Kita tidak terlahir, tetapi (dibentuk, dikonstruksi) menjadi perempuan. Demikian pernyataan Simone de Beauvoir (1949) dalam buku Le Deuxième sexe (The Second Sex). Tidak banyak yang tahu, setidaknya hampir tidak ada yang mengutip, bahwa Beauvoir mengatakan hal yang sama juga berlaku pada laki-laki. Laki-laki tidak terlahir sebagai laki-laki, tetapi ia adalah hasil konstruksi.

Menjadi laki-laki, pertama-tama adalah berarti, tidak menjadi perempuan. Tetapi tidak cukup demikian. Menjadi laki-laki berarti adalah, dalam cara-cara yang jauh lebih problematis : tidak boleh jadi keperempuan-keperempuanan (Olivia Gazalé, 2017). Pada akhirnya, mekanisme virilitas bukan hanya membentuk hubungan dominasi antar jenis kelamin (laki-laki/perempuan) tetapi juga hubungan dominasi antara laki-laki itu sendiri (laki-laki jantan/laki-laki tidak jantan atau keperempuan-keperempuanan). 

Laki-laki tidak dianggap sebagai laki-laki kecuali jika ia menampilkan atribut-atribut kejantanan, kecuali jika ia memiliki kualitas maskulin seperti kekuatan dan kekuasaan. Memiliki atribut dan kualitas semacam ini membuktikan, mengesahkan, mengkonfirmasi kelaki-lakiannya. 

Kalimat “Jadilah laki-laki”, bukan hanya undangan untuk memenuhi tuntutan kejantanan tetapi juga menolak effeminacy, menolak apapun yang membentuk sikap keperempuan-keperempuanan dalam diri si (anak) laki-laki. Itulah sebabnya, dalam norma masyarakat kita yang heteroseksual, kelompok homoseksual dianggap sebagai subspesies, dihina, direndahkan, diserang, dianiaya….

Dan ketika masyarakat melihat kelompok laki-laki homoseksual, kita menerapkan konsep virilitas yang sama. Tulisan Hendri Yulius Wijaya dalam Stonewall Tak Mampir di Atlantis menggambarkan hal ini  : Mama tak murka saat kubilang aku menyukai sesama laki-laki, dengan satu syarat : “yang penting kamu tidak jadi perempuannya”. 

Sudah tiga hari ini, tagar metoogay sedang ramai di media twitter di Prancis. Laki-laki (yang lemah, yang tidak memenuhi kriteria kejantanan, yang dianggap bukan laki-laki) menjadi korban kekerasan seksual yang pelakunya adalah laki-laki (yang lebih kuat, yang jantan, yang dianggap laki-laki beneran). Tiga hari ini mereka akhirnya bersuara. Saatnya sudah tiba untuk membongkar sistem kejantanan yang korbannya bukan hanya perempuan tetapi juga laki-laki.

Mungkin bisa dimulai dengan membaca buku Good Boys Doing Feminism karya Nur Hasyim, salah satu pendiri Aliansi Laki-laki Baru. Dari mas Nur Hasyim inilah dulu saya belajar konseling laki-laki pelaku KDRT untuk pertama kalinya. Waktu itu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya baru berkenalan dengan feminisme. Pengenalan teori yang saya miliki masih sangat minim, pemahaman saya masih kacau, dan pengalaman saya bisa dibilang masih nol. 

Mas Nur Hasyim ketika itu menjadi salah satu guru saya. Dari laki-laki ini, saya belajar tentang KDRT dalam hubungannya dengan maskulinitas. Diajari feminisme oleh laki-laki, mengapa tidak? Dan jika laki-laki belajar feminisme, dan menjadi feminis? Saya sangat mengharapkannya. 

Laki-laki perlu menjadi feminis bukan semata-mata karena ia sendiri juga dirugikan dalam budaya patriarkal. Dalam hal ini, saya ingin mengacu kepada pemikiran Beauvoir (1955) mengenai tanggung jawab kelompok privileged dalam masyarakat : Dengan tidak menyangkal bahwa laki-laki memang adalah kelompok privileged, yang memperoleh keuntungan-keuntungan dibandingkan perempuan, mereka punya kewajiban untuk menggunakan hak-hak istimewa ini. Dalam hal ini adalah kewajiban untuk membantu perempuan melawan penindasan. 

