95797_99750.jpg
Cerpen · 6 menit baca

Dari WIFI menjadi WIFE

Wajah di balik cermin itu terpantul senyuman bahagia. Seorang gadis dengan kemeja dan balutan jilbab merah maroon menjadi penambah kebahagiaan yang terlihat di balik cermin itu. Hari pertama menjadi seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta sebagai staf accountant. Setelah lima tahun menjadi seorang mahasiswa akuntansi, kini status telah berubah. Kantorku tempat bekerja menerapkan sistem kerja online.

Akhir tahun 2014, sibuknya-sibuknya menyusun laporan keuangan. Aku  harus mengejar deadline yang telah ditugaskan oleh atasan untuk  menyelesaikan laporan selama dua pekan. Setiap malam notebook menjadi teman setiaku. Aku yang kebiasaan membahas pekerjaan lewat WhatsApp, kini harus bertatapan dengan notebook karena laporan.

Tak ada suara apapun yang terdengar di rumah malam itu kecuali suara jam dinding yang menunjukkan jam 00.00 WITA. Terbiasa begadang untuk mengerjakan tugas sewaktu mahasiswa, kini kuterapkan kembali sebagai seorang karyawan. Sebagai perusahaan yang menerapkan sistem online, tak lupa kuaktifkan hotspot dari ponselku. Hotspot yang pertama kali kuaktifkan setelah menjenguk adek di asramanya satu bulan yang lalu.

Sembari mengejar deadline, sesekali mataku dan jemariku berpindah tempat ke tab baru untuk menghibur diri karena lelahnya menatap angka-angka ratusan juta. Jelang beberapa jam, saya lebih menikmati streaming versi komedi untuk mengistirahatkan pikiranku.

Selain menonton, tak lupa kukunjungi blog yang telah kugandrungi selama mahasiswa. Jam menunjukkan 03.00 WITA, hujan turun membunyikan atap rumahku dengan keras. Mataku ikut menikmati turunnya hujan, tanpa kusadari aku terlelap di atas kasur bersama notebook setiaku.

Suara rintik hujan masih terdengar di telingaku, dengan cepat mataku melotot ke ponsel yang menunjukkan waktu subuh. Setelah dua rakaat, pagi ini aku harus segera ke kantor untuk mengikuti rapat akhir tahun. Kutarik notebook dan ponsel ke dalam tas, dan kulangkahkan kakiku secepat mungkin menuju gerbang lorong rumah. Pagi itu, seorang pria mengikuti kecepatan langkah kakiku. Aku dengan cepatnya mencurigai seseorang, dengan ketus kulontarkan kalimat padanya.

"Kamu mengkutiku ?” tanyaku padanya.

Tak ada balasan atas kalimatku padanya melainkan senyuman lebar dan tatapan matanya pada ponsel yang dia pegang. Aku tak menghiraukan, taksi yang kini kutunggu akhirnya datang. Sampai di kantor, orang-orang telah menuju ruang rapat. Tiba-tiba ponselku bunyi pertanda sebentar lagi akan dead alias mati total. Ini akibat tidak sadarkan diri tadi malam dan lupa mencharger. Ahh sudahlah, sambil rapat sambil mengisi batreinya tidak masalah.

****

Satu minggu lagi laporan yang diamanahkan kepadaku harus aku kirim ke atasan. Seperti malam sebelumnya, aku sudah terbiasa menyelesaikan pekerjaan pada malam hari. Entah aku merasa ini adalah hal paling buruk yang menimpahku, tengah malam lebih membuatku bebas berpikir untuk menyelesaikan tugas.

Tak ada suara-suara bising membuat telingaku terganggu. Tengah malam membuatku merasa bahwa hanya aku yang hidup di dunia ini, tak ada gangguan kecuali bunyi jam dinding khas di rumahku. Tak lupa kuaktifkan hotspotku sebagai teman dalam menyeselaikan tugas kantor. Tiba-tiba pesan dari 363 muncul di ponselku, pertanda paket dataku sebentar lagi eror. Aduh, perasaan baru seminggu paketku baru terisi. Kenapa cepat begini ? tanyaku dalam hati.

Tapi yah sudahlah, untung masih ada stok kartu yang baru aku beli. Tangan lincahku menarik sebuah laci yang di penuhi bekas kartu ponsel dan beberapa kartu baru. Dengan cepat kuaktifkan kembali ponsel itu. Malam semakin larut, tanganku dengan cepat mengetik dan menghitung angka-angka lewat aplikasi M-Yob dan akhirnya merampungkan beberapa laporan keuangan.

Aku tersenyum lepas, amanahku akan segera terselesaikan. Tiba-tiba suara aneh pertama kali terdengar di telingaku malam itu betul-betul mengganggu pekerjaanku. Kudengarkan baik-baik suara itu, entah darimana asalnya. Perlahan suara itu semakin keras. Andai saja aku tahu siapa di balik suara itu, akan kubuat dirinya menyesal.

***

Minggu pagi, tidak ada aktifitas selain  menyirami bunga di halaman rumah. Aku dengan keluarga yang menerapkan keadilan di dalam rumah sudah ditugaskan dan dijadwalkan untuk merawat bunga hari ini. Saudara perempuanku hari ini ditugaskan di dapur, sementara ibu hanya membantu dan mengarahkan sang adik di dapur. Aku memang lebih tertarik dengan tanaman dibanding harus bergelut dengan bahan-bahan dapur. 

api belum tentu, aku tidak bisa masak sama sekali. Ibu seorang alumni tata boga, sering membuat demo masak di rumah dengan para tetangga sebulan sekali. Jadi dari situ aku tau sedikit tentang memasak. Ayahku hari ini sedang keluar daerah mengurusi beberapa proyek.

