Ibu Rumah Tangga
1 bulan lalu · 23 view · 5 min baca menit baca · Pendidikan 41913_99410.jpg

Darimu Kutatap Dunia Menakjubkan

Meski dunia terus berkembang dengan segala kecanggihan teknologinya. Tak dapat dipungkiri ada hal di masa lalu yang menjadi jembatan akan kemutakhiran peradaban di masa kini. Jika dulu jalur komunikasi hanya melalui pena dan surat. Kini telah menjadi era digital. Tinggal pencet pesan terkirim saat itu juga. Tak perlu menunggu berhari-hari atau sampai menghitung purnama.

Namun tahukah bahwa peradaban modern dimulai dari penemuan kertas? Bagaimana mungkin ilmu bisa sampai ke masa depan tanpa perantara kertas? Jika saja para ilmuan tidak menuliskan ilmunya di atas lembar demi lembaran kertas, mana mungkin ilmu itu kian berkembang hingga saat ini. Dari manakah sumber literatur akan diperoleh?

Mengutip dari buku Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia karya Prof. Dr. Raghib As Sirjani. Pengraih penghargaan Mubarak di Mesir, bidang Dirasah  Al Islamiah menyatakan bahwa para ilmuan muslim senantiasa mendedikasikan karyanya melalui goresan pena. 

Seorang ilmuan besar Al khawarizmi berhasil meletakkan dasar dalam bidang ilmu aljabar hingga dunia mengenalnya sebagai  bapak aljabar dan ilmu itu diabadiakan dengan namanya. Kitab Al Jabar wal Muqobalah karyanya  menunjukkan bahwa kaum musimlah generasi pertama yang menggunakan  aljabar dalam arsitektur. 

Karya tersebut  menjadi buku induk dalam mempelajari persamaan dan uraiannya telah diterjemahkan dalam  bahasa latin dan inggris  menjadi rujukan dasar  di bidang matematika di universitas  Eropa. 

Masih banyak lagi ilmuan di bidang lain seperti Ibnu Sina bapak kedokteran modern. Telah menuliskan 250 karya diantaranya yang paling terkenal adalah Qonun Fi Thib yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai Qanon of Medicine, di dalamnya tertulis jutaan cara pengobatan dan obat-obatan.


Dunia mengenal Ibnu al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya,  Kitab al-Manazir (buku optik). Jika saja Beliau tidak menuliskannya di atas lembaran kertas maka kita tidak akan pernah mengetahui bahwa kecanggihan teknologi kamera masa kini dimulai dari penemuan kamera obscura sejak akhir abad 10 M. 

Bradley Steffens dalam karyanya bertajuk Ibn al-Haytham: First Scientist mengungkapkan bahwa  Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura, papar Bradley.

Selain Ibnu Sina, di bidang kedokteran tak asing pula ilmuan bernama Ibnu Qosim Al Zahrawi. Beliau telah menuliskan 30 jilid ensiklopedi bedah yang dijadikan rujukan utama ilmu bedah di Eropa selama beberapa abad dan menjadi rujukan ilmu kedokteran modern. Karyanya yang paling fenomenal adalah At-Tashrif Liman Ajiza an Talif, sebuah ensiklopedi kedokteran yang disusun dalam 30 jilid buku.

Abbas Ibnu Firnas, ilmuan muslim penemu konsep pertama pesawat terbang jauh sebelum Wright bersaudara menemukan pesawat terbang. Meski tidak sempat menyempurnakan penemuannya, Beliau menuliskan setiap hasil penelitiannya terkait pesawat terbang. Dalam buku-bukunya ia menuliskan konsep dari temuannya dan memberikan catatan penting terkait teori penerbangan.

Teknologi robot modern ternyata bermula dari konsep dasar robot di abad pertengahan. Dari konsep sederhana dikembangkan menjadi kompleks sehingga memudahkan pekerjaan manusia. Beliau adalah Al Jazari pencipta robot pertama kali. 

Penemuan ini dicatat dalam Kitab al-Jazari: al-Jami baina al-Ilmi wa al-Amal an-Nafi fi Shinaati al-Hil. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1974 oleh Donald Hill, seorang insinyur dan sejarawan Inggris. 

Menurut George Sarton, buku al-Jazari ini adalah buku yang paling baik dalam bidangnya. Al-Jazari membuatkan suatu mesin (robot) yang dapat melakukan gerakan menunduk dan tegak kembali. Di tangan robot tersebut terdapat teko berisi air. Tangan yang lain menyediakan handuk. 

