"Yang ini Rp.500.000, yang ini Rp.400.000," jawab penjual tanaman, yang saya tanyai saat berniat membeli tanaman hias di depot tanaman waktu itu.

Hatiku terperanjat. Jenis tanaman Aglonema yang masih "anak-anak" ini harganya dibandrol sedemikian tinggi. Namun demi menjaga marwah diri, dan tidak mau jiwa miskinku terusik lebih dalam lagi, saya tetap memasang muka senyum penuh keramahan dan buru-buru berpindah melihat-lihat jenis tanaman lain.

Sejak COVID-19 menyerang diam-diam di negeri ini, dan orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, tanaman mulai menjadi idola. Bukan hanya ibu-ibu yang melampiaskan ke-bete-annya dengan bertanam, tapi bapak-bapak juga tak mau ketinggalan. 

Bercocok tanam menjadi alternatif kegiatan untuk menghilangkan kejenuhan, yang berefek pada makin hijaunya rumah-rumah. Tentunya ini baik, apalagi dari dulu para aktivis lingkungan hidup sudah menggembar-nggemborkan agar semua orang menanam, meski hanya 1 pohon.

Walhasil, para penjual tanaman panen raya. Anehnya, bukan bibit tanaman sayur mayur, atau bibit buah yang digandrungi pembeli. Misalnya karena menjalankan saran dari dinas pertanian, untuk melakukan ketahanan pangan dari rumah masing-masing. Namun yang digandrungi justru tanaman hias. Dan tidak main-main, tanaman hias yang sedang naik daun itu, tanaman hias yang berjenis dedaunan yang kini harganya gila-gilaan.

Apakah benar karena efek pandemi, jadi jenis tanaman dedaunan itu naik harga? Atau memang ada sekelompok "pemain" yang membuat jenis tanaman tertentu itu melejit naik harganya? Sebagaimana dulu pernah booming gelombang cinta (Anthurium Plowmanii Croat), yang harganya sampai jutaan hingga puluhan juta.

Bukan hanya jenis Aglonema yang memang dari dulu juga sudah cukup tinggi harganya, meski tidak se-edan sekarang. Jenis tanaman sente (Alocasia) yang sebelumnya tidak ada yang melirik, biasanya hanya ditanam di desa-desa untuk pakan ikan di empang, kini kastanya mulai naik. 

Sente mulai digandrungi orang-orang, dan derajatnya naik menjadi tanaman hias yang cukup diperhitungkan. Letaknya bukan lagi di tegalan empang, tapi sudah masuk ke halaman rumah, bahkan juga dipakai untuk tanaman hias in door.

Sejenis lompong atau talas (Colocasia esculenta), yang dulunya tumbuh liar di kebon-kebon, yang biasanya dahannya dibuat sayur atau umbinya untuk dimakan, sekarang juga sudah bergeser menjadi tanaman hias yang cukup istimewa. Banyak toko online yang kini menyediakan bibit lompong aneka jenis ini. Dulu orang malas menanam lompong, sekarang mereka bangga punya tanaman hias lompong di rumahnya.

Lebih gila lagi harga janda bolong ( Monstera Adansoni Variegata ). Jenis tanaman berdaun lubang-lubang ini, kini harganya bisa sampai jutaan bahkan puluhan hingga ratusan juta. Konon, dinilai dari jumlah daun dan besar kecilnya daun. Benar-benar naik derajat si janda bolong itu. Dan masih banyak jenis tanaman hias daun lainnya yang saat ini sedang laris manis di pasaran, meski harganya tidak normal.

Saking ramainya orang mengoleksi tanaman hias jenis daun ini, banyak meme-meme lucu yang viral di media sosial. Seperti seseorang rela tidur di halaman rumah, dengan seperangkat senjata tajam, untuk menunggui koleksi tanamannya, agar tidak dicuri orang. Atau