Tiba-tiba pria yang seminggu lalu kulihat di gerbang lorong, sedang mencuci sebuah sepeda motor di depan rumah. Aku baru tersadar, ternyata aku mempunyai tetangga baru selama aku bekerja. Nasib kerja di kantoran membuatku kurang bergaul dengan tetangga rumah.

***

Matahari sudah menyengat kulitku, hari ini saatnya laporan itu harus kukirim ke atasan. Aku yang benar-benar ceroboh, ponselku masih menandakan kalau hotspotku masih menyala dari tadi malam. Aku menghiraukan semuanya, kukirim laporan itu tepat jam 12.00 WITA . Jam 12.00 siang ke atas, aku merasa lega akhirnya amanahku selesai dengan waktu yang tepat. Aku merebahkan badanku di atas kasur merah muda. Tiba-tiba suara dari arah pintu terdengar.

“Ibu boleh masuk nak ?” tanya ibu di balik pintu.

Aku terheran, ibu tidak biasa seperti itu. Kalaupun ada perlu, paling ibu langsung masuk kamar saja.

"Iya bu, masuk saja” tanyaku padanya.

“Nak akhir-akhir ini ibu liat kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Rumah terasa sepi. Adikmu sebentar lagi kembali ke pesantren. Kalau kamu masuk kerja, ibu sendiri lagi dong di rumah. Ayah juga sudah tua masih saja mengurus proyeknya”

“Maksud ibu apa to ? Ibukan sudah biasa seperti ini ?” Dalam hatiku timbul perasaan tak karuan.

“Ibu mau kamu nikah aja ya nak, umurnya juga sudah cukup untuk menikah. Kan kalau nikah dan ibu punya cucu. Tidak sendiri lagi”Jawab ibu.

Mendengar hal itu, antara senang dan tidak. Senang karena diminta nikah, dan sedihnya harus nikah sama siapa juga. Aku yang terlalu sibuk, tidak pernah sampai berpikir kalau aku harus ditawarkan ibu untuk menikah dengan alasan rumah sepi. Tapi aku sadar, umurku sudah saatnya harus menikah. Tapi kan aku ini wanita, tidak segampang laki-laki untuk mencari pendamping.

Di keluargaku, aku memang seperti anak laki-anak laki yang lebih tekun bekerja di luar dan mengejar target sebagai seorang wanita karir. Tapi sesekali ibu selalu mengingatkan untuk sadar, bahwa apa yang kamu kejar tak selamanya bisa membuatmu bahagia. Kamu butuh keluarga baru nak.

*** 

Tiba-tiba suara mobil ayah terdengar di depan rumah. Aku melihat dari jendela, ayah lagi mengobrol seorang ibu muda di luar pagar. Aku curiga, jangan-jangan ayah datang dengan istri baru. Kakiku dengan gesitnya berlari ke dapur menemui dan melapor kejadian depan rumah. Ibu tersenyum, itu tetangga kita nak. Suara pintu terdengar dari luar, ayah dengan nada lembutnya memanggilku bersama ibu.

“Nakk sama ibu sini dulu ada tamu” kata ayah.         

Ibu menarik tanganku ke ruang tamu, tiba-tiba laki-laki di seberang rumah juga ada di situ. Matanya menunduk dengan tersipu malu. Tanpa basa-basi wanita di samping laki-laki itu memintaku untuk menjadi menantunya. Aku merinding dan mengingat kalimat ibu. Dengan nada cepat, semua kuserahkan ke ibu dan ayah.

***

Dua minggu persiapan pernikahanku dengan laki-laki yang hanya kukenal dengan senyumnya, semuanya kuserahkan pada Allah. Jalannya jodoh hanya Allah yang tahu. Laki-laki yang ternyata bawahannya ayah sebagai seorang arsitek, aku tak pernah tahu kalau selama ini ayah punya bawahan seumur aku. Lagian aku juga terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan tak pernah tahu aktivitas dan karyawan ayah.

***

Pertama kali aku berada di dekat laki-laki yang kini jadi suamiku dengan jarak hanya beberapa jengkal. Aku tersenyum manis padanya, begitupun dia. Aku baru saja ingin memulai percakapan tentang pekerjaannya selama ini, tiba-tiba ponselku bunyi dengan nada sms dari atasan:

“Mba, tolong cek emailnya. Ada file yang baru saya kirim”

Kuraih notebookku, kuaktifkan kembali hotspotku. Tiba-tiba aku tersadar, selama ini aku tak menggunakan pasword pada hotspotku. Kucek ponselku, dan kutemukan ada beberapa ponsel yang terhubung di hotspotku. Pantasan akhir-akhir ini paketku cepat ludes, rupanya ada orang di balik semua ini..

Dengan nada lembutnya suamiku bertanya:

“Jadi selama ini aku telah menggunakan wifi dengan melalui hotspotmu, maafkan aku karena aku mengira itu hotspot di rumah”. 

Aku melempar senyum kepadanya:“Tak perlu minta maaf, karena aku telah menjadi seorang “wife” dalam hidupmu".

Wajah suamiku kembali memerah, entah tersipu malu karena ucapanku atau merasa bersalah karena diam-diam menggunakan hotspot tanpa izin.