Perkenalkan, buku yang diresensi ini berjudul “Aku dan Cita-Cita Keindonesiaan: Bunga Rampai Gagasan Kebangsaan Anak Negeri”. Penerbitnya adalah PB HMI Publishing bekerja sama dengan Yayasan Insancita Bangsa (YIB), jelang akhir tahun 2017.

Adapun yang bertindak sebagai editor adalah Mawardin, Faiz Zawahir Muntaha, Serpian Laepang, dan Haikal. Buku bergenre bunga rampai ini diberi Kata Pengantar oleh Wapres RI, Jusuf Kalla. Karya sederhana ini merupakan catatan refleksi dari sejumlah alumni HMI ‘garis lucu’ yang menerima beasiswa Bahasa Inggris YIB Angkatan ke-IV 2017.

Buku berkulit hijau hitam itu merupakan guratan kegelisahan anak negeri dari berbagai penjuru Indonesia yang berisi ragam gagasan serta cita-cita keindonesiaan. Anak muda yang dipersatukan oleh semangat untuk memperhebat Indonesia lewat pendidikan agar dapat bersaing di tingkat global. Mereka adalah Awardee YIB yang menjadi peserta program ‘ngaji’ IELTS di Wisma Hafid Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, dari tanggal 25 Januari sampai tanggal 22 Mei 2017.

YIB yang diinisiasi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan senior-senior Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) adalah kawah candradimuka yang concern di bidang pendidikan dan pelatihan untuk menggembleng para kader hijau hitam guna melintasi benua. Buku ini disusun berdasarkan kompilasi 44 tulisan dari peserta di tengah kesibukannya mengikuti pelatihan.

Kami bersyukur meski sumber daya yang terbatas, ruang dan waktu yang terjepit, tak diduga mendapat sambutan yang hangat dari ‘santri’ YIB. Para kontributor tulisan berasal dari latar belakang pendidikan, profesi, dan hobi.

Harap dimaklumi, bahwa sebagai buku bunga rampai, gagasan di dalamnya memang berpencar-pencar, berkeping-keping, bahkan saling bertabrakan. Namun benang merah yang mengikat rangkaian pemikiran itu adalah cita-cita untuk membangun Indonesia. Begitu kura-kura.

Buku ini terdiri dari enam bab. Temanya beragam, dari soal Sampah hingga Resolusi Konflik Israel-Palestina. Pahatan ide dan gagasan dalam buku ini masih relevan dirujuk sebagai sumber inspirasi dalam mengatasi sengkarut kebangsaan saat ini.

Bab I Cita-Cita Keislaman dan Keindonesiaan, berisi ulasan Menjadi Muslim yang Meng-Indonesia (Faiz Zawahir Muntaha); Menafsir Indonesia dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika (Azizurrochim); Modernisasi Metode Pembelajaran Tradisional di Pesantren (Siti Fatimah Tuzahro); Serambi Mekkah: Dari dan Untuk Indonesia (Syaiful Alamsyah); Pesona Pulau Lombok sebagai Sentrum Wisata Halal Dunia (Syamsul Adnan); Pengarus-utamaan Islam Kultural (Akhmad Yusuf); Tafsir yang Berkarakter Pembaharuan: Belajar dari Thantawi Jauhari (Amylia Karunia Ar).

Bab II Cita-Cita Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat, berkaitan dengan Social Entrepreneurship: Sebuah Pendekatan Bisnis dalam Menyelesaikan Permasalahan Sosial (Rahmat Syarif); Belajar dari yang ke-3 (Khoirul Umam H); Pengelolaan Sumber Daya Manusia yang Berjiwa Entrepreneurship untuk Menyongsong 100 Tahun Indonesia Emas (Rianda Ridho); 

Dompet Pemerintah menuju Negara Kesejahteraan (Haikal Sanade Karim); Mengedepankan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Perbatasan (Fredy Handoko); Membangun Sistem Ekonomi Islam (Nasrulloh Ali Munif); Menggapai Kedaulatan Ekonomi Bangsa (Ahmad Jazuli).

