• Gajah Mada 3
  • Sumpah di Manguntur
  • Langit Kresna Hariadi
  • Tiga Serangkai, 2017


Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Butuni, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

Terjemahannya:

Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Butuni, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Gajah Mada mengucap sumpahnya. Sumpah Palapa yang termahsyur itu. Indonesia bahkan mungkin berutang pada sumpah sang Mahapatih ini dengan mewarisi keluasan wilayah yang dulu berhasil dipersatukannya di dalam negara Majapahit. Untaian terbentangnya wilayah Indonesia saat ini adalah jejak keberhasilan yang ditinggalkan beliau.

Seri ketiga ini adalah seri paling tebal di antara empat buku lainnya. Hampir 700 halaman. Menceritakan tentang hilangnya benda-benda pustaka istana yang ternyata berkaitan dengan kisah dan orang-orang dari masa silam Majapahit. 

Bagaimana Gajah Mada atas nama Kerajaan Majapahit mengatasi kedatangan Aditiawarman juga bagaimana mereka akhirnya bahu membahu menumpas pemberontakan yang akan dilakukan oleh dua kerajaan kecil di wilayah timur, yaitu Keta dan Sadeng.

Cerita dibuka dengan kisah seorang anak yang begitu berbakti kepada ayahnya. Ki Branjang Ratus yang menuruti permintaan sang ayahanda yang bernama ki Buyut Padmaguna. Ki Buyut yang sidik paningal meminta anaknya untuk menemui sahabatnya di waktu muda dulu. 

Sahabatnya itu adalah Nyi Yendra, seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan. Dari pertemuan itulah kisah bergulir. Nyi Yendra meminta Ki Branjang Ratus untuk mencuri dua pusaka kerajaan Majapahit. Kedua pusaka itu adalah Cihna nagara (lambang Negara) gringsing lobheng lewih laka ( pola geringsing merah ) dan Songsong ( Payung ) udan riwis.

Majapahit sedang didera bencana saat dua pusaka itu hilang dari tempat penyimpanannya. Gajah Mada segera bergerak sembari mencari tahu cerita di balik hilangnya pusaka itu. 

Tak hanya kehilangan pusaka, Majapahit harus menghadapi kenyataan bahwa dua kerajaan kecil di daerah timur sedang mempersiapkan perang pemberontakan. Keta dan Sadeng sedang menghimpun pasukan melawan Majapahit. 

Apa hubungan semua ini dengan Ratu Gayatri yang memilih menjadi seorang biksuni sepeninggal raja Jayanegara?

Di situlah Mahapatih Gajah Mada mengucap sumpahnya yang begitu magis dan mencengangkan. Bahkan mungkin sumpah ini layak disebut sebagai sumpah yang mengerikan. Gajah Mada bersumpah untuk tidak akan bersenang-senang dulu, beliau akan tetap laku prihatin dalam puasa tanpa ujung dan tidak akan beristirahat demi kebesaran Majapahit.

Terbayang, bukan, bagaimana kerasnya kerja sang Mahapatih Gajah Mada untuk mewujudkan mimpinya?

Apakah Gajah Mada bisa menepati sumpahnya? Banyak spekulasi bertebaran, termasuk bahwa Gajah Mada menggunakan banyak cara nakal demi kejayaan Majapahit. Di buku ke-empat, mungkin pertanyaan ini akan terjawab.

----------------------------

  • Gajah Mada 4
  • Sanga Turangga Paksowani
  • Langit Kresna Hariadi
  • Tiga Serangkai, 2017.


Setelah tiga seri sebelumnya, bagi saya inilah seri yang paling tragis mengiris-iris hati. Dimulai dengan setting cerita beberapa tahun setelah Gajah Mada mengucap Sumpah Palapanya di Bale Manguntur. Raja yang sekarang memimpin Majapahit adalah Hayam Wuruk, cucu lelaki satu-satunya dari Ibu Suri Gayatri. Hayam Wuruk menggantikan posisi Ibu dan Bibinya di dampar pemerintahan.

Namun semua orang tahu bahwasanya Hayam Wuruk hanyalah perlambang saja, segala keputusan dan kebijakan mengenai apapun di Majapahit berada di bawah kendali Gajah Mada. Dan hal ini sebenarnya cukup meresahkan beberapa pihak.

Saat Hayam Wuruk terpikir untuk mencari istri, ibunya menyarankan untuk 'melihat' Dyah Pitaloka Citraresmi, putri di Kerajaan Sunda Galuh. Maka dikirimlah utusan Majapahit kesana. 

Namun Gajah Mada tak mau kalah, dia merasa Sunda Galuh adalah kerajaan yang membangkang karena tidak mau tunduk berada di bawah pemerintahan Majapahit. Gajah Mada pun ikut menyertakan utusannya untuk mempertanyakan hal itu pada raja Sunda Galuh walaupun jelas-jelas ditentang oleh Ibu dan Bibi Hayam Wuruk.

Namun kali ini Gajah Mada salah perhitungan. Entah datang dari mana sikap arogansinya sehingga yang seharusnya menjadi pesta pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka justru berubah menjadi perang pertumpahan darah yang mengakibatkan terbunuhnya raja Sunda Galuh, permaisurinya juga Dyah Pitaloka. Peristiwa ini dikenal dengan nama Perang Bubat karena lokasi perangnya terjadi di lapangan Bubat.

Kedatangan raja Sunda Galuh yang dengan rela menyerahkan anaknya untuk dipersunting Hayam Wuruk diartikan sebagai sikap membangkang oleh Gajah Mada, lonceng perang dibunyikan. Majapahit menyerang pihak Sunda Galuh.

Kesalahpahaman yang disengaja oleh beberapa pihak untuk menjatuhkan Gajah Mada ini memang pada akhirnya berhasil menggeser posisi Gajah Mada dari istana Majapahit.

Hal inilah yang kemudian menjadi alasan kenapa di hampir seluruh daerah Priangan tak akan pernah ditemukan jalan ataupun gedung dengan nama Gajah Mada atau Hayam Wuruk.

Dengan adanya buku ini, penulis dan juga pembacanya termasuk saya mengharapkan bahwa para generasi muda bisa lebih bijak menentukan sikap atas tragedi yang terjadi di masa lalu antara Jawa dan Sunda ini.