Dikarenakan topiknya yang sensitif dan variatif. Dark jokes sering kali menuai berbagai macam kontroversi di dunia maya. Walaupun demikian, bukan berarti humor ini sepi penikmat. Malahan genre komedi ini banyak disukai kalangan pemuda.

Contohnya saja Coki Pardede "the son of horus" dan Tretan Muslim. Mereka merupakan salah satu komedian yang sukses mempopulerkan genre humor Dark Jokes. Duo Komika ini mampu membuat masyarakat maya khususnya para pemuda, seolah-olah mewajarkan setiap ucapan tabu yang mereka lontarkan. Namun, bukan berarti mereka terlepas dari kecaman netizen. Beberapa kali mereka dihujat karena kontennya yang nyeleneh dan jokes-nya yang kelewatan. 

Seperti dalam salah satu konten YouTube mereka beberapa tahun lalu, duo komika ini mencampur daging babi dengan kurma. Tak ada maksud tertentu, namun mereka dihujat karena dianggap telah menghina agama Islam. Lalu dalam cuitan Coki Perdede dalam Twitter yang lagi-lagi dihujat karena menjadikan corona sebagai bahan guyonan.

Gong Xi Fa Cai!! Apakah di Tiongkok pas angpao dibuka isinya virus corona?" tulis @pardedereza dalam cuitan yang dibuat pada Sabtu (25/1/2020).

Dalam dark jokes tidak ada batasan dalam mengambil suatu bahan bahasan. Biasanya para Creator Dark Jokes memilih bahasan yang memiliki potensi untuk menjadi kontroversial. Hal ini bertujuan untuk menarik minat para penonton untuk mengikuti creator tersebut. Bahasannya bisa tentang agama, ras, kematian, bencana alam dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal hal yang tidak menyenangkan. 

Para pemuda sering kali menggunakan humor ini hanya untuk sebatas mendapat ketenaran dan juga tuaian kontroversi. Dengan iming-iming terkenal, para pemuda bahkan rela melakukan apapun demi menggapai satu kata Ini yang bahkan tidak sebanding dengan hal dilakukannya.

Misalnya saja, pada beberapa content creator yang pernah saya temui di beranda FYP TikTok. Pemuda tersebut mengungkapkan begini, “mau-maunya bapak gw di Invite Tuhan, nah sekarang hilangkan wkwkwk.” Dan pada contoh lain ada juga yang berbunyi seperti ini “kamu tau nggak kenapa hanya ada 363 hari di kalender yatim piatu?? Jawabannya karena mereka tidak punya hari ibu dan hari ayah wokwokwok. " 

Namun pada sisi lain, banyak content creator pula yang menggunakan kekurangannya , agamanya, bahkan aibnya sendiri untuk membuat humor ini. Biasanya para content creator ini memiliki semacam Card Pass untuk memakai bahasan tersebut.

Seperti contoh pada seseorang ingin membuat dark jokes tentang bahasan difabel. Bila content creator tersebut juga difabel, maka dapat dipastikan humor tersebut dapat diterima di masyarakat maya. Dalam artian tidak menuai kontroversi. Namun sebaliknya, bila bahasan tersebut dibawakan oleh seseorang yang tidak ada sangkut pautnya dengan bahasan tersebut, maka saya yakin kolom komentar pasti banyak berisi ujaran kebencian terhadap si content creator.

Dalam dark jokes ada juga humor yang  selain menghibur dapat juga menambah jiwa toleransi beragama. Walaupun saya tidak menganggap konten tersebut “dark jokes”, tapi ada sebagian masyarakat yang tidak menyukai dan menganggap candaan ini “dark jokes”. Jadi saya ingin mencoba memahami bagaimana kedua sisi tersebut. Misalnya saya ambil dari salah satu content creator Youtube yang disebutkan namanya yaitu NIKO JULIUS. Dalam contentnya dia Me-mix lagu kristen dengan islam yaitu yang berlirik :

SIMON PETRUS, ANDREAS, YAKOBUS, YOHANES, PILIPUS, THOMAS, ALI BIN ABI THOLIB,THALHAH BIN UBUBAIDILLAH, ABU BIN ALJARRAH, USTMAN BIN AFFAN ,UMAR BIN KHATAB yang kedua jadi khalifah, sahabat rasulullah”. 

Kira kira begitulah liriknya. Tentu saja dengan bahasan ini saya dapat memilah dua kubu. Yang satu pro terhadap konten tersebut dan memuji atas karyanya, yang biasanya didominasi oleh para pemuda. Sedangkan kubu lainnya yaitu menentantang adanya parodi lagu tersebut yang biasanya dilontarkan sekelompok anak “Udah Gede”.

Dari uraian di atas, saya dapat menyadari bahwa genre humor Dark Jokes ini baru baru muncul atau populer di kalangan pemuda, berbarengan dengan pandemi Covid-19. Serta dengan munculnya influencer dan content creator muda, yang juga turut meramaikan humor ini. Membuat para pemuda semakin tidak takut mengambil bahasan yang tabu. 

Pemuda yang gabut di rumah karena adanya pandemi. Biasanya mulai menantang dirinya di sosial media. Salah satunya contohnya yaitu dengan bersaing dalam membuat Dark Jokes. Para pemuda yang awalnya hanya memakai bahasan yang sewajarnya, kini mulai merambah ke topik yang lebih dalam.

Nah, dengan adanya ajang kompetisi inilah genre dark jokes mulai menggandrungi anak-anak muda atau biasanya di sebut humor millenial. humor ini hanya bisa dipahami anak anak muda atau tidak menutup kemungkinan generasi Y juga paham dengan jokes ini.

Wajar saja kalau fenomena humor ini mulai muncul saat masa pandemi seperti saat ini. mengingat para pemuda juga butuh yang namanya media penyalur hasrat energik-nya di masa pandemi. Saya yakin fenomena ini mungkin akan surut pada waktunya, ketika para pemuda sendiri sudah mendapatkan media penyalur yang lain.