Pandemi Virus Corona di Indonesia pada gelombang dua ini makin meningkat pesat bahkan penyebarannya kian meluas di tengah-tengah masyarakat kita. Ironisnya, meskipun derajat kesehatan masyarakat kian memburuk akibat Covid 19, namun masih ada banyak orang yang mengindahkan aturan protokol kesehatan.

Padahal aturan ini seyogianya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghalau penyebaran Covid 19, misalnya; menjaga jarak minimal 1 (satu) meter, menjauhi kerumunan, rajin mencuci tangan dan memakai masker di saat bepergian.

Aneka cara telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengubah kebiasaan masyarakat, namun tetap saja aturan mengenai protokol kesehatan tersebut sering kali diabaikan, padahal kita ketahui bersama sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan akibat terkena wabah Virus Corona yang dapat mematikan itu.

Kita tidak bisa hanya tinggal diam atau mendiamkan kondisi seperti ini karena satu nyawa manusia saja sangatlah berarti sehingga kita harus dapat menerapkan software gaya hidup baru yang terejawantahkan dalam aplikasi aturan protokol kesehatan penangulanganan Covid-19 karena diharapkan dengan mengimplementasikannya peluang kita untuk dapat memproteksi lingkungan sekitar dan terhindari dari epidemi virus berbahaya tersebut akan makin besar.

Pada akhirnya kita dapat melindungi diri kita, keluarga, kerabat, teman-teman dan anggota masyarakat lain yang terjaga dari bahaya penyebaran Virus Corona tersebut. Kemudian, timbul pertanyaan bagi kita semua bahwa bagaimana cara yang efektif untuk mendorong atau menggerakkan masyarakat supaya dapat mengikuti aturan protokol kesehatan penanggulanganan Covid-19?

Seperti yang telah kita ketahui bersama, baik melalui pemberitaan di media televisi ataupun media yang lainnya, untuk gaya merajuk seperti yang sering dilakukan banyak pejabat dengan cara; mengomel dan marah-marah, bahkan ada pula yang sampai marahnya tidak tentu arah, namun dengan gaya merajuk tersebut justru memperoleh feedback hasil yang kurang baik, terbukti dengan masih saja ditemukan banyak anggota masyarakat yang enggan untuk memakai masker pada saat bepergian atau berinteraksi dengan orang lain.

Bahkan meskipun mereka sudah mengetahui adanya risiko penularan yang tinggi, namun tetap saja mereka tidak patuh pada aturan protokol kesehatan. Jangankan untuk mengubah pola kebiasaan yang baru dengan menggunakan masker, misalnya, hanya sekedar untuk menggugah pikiran orang bahwa kita harus melindungi diri kita dan juga orang lain di sekitar kita.

Justru dengan memakai masker merupakan salah satu bentuk cinta kita terhadap diri kita sendiri, menyayangi diri sendiri dengan menjaga kesehatan pribadi dan juga meminimalisir penularan Covid-19 kepada orang lain.

Seandainya kita tidak menyadari jikalau kita sudah terkena virus tersebut, namun tanpa ada gejala sakit atau disebut juga Orang Tanpa Gejala (OTG). Dengan pengunaan masker, kita dapat menekan angka penyebaran dan mengurangi penularan terhadap orang-orang di sekitar kita.

Lantas, bagaimana gaya komunikasi yang sebaiknya dilakukan agar efektif untuk mengubah pola pikir masyarakat Indonesia yang bermacam-macam itu? Selain pula gaya komunikasi ini sedapat mungkin bisa dimengerti oleh semua kalangan.

Masyarakat awam banyak yang belum paham mengenai Virus Corona yang memang tidak nampak di mata bahwa saat ini keberadaan virus itu sedang mengancam nyawa manusia bilamana kita tidak berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Oleh karena itu, kita harus dapat memenuhi aturan protokol kesehatan penanggulanganan Covid-19.

Sekali lagi saya sampaikan bahwa gaya komunikasi merajuk dianggap kurang berhasil karena angka kebandelan masyarakat tetap saja tinggi, maka sebaiknya kita dapat menggunakan cara-cara yang lebih soft, yakni; dengan cara membujuk atau persuasif dan gaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat atau bahkan mengubah pola kebiasaan untuk semakin mematuhi aturan protokol kesehatan sehingga dengan cepat tercipta tameng konstruksi terhadap penyebaran Virus Corona di masyarakat.

Dengan begitu, derajat kesehatan lambat laun meningkat sehingga angka kasus terpaparnya Covid-19 akan mampu ditekan atau bahkan bisa mengalami tren penurunan secara signifikan.

Gaya persuasi tentu akan jauh lebih diterima oleh siapapun ketimbang penggunaan gaya merajuk yang tentunya dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi banyak orang sehingga bisa saja komandonya itu pun dianggap sebagai suatu paksaan atau bentuk represif.

Omelan tersebut justru nantinya ditanggapi dengan bersungut-sungut atau bahkan dibalas dengan kritikan tajam yang malah dapat menjatuhkannya seakan pejabat yang mengomel tersebut adalah lawan politik yang harus disalahkan.