Di sisi lain, tidak sedikit perempuan yang menolak laki-laki bergabung menjadi (pro) feminis. Menyamakan patriarki dengan laki-laki, sebagian di antara mereka menganggap laki-laki sebagai musuh. Sebagian lagi menganggap karena laki-laki bukan perempuan, mereka tidak mungkin dapat berempati dan dapat memahami apa yang diperjuangkan perempuan. Padahal laki-laki (pro) feminis sudah ada dari zaman dulu kala. (Lihat di sini) Dan jika bicara tentang empati, bukankah empati justru adalah kemampuan untuk merasakan pengalaman orang lain tanpa kita sendiri mengalami hal/peristiwa tsb?

Penelitian-penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa untuk dapat meyakinkan orang lain akan ide/pemikiran kita, salah satu aspek yang menentukan adalah derajat trustworthiness : sejauh mana orang yang menyampaikan pesan itu dapat dipercayai oleh si penerima pesan (DG. Myers & JM. Twenge, 2016). 

Pesan/pandangan/pemikiran yang “minoritas” dari kelompok minoritas, ternyata lebih bisa diterima jika yang menyampaikan adalah orang di luar kelompok minoritas itu. Atau dengan kata lain : mereka yang dari kelompok mayoritas. 

Penjelasan yang kurang lebih sama dapat pula mengacu kepada kohesivitas kelompok. Bahwa jika anggota kelompok kita sendiri yang mengungkapkan pendapat yang minoritas/berbeda, kita akan lebih mendengarkannya ketimbang kelompok lain yang bicara, apalagi bila kelompok yang lain itu adalah kelompok yang berkepentingan. 

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan/laki-laki heteroseksual yang membela hak-hak kelompok homoseksual akan lebih didengarkan oleh kelompok heteroseksual itu dibandingkan jika kelompok homoseksual sendiri yang berusaha meyakinkan mereka (Myers dan Twenge, 2016). 

Itulah sebabnya saya kira kelompok perempuan yang memperjuangkan ide-ide kesetaraan gender, (lebih dipersepsikan masyarakat sebagai ide-ide feminis ketimbang kesetaraan), dapat mempertimbangkan untuk mulai melibatkan laki-laki. 

Saya belum membaca buku Membicarakan Feminisme karya Nadya Karima Melati. Jujur saja saya tidak mengenal konteks penulisan kalimat yang akan saya kutip ini. Tetapi ucapannya ini yang saya temukan dari Instagram mewakili pemikiran saya  mengenai pelibatan laki-laki dalam gerakan perjuangan perempuan : “Hal yang harus diutamakan dalam feminisme adalah sifatnya yang nonkompetitif. Artinya ia tidak bekerja berdasarkan persaingan, melainkan kolaborasi dalam sebuah masyarakat yang adil gender.”

Dunia tidak mungkin ada dan bertahan jika salah satu jenis kelamin tidak ada. Keduanya perlu berjalan berdampingan, bukan bermusuhan. Barangkali belum banyak yang tahu bahwa Simone de Beauvoir tidak pernah sekalipun merekomendasikan persaudaraan perempuan (sisterhood) baik sebagai solusi maupun tujuan. Melainkan inilah yang ia ucapkan : Untuk manusia dapat memenangkan kebebasan dalam dunia ini, meskipun laki-laki dan perempuan berbeda dalam sejumlah hal, keduanya harus dapat dengan sungguh-sungguh menjalin persaudaraan (1949, p.506). 


Referensi :

De Beauvoir, Simone. Le Deuxième sexe II. L’expérience vécue. Paris, Editions Gallimard.  1949.

Gazalé, Olivia. Le mythe de la virilité. Paris : Robert Laffont, 2017. 

Myers, David G., Twenge, Jean M. Social Psychology. 12th edition. New York : Mc Graw Hill Education.