang berupaya untuk mendefinisikan humor, yang mengacu pada artian humor seperti yang sekarang lazim dimaksudkan, yang ada hubungannya dengan segala sesuatu yang membuat orang menjadi tertawa gembira (Setiawan, 1990).

Di Indonesia, secara informal, humor juga sudah menjadi bagian dari kesenian rakyat, seperti ludruk, ketoprak, lenong, wayang kulit, wayang golek, dan sebagainya. Unsur humor di dalam kelompok kesenian menjadi unsur penunjang, bahkan menjadi unsur penentu daya tarik. 

Sebagai manusia normal, menikmati humor yang sehat sampai yang receh adalah kebutuhan menyegarkan setiap individu. Terkadang ketika humor cerdas selalu dipersekusi, di situlah timbul tanda tanya apakah manusia ini normal atau tidak. Karena sebagai manusia yang naluriahnya mencari kegirangan dan kesenangan tentunya humor adalah hal yang biasa bagi manusia "normal".

Sejak bayi pun kita akan tertawa kegirangan karena telah dilatih untuk menjadi bahagia. Bayangkan ada bayi yang berwajah murung dan tak pernah tertawa, Anda pasti akan kebingungan dan bertanya, apakah bayi ini normal atau tidak? 

Lalu ketika dewasa kita akan mendapati humor adalah hal yang lucu, nyeleneh dan unik tanpa harus mengetahui definisi dari lucu itu yang seperti apa. Karena sesuatu yang lucu dalam hal ini humor bersifat personal menurut pengalaman masing-masing orang, bisa juga kita artikan ini sebagai taste of humor atau setiap orang memiliki rasa yang berbeda terhadap humor.

Bagi yang lain, suatu lawakan atau candaan tertentu sangatlah lucu dan mengelitik. Tapi bagi yang lainnya, dia akan menganggap ini sangatlah "receh" atau tak ada lucunya sama sekali. Namun untuk humor yang cerdas tentunya hanya milik mereka yang high class.

Salah satu sosok dengan humor yang high class adalah Gus Dur. Presiden ke-4 Indonesia ini terkenal akan humor nyeleneh dan uniknya. Entah sudah berapa sosok yang ia jadikan bahan guyonnya.

Setiap kesempatannya Gus Dur selalu menggunakan kemampuan humornya untuk mencairkan suasana, atau sekadar melancarkan kritik halus yang cerdas. Gus Dur mengemas humornya dengan sangat ciamik dengan segala seluk-beluk pengetahuan dan ilmunya, hingga pada masa jabatannya ia adalah favoritnya para wartawan. 

Setiap saat para wartawan hanya menanti pernyataan yang keluar dari mulutnya. Mereka tak berani meninggalkan lokasi kalau belum yakin Gus Dur tak akan menemui tamu.

Meliput Istana Presiden pada era Gus Dur merupakan periode yang paling sibuk bagi para wartawan. Bagaimana tidak, mereka begitu totalitas karena pernyataan Gus Dur selalu menjadi spektakuler. 

"Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari-hari. Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat," kata Gus Dur saat itu, sehingga dari hal ini warga NU terkenal senang berguyon dan selalu menikmati humor yang "sehat".

Selain menandakan jiwa serta pikiran yang sehat, humor juga menggambarkan kualitas spiritual seseorang, dicirikan dengan humor lucu yang bukan dagelan melainkan humor yang meluhurkan kemanusiaan, dengan kata lain "dengan ilmu guyonanmu jadi bermutu, dengan guyon ilmu kamu tak bikin jemu".

Mengutip perkataan Milan Kundera, "Tiada kemajuan yang mungkin dicapai dalam kemanusiaan tanpa kemampuan menertawakan diri sendiri." Gus Dur tak sekadar berkelakar untuk orang lain, dia pun selalu menjadikan dirinya sendiri sebagai objek guyonan, mulai dari mengatakan ia presiden yang gila, kemudian guyonan tentang orang Indonesia banyak sehat dan pintar namun memilih dirinya yang buta sebagai presiden.

Dari hal ini kita harus memahami, bahwasanya guyonan bukan hanya berfungsi untuk kritik dalam upaya melakukan penyegaran pada orang lain, melainkan juga berfungsi me-refresh diri sendiri.

Fungsi humor yang lain adalah sebagai rekreasi. Dalam hal ini, humor berfungsi untuk menghilangkan kejenuhan dalam hidup sehari-hari yang bersifat rutin. Sifatnya hanya sebagai hiburan semata.

Selain itu, humor juga berfungsi untuk menghilangkan stres akibat tekanan jiwa atau batin. Sehingga melawan dengan kritik berbau humor tak harus dianggap kriminal! Namun ini adalah cara paling elegan untuk mencerdaskan. 

Sujoko (1982) mengemukakan bahwa di Indonesia, kalangan mahasiswa gemar menggunakan humor sebagai sarana "kritik sosial". Kegemaran itu menunjukkan bahwa mahasiswa adalah personal yang sedang dididik untuk menjadi manusia yang kritis, serta harus bersikap skeptis sehingga jalan pikirannya akan menjadi ilmiah, tidak begitu saja menerima semua yang dihidangkan. 

Dan sangatlah beralasan ketika humor sebagai media protes sosial, sebab media humor paling sesuai dengan kepribadian tradisional bangsa kita yang tidak suka dikritik secara langsung.

Dengan adanya sikap itu, di negara kita, protes tidak langsung mempunyai pengaruh yang lebih ampuh dibandingkan dengan protes yang langsung. Kritik yang disampaikan secara tertulis sering menimbulkan bencana, berbeda jika kritik disajikan dalam bentuk humor.

Di samping sebagai sarana kritik sosial, adakalanya humor juga dibuat sebagai alat aktualisasi diri. Dalam lingkungan tertentu, segolongan orang yang tidak berdaya untuk melemparkan kritik langsung mencoba melakukannya dengan menciptakan humor tentang yang bersangkutan.

Humor yang dilayangkan sebagai kritik sosial adalah bentuk perlawanan yang mencerminkan budaya orang Indonesia yang anti kritik secara langsung. Jangan sensitif dan berbanggalah karena pada hari ini banyak orang mengunakan humor cerdas sebagai bentuk kritik dibandingkan caci maki penuh kebencian. 

Referensi

  • SEJARAH, TEORI, JENIS, DAN FUNGSI HUMOR ; Didiek Rahmanadji, Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
  • Koleksi Humor Gus Dur Paling Nyeleneh; Guntur Wiguna