Bab III Cita-Cita Hukum, Politik dan Kebijakan Pembangunan, membahas tentang Pembaharuan Mahkamah Partai Politik sebagai Desain Alternatif dalam Penyelesaian Perselisihan Partai Politik (Adi Prakoso); Reformasi Birokrasi, Menyembuhkan dan Merawat Bangsa (Dora Elkasih); Asal Usul Praktek Pergundikan di Nusantara (Tri Puspita Ningrum); 

Membanding Kepemimpinan Sipil Militer di Pentas Politik Indonesia (M. Anis Sumadi); Banten, Politik Jawara, dan Hijrahnya Para Putra Daerah (Ferdian Ananta); Kabupaten Bima dalam Bayang-Bayang Otonomi Daerah (Faisyal); Saat Indonesia Timur Teriak ‘Merdeka’ (Muh. Syainul); Peran Partai Politik dalam Penguatan Sistem Pemerintahan Presidensil di Indonesia (Andik Suryansyah); Aceh Pasca Damai: Riwayatmu Kini (Dedy Muzlahinur).

Bab IV Cita-Cita Peradaban, dan Perdamaian Duniaberisi kupasan seputar Membangun Rumah: antara Kebijakan dan Investasi Peradaban (Desy Pratiwi Irma Suryani); Diaspora untuk Indonesia (Zainuri); Pergulatan Parpol Islam di Panggung Politik Tanah Dewata (Hady Nurjaya); Perdamaian Aceh: Pesan Damai dari Bumi Tanah Rencong (Rahmadi M. Ali); 

Menyoal Penghapusan Peraturan Pendirian Rumah Ibadat (Sirajuddin); Membumikan Semangat Toleransi untuk Indonesia: Potret Kearifan Lokal Toleransi antar Umat Beragama di Manado (Sabil Mokodenseho); Signifikansi Peran Indonesia dalam Resolusi Konflik Israel-Palestina (Mawardin).

Bab V Cita-Cita Sosial, Budaya, dan Pendidikan, tentang Merayakan Nasionalisasi Primordialisme: dari Wacana menuju Aksi (Serpian); Semangat Revolusi Mental: Harapan menuju Indonesia yang Terdidik dan Tercerahkan (Hera Yulita Oesman); Urgensi Pendidikan untuk Mewujudkan Cita-cita Bangsa (Adha Anggraini); Pendidikan yang Memerdekakan (Sri Hardiyanti); 

Menggali Sumber Daya Alam, Mencetak Sumber Daya Manusia (Anas Abdul Kadir); Pendidikan sebagai Investasi menuju SDM Siap Tempur (Shinta Tanjung); Harapan Baru untuk Indonesia Sehat (Fatma Faricha).

Bab VI. Cita-Cita Teknologi, Lingkungan, dan Media Massa, berisi pembahasan Kesakitan Masyarakat, Kelangkaan Air (bersih) dan Komodifikasi Banjir: Sebuah Penghianatan Intelektual “Plat Merah” (Abdul Haris Ibrahim); Sampah: Dari Warga, Oleh warga, dan Untuk Warga (Adhi Nurseto); Teknologi Usaha Tani Konservasi Terpadu pada Lahan Marginal di Indonesia (Bima Fikri); 

Pemanfaatan Teknologi Kelautan untuk Mewujudkan Indonesia sebagai Negara Maritim (Mahmud Hidayaturohmat); New Media dan Gerakan Sosial (Ita Septian); Menuju Ketahanan Energi Di Tahun Emas Indonesia (Yoki Al-Mahir); Menengok Energi Terpendam dari Ranah Minang (Robi Candra).

Harap maklum, buku ini masih jauh dari kata sempurna. Namun sekecil apa pun butir-butir pemikiran ini, semoga menjadi sumbangan pengetahuan yang berguna bagi peningkatan kualitas literasi bangsa Indonesia. 

Akhirul kalam, “Aku dan Cita-Cita Keindonesiaan: Bunga Rampai Gagasan Kebangsaan Anak Negeri” perlu dibaca oleh segenap lapisan pemikir dan aktivis. Jangan lupa sediakan kopi hitam dan musik klasik sebelum menikmati buku ini. Demikianlah.