Dan di kepala robot tersebut terdapat seekor burung. Jika waktu shalat tiba, burung tersebut berkicau. Ia pun maju menuju tuannya. Kemudian menuangkan air dari teko. Setelah selesai wudhu akan memberikan handuk yang ada di tangannya. Kemudian kembali ke tempat semula.


Muhammad Al Idrisi ahli geografi pembuat globe, melengkapi peta Bumi bulat tersebut dengan kitab Nuzhat Al Mushtaq Fikhtiraq Al Afaq atau Buku Perjalanan yang Menyenangkan ke Negeri-negeri yang Jauh. Di dalamnya berisicatatan kaki dari globe. Ensiklopedia itu memuat bagian-bagian dari peta secara detil dan lengkap. 

Kitab itu lebih dikenal dengan sebutan The Book of Roger atau Tabula Rogeriana. Siapa sangka globe yang kita kenal saat ini telah melewati perjalanan yang sangat panjang. Terdapat 70 lembaran peta datar telah dibuatnya kemudian disambung dalam simpul koordinat astronomi. 

Kemudian dituangkan dalam bola perak yang beratnya kira-kira 400 kilogram dengan diameter sekitar 80 inci. Di dalamnya terdapat tujuh benua. Selain itu, Al Idrisi melengkapinya dengan rute perdagangan, danau, sungai, dataran tinggi, dan pegunungan. Bola perak itu menjadi peta bumi bulat berbahan perak yang tahan lama. Peta dunia tersebut menjadi bagian dari kemajuan sains tertua di era pra-modern (tirto.id, 07/06/2017).

Anwar Ul Haque, dari Department of Pathology AJK Medical College, AJK University dalam tulisannya berjudul, Muhammad al-Idrisi Father of Modern Geography and Maps, menjelaskan petualangan Al Idrisi ke berbagai belahan dunia membuat namanya makin populer. 

Para navigator laut dan perencana militer Eropa pun tak asing dengan namanya. Hingga akhirnya Raja Roger II, seorang raja di Sicilia keturunan Normandia mengundangnya. Raja Roger memintanya membentuk sebuah peta dunia yang komprehensif (tirto.id, 07/06/2017).

Masih banyak lagi ilmuan lainnya. Mereka tak hanya menciptakan konsep dasar ilmu pengetahuan namun juga menuliskannya di atas lembaran - lembaran kertas. Lalu dari sini dapatkah kita membayangkan apa jadinya dunia masa kini tanpa perantara karya mereka yang segala ide briliannya dituangkan di atas kertas? Betapa kertas menjadi media ajaib yang mengantarkan dunia mencapai kemajuan teknologi di titik puncaknya.

Sekalipun saat ini adalah era digital tak akan mempu menyingkirkan peran kertas dalam setiap sendi kehidupan. Tak sekedar menjadi media literasi namun lebih dari itu digunakan sebagai subtitusi/pengganti berbahan plastik yang sulit tedegradasi. Industri kertas tak lepas menuai pro dan kontra. Namun bagi para pecinta literasi membaca di atas kertas memberi nuansa tersendiri dibanding via digital.


Industri kertas selayaknya mampu menjawab persoalan lingkungan yang akan dihadapinya. Penebangan pohon dapat mengancam kelestarian hutan. Jika penebangan pohon besar-besaran tidak disertai dengan penanaman pohon yang seimbang maka tunggulah kerusakan alam niscaya menanti. 

Maka diperlukan upaya untuk mencegah kerusakan huta sebagai konsekuensi dari pemenuhan kebutuhan kertas. Meliputi kebijakan pemerintah dan perusahaan, pendaur ulangan kertas serta efisiensi pemanfaatan kertas.

Kita dapat belajar dari Negara Swedia, pemasok produksi kertas terbesar nomor 4 di dunia. Penebangan dan pertumbuhan hutannya tetap seimbang. Sejak tahun 1994 Swedia telah menerapkan aturan untuk mengumpulkan kembali produk kertas bekas untuk didaur ulang.

Selama pengelolaan kertas berjalan baik maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Telah banyak inovasi teknologi pemanfaatan kertas menjadi lebih efisien. Sinergi peran pemerintah, masyarakat dan individu sangat menentukan apakah kertas akan menjadi nikmat atau berujung petaka.

Artikel Terkait