Padahal tidak semua omelan memiliki maksud yang buruk, bahkan ada pejabat yang merajuk tersebut justru melakukan hal itu untuk kebaikan bersama, yaitu; ingin masyarakat terjaga kesehatannya dari ancaman Covid-19 dan jumlah korban jiwa sedapat mungkin dapat ditekan. Namun dengan gaya penyampaian komunikasi yang seringkali dicap negatif, justru hal ini menjadi boomerang bagi pejabat tersebut.

Apabila kita berada di posisi pengambil keputusan yang melibatkan banyak orang, tentu perihal ini dapat kita pahami bahwa mungkin saja gaya merajuk si pejabat adalah ekspresi perasaan yang ia tumpahkan karena ia benar-benar ingin melakukan tugasnya dengan baik, namun kondisi dan situasi di masyarakat belum sesuai dengan harapan. 

Sayangnya, tanggapan atau reaksi masyarakat ternyata bermacam-macam termasuk reaksi pihak yang justru melakukan serangan balik, berupa; bullying atau semacamnya.

Oleh karena itu, diperlukan gaya persuasi yang ideal untuk diimplementasikan secara hati-hati, mengingat situasi ini tidak mudah. Kondisi perekonomian yang terganggu oleh Covid 19 sudah melambatkan roda pergerakkan ekonomi, terutama bagi mereka dari golongan kelas menengah ke bawah yang harus menjadi fokus concernitas pemerintah.

Memang ada banyak bantuan sosial yang telah dikucurkan oleh Pemerintah agar menjadi stimulus nyata dalam membantu pemulihan ekonomi masyarakat, namun tujuan yang paling fundamen adalah kesehatan masyarakat itu sendiri.

Bagaimana mereka dapat tersadar bahwa saat ini ada ancaman nyata, yaitu; penyebaran Virus Corona baik itu melalui droplet ataupun udara yang kurang sehat sehingga masyarakat golongan menengah menjadi sadar dan tergerak untuk mematuhi aturan protokol kesehatan penanggulangan Covid 19.

Sebab itu, gaya persuasi seyogyanya dapat diterapkan, bukan hanya menjadi kewajiban bagi para pejabat yang berwenang, namun kita pula sebagai anggota masyarakat dapat berpartisipasi untuk saling menjaga diri dan orang lain agar senantiasa kita semua bisa menerapkan pola kebiasaan tersebut.

Gaya berkomunikasi ala persuasi itu tentunya harus merangkul semua kalangan; tua dan muda, anak kecil atau dewasa, kaum yang berpendidikan maupun yang kurang, ataupun aneka profesi dan lain sebagainya.

Bentuk sosialisasi gaya persuasi yang efektif adalah melalui media visual seperti; gambar pada poster atau komik, iklan layanan masyarakat atau bahkan film layar lebar yang memberikan pesan-pesan moral kepada masyarakat luas di dalam menghadapi Pandemi Virus Corona ini.

Bagaimana kita memainkan kecerdasan visual dan menampilkan dengan jelas ke muka publik mengenai pesan-pesan yang dapat dengan mudah sampai ke masyarakat sehingga kita bisa mengimplementasikanya pada kehidupan sehari-hari.

Salah satu gaya persuasi yang menarik adalah memainkan peranan kecerdasan linguistik untuk diterjemahkan dan dipahami oleh si penerima pesan. Misalnya saja, dengan gambar komik yang cukup menghibur atau menggelitik otak sehingga mampu menstimulus pikiran kita menuju kesadaran baru dalam mengkonstruksikan sikap untuk patuh pada aturan protokol kesehatan tanpa paksaan apapun.

Seni membujuk, yakni mengimbau secara halus atau tidak langsung sehingga ada kebebasan bagi individu untuk membuat pilihan, namun dengan penyampaian pesan yang  sangat menarik, maka arah pilihan itu sebagian besar tertuju pada objek bujukan.

Oleh sebab itu, gaya merajuk sebaiknya dihindari agar tidak menciptakan konflik di tengah masyarakat atau menjadi blunder bagi pihak yang melakukannya sehingga justru dapat merugikan diri sendiri.

Karenanya, kita dapat menggunakan gaya persuasi yang luwes, elegan dan cerdas. Bahkan yang paling unik adalah apabila si penerima pesan tidak sadar sedang diarahkan untuk mengikuti aturan protokol kesehatan sehingga melakukan perilaku seperti mematuhi aturan protokol kesehatan dengan suka rela tanpa paksaan.

Akhir kata, izinkan saya berbagi sarana aplikatif gaya persuasi yang mungkin saja dapat menghibur para pembaca.

https://www.instagram.com/p/CFXXO4qAwP2/?igshid=l0d11614n0jo

https://www.instagram.com/p/CFUnuMWgTPzMp_AFjXilRmlLJ-QHJCWzVj_mu00/?igshid=xiecxypiwiov

Mari kita terapkan gaya persuasi ketimbang membuang-buang energi kita dengan gaya merajuk! Bagaimanapun juga, lebih baik membujuk, daripada merajuk.