Seperti hujan, Desember merupakan perpaduan romantik antara teh hangat tanpa gula, lagu jatuh cinta, dan setumpuk literatur marxisme usang yang berserakan di atas meja.

Desember adalah bulan baik. Bulan di mana para pemalas menghabiskan banyak waktu menegak arak, membaca buku, dan menertawai produk kebijakan politik kekuasaan yang selalu berdampak pada ketidak adilan struktural.

Seperti kegembiraan merayakan Desember, Andre Barahamin, seorang penulis cum peneliti yang lama saya kenali melalui beragam artikel yang tersebar di seantero jagat media massa dan sosial; dari Indoprogress, Tirto sampai Kumparan. Dari artikel-artikel kritis (critical discourse analysis) hingga artikel-artikel manis (love discourse) yang pernah saya baca. 

Di Desember yang cerah dan mendung ini pula, Andre Barahamin merayakan penerbitan buku perdananya yang berjudul Belalang Komunis: Cerita-cerita tentang Indocina.

Sebagai seorang marxist yang memiliki kecenderungan kurang taat seperti saya, Belalang Komunis merupakan ritus akhir tahun yang menyenangkan. Belalang Komunis berhasil mengedarkan jenis pengetahuan baru menyoal skema pergolakan politik dan gerakan sosial yang berlangsung di Thailand, Myanmar, Vietnam, hingga Laos. 

Andre berhasil, setidaknya bagi saya, memberi keterangan antro-historis serta mengurai dengan rapi realitas sosiologis menyoal bagaimana dominasi agresif absolutisme monarki yang berkolaborasi dengan junta militer dan preman menggebuk dan merestriksi gerakan pembebasan rakyat.

Dalam bukunya, Andre Barahamin membagi pengalaman tualang autentiknya menjadi empat bagian; Vietnam, Laos, Thailand, serta Myanmar. Menariknya, di awal buku, Andre mengajukan penegasan yang terbaca sinis, bahwa para pembaca yang berhipotesis akan menemukan kegembiraan berjemur di bibir pantai laut biru yang memiliki pasir putih hangat di dalam buku ini, mereka keliru. mereka tidak akan menemukannya sama sekali.

Namun bagi saya, Andre mampu meromantisir keindahan dalam versi yang lain. Tidak akan ada cerita-cerita senja. Tidak akan ada daftar destinasi pariwisata yang menjadi nomer primer untuk dikunjungi. Tidak ada rute transportasi untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Tidak akan ada rekomendasi pusat perbelanjaan oleh-oleh populer.  

Andre, dengan keseluruhan inferno intelektualnya yang, misalnya, sembari bertugas menuntaskan proyek penelitiannya, dengan baik ia menggunakan kesempatan untuk memproposalkan keindahan menyoal perjuangan kelas, kultur gerakan pelajar progresif di negara-negara yang ia kunjungi, ofensifitas moncong senjata, gertakan sepatu boots tentara, persekusi terhadap etnis minoritas, kondisi ekonomi-politik yang dikontrol oleh segelintiran orang, hingga pembantaian demi pembantaian yang terbaca getir dan pilu. 

Selalu adalah keindahan yang sama dalam setiap aksi perlawanan rakyat terhadap demagogi kekuasaan. Kendati keindahannya kerap dibayar harum keringat dan darah.

Pertama, Vietnam. Dalam bagian pertama ini, Andre memulai geliat cerita petualangannya tentang Hue dan Gelas Kopi.  Bagi Andre, Hue dan kopi adalah satu paket pariwisata sejarah yang diikat oleh keramahan penduduk, keindahan masa lalu, dan Sungai Huong Giang yang merupakan bau tubuh Hue.

Pada akhir dekade 90-an, pemerintahan komunis memberlakukan kebijakan pajak progresif untuk memproteksi komoditas perdagangan kopi di dalam negri. Pun, mulai menggalakkan intensifitas penanaman kopi dalam rangka meningkatkan pendapatan negara. 

Dalam setiap pemerintahan komunis, selalu ada upaya penguasaan alat produksi oleh negara. Tak ayal bila kemudian para petani mendapatkan subsidi dan dipekerjakan di lahan-lahan pertanian milik negara. Bukan di lahan-lahan para oligarki yang terus-menerus mengakumulasi kekayaan dengan memanfaatkan upah murah dan tenaga kerja orang lain.

Selain itu, dalam Tran dan Rusuk Babi, Andre mengisahkan keahlian memasaknya sejak kecil yang ia asumsikan sebagai ibadah kepada Tuhan dan cara menghormati sesama manusia. 

Selain minum bir dan menulis, tampaknya Andre adalah seorang pengolah babi yang radikal. Sebab ia lengkap mengetahui rempah-rempah apa saja untuk menghidangkan beragam jenis menu masakan babi.

Tran Duc Thao, seorang filsuf dan etnolog asal Vietnam yang Andre gambarkan, merupakan salah satu figure penting dalam sejarah panjang intelektual Vietnam. Di dekade 50-an, Tran Duc Thao menjadi idola para hipster filsafat seperti Derrida dan Lyotard. 

Selain itu, Tran pernah meraih beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Prancis. periode di mana Tran mengenyam pendidikan, ia kerap bertemu banyak filsuf Prancis yang belakangan banyak merubah cara berpikirnya. 

Perjumpaannya dengan Merleau-Ponty membuat Tran tertarik dengan fenomenologi. Pun, aktivitas politik Tran dalam gerakan anti-kolonialisme bersama Jean-Paul Sartre yang akhirnya membuat Tran harus mendekam di penjara

Setelah kepulanganya ke Vietnam, Tran banyak membantu proyek politik Partai Komunis Vietnam dan menjadi dekan fakultas sejarah. Disebabkan kritik keras Tran terhadap kesalahan PKV akibat konflik reforma agraria yang menewaskan banyak petani, Tran tersisih dan diasingkan oleh elit partai serta diekskulusi dari aktivitas akademik apapun di Vietnam.

Kedua, Laos. Dalam bagian kedua ini, Andre menyodorkan dua artikel; Macchiato di Savannakhet dan Espreso di Louang Phabang. Penggunaan nama jenis kopi tersebut menjadi simbol aksenuasi bahwa Andre ingin memberi informasi kepada pembaca kalau dirinya adalah seorang penikmat kopi. 

Sepertinya Andre menjadikan kopi sebagai fasilitas penghilang lelah setelah pertualangan sunyi dinyatakan usai oleh batas hari.

Macchiato di Savannakhet dibuka dengan semacam deskripsi konseptual yang menyajikan detail-detail ruangan, ornamen dan lokasi. Andre menarasikan dua memori terhadap Savannakhet. 

Pertama, terik panas matahari yang menyengat. Tanpa pohon peneduh dan mesin-mesin ATM yang kusam. Andre mengimajinasikan tentang bagaimana membosankannya bila bergulir pelatihan militer di wilayah ini. apalagi untuk ukuran Andre yang anti-militerisme, pasti lebih membosankan dari bayangannya.

Kedua, yang tidak bisa Andre lupakan adalah bar-bar mini yang terletak hampir di sudut kota.

Menurut keterangan Andre, orang-orang di Savannakhet adalah saksi bagaimana Laos pontang-panting berdikari. Seruan negara untuk berhemat, kemiskinan yang meluas karena kesalahan kalkulasi politik dan ekonomi, minimnya infrastruktur pendidikan dan kesehatan adalah penanda yang berupaya untuk dihapus para penduduk kota ini dari ingatan mereka.

Maraknya embargo perdagangan international dalam rangka membangun kekuatan ekonomi yang ekspansionis, blokade Thailand karena sentimen ideologis, antipati Cina akibat fragmentasi ideologis Cina-Soviet mengakibatkan Laos membuka gerbong investasi multinasional paska krisis yang melanda Asia.

Espreso di Louang Phabang adalah saksi tentang bagaimana Andre memberi informasi konflik antara milisi Hmong dan Pathet Lao terus berlangsung bahkan setelah Perang Sipil, perang yang diawali oleh sentimen Perang Dingin, dan terus berlangsung ketika komunisme telah resmi memenangkan perang. 

Chia Youyee Vang dalam Hmong Anti-Communism at Home and Abord, yang terbit sebagai bab khusus dalam Anti-Communist Minorities in The US: Political Activism of Ethnic Refugees, mengulas dengan jelas bahwa insurgensi orang-orang Hmong tidak bisa dilepaskan dari peran aktif Biro Intelijen Amerika Serikat yang berupaya mencegah Laos jatuh ke tangan kelompok komunis.

Ketiga, Thailand. Dalam bagian ketiga ini Andre Barahamin menceritakan secara komprehensif pengalaman menyaksikan bagaimana gerakan pelajar progresif di Thailand yang berupaya mentransformasikan relasi otoritarianisme antara raja yang berkolaborasi dengan junta militer. Sekaligus mempelajari bagaimana para aktivis dan kampus menjadi proponen demi dihasilkannya demokratisasi.

Thailand adalah negara dengan tradisi kudeta militer terbanyak di dunia. Dalam hitungan Andre Barahamin, setidaknya setiap 4-5 tahun sekali terjadi rencana penggulingan kekuasaan, baik yang berhasil maupun yang gagal. Gelombang protes gerakan pelajar menuntut demokrasi kerap berujung genosida akibat popor senjata fasisme militer yang menjadi perpanjangan tangan kekuasaan dan modal.

Selain itu, Andre mengedarkan pengetahuan baru, bahwa bila gerakan mahasiswa di Indonesia diposisikan sebagai agen perubahan atau gerakan moral, maka di Thailand para aktivis pelajar berupaya memprovokasi masyarakat dengan isu-isu populis yang lebih mudah  dimengerti dalam rangka menghimpun solidaritas yang lebih luas antara pelajar dan masyarakat untuk bersama-sama melawan kekuasaan monarki.

Keempat, Myanmar. Dalam bagian terakhir ini Andre, Barahamin menempatkan empat artikel getir dan manis; Mengenang Sittwe, Satu Malam di Arakan, Ode Untuk Honey Oo, dan Memamah Beras Shan. 

Saran saya, seharusnya Andre mulai merencanakan untuk menulis novel segara. Sebab dialog demi dialog yang terbaca dalam beberapa bagian dalam bab terakhir, membuat saya merasa liris; Andre berhasil tidak lebay dan mengimitasi saya untuk mengerjakannya dengan seseorang yang lain. 

Kendati banyak kegetiran terhadap kelas pekerja yang kalah di negeri komunis, pengkhianatan oleh seorang aktivis senior, hingga pembantaian terhadap para pelajar progresif. Namun bagi saya, bagian ini menyenangkan.

Dalam satu sesi percakapan dengan seorang aktivis perempuan Myanmar, Andre terbaca sangat mabuk karena terus menerus memesan berbotol-botol bir dan membakar banyak keretek. 

Terlihat bagaimana Andre dan aktivis perempuan itu membagi pengalaman pengorganisiran perlawanan mereka masing-masing. Hingga akhirnya, pada tegukan bir terakhir, Andre mengajak aktivis perempuan itu berpindah ke hotelnya.

Sayang, Andre tidak melanjutkan ceritanya. Akan sangat menarik dan menggairahkan bila Andre melanjutkan percakapan politis mereka berdua di kamar hotel.

“Ceritakan soal Papua. Aku ingin tahu lebih banyak.”

“Oke. Tapi sebaiknya kita beranjak dari sini. Aku khawatir kita berdua tidak akan sanggup mengemudi sepeda motor jika terlalu lama berada di sini.”

Aktivis perempuan itu tersenyum.

“Kita lanjutkan diskusi ini di hotelmu. Dan kau harus mentraktirku bir. Sepakat?”

“Oke. Soal itu gampang.”

Andre adalah menarik dan cerdas. Mengisahkan pengalamannya berkeliling Indocina dengan perspektif yang lain. Saya tidak pernah benar-benar bosan membaca ulang beberapa bagian dalam catatan perjalanannya. Dengan atau tanpa bir dan kopi. 

Namun, saya berencana untuk sesegera mungkin mengabarkan kawan perempuan saya untuk mendiskusikan problem Taman Sari dan konflik antara perusahaan dan masyarakat di Sukoharjo, dan mengajaknya pulang ke kos setelah kami berdua benar-benar merasa mabuk.

Dalam satu paragraf pada kalimat pengantar yang manis, Andre Barahamin berujar;

“Terutama tentang bagaimana wilayah ini bertaut dengan sejarah sebuah gerakan yang diilhami oleh ide seorang revolusioner asal Jerman bernama Karl Marx. Saya kemudian mencoba memahami dari sudut pandang seorang asing yang negerinya terletak tidak terlalu jauh di selatan, di mana Marxisme adalah tabu dan dianggap sebagai bahaya yang mengancam kesadaran manusia agar tak menemukan daya kritis untuk memperjuangkan kebebasannya.”

Akhir konklusi saya, kendati keseluruhan buku Belalang Komunis menggambarkan bagaimana gerakan sosial itu kalah di negeri sosialis, namun selalu ada harapan baru, bahwa gerakan sosial tidak akan pernah benar-benar mati sekalipun dihadang moncong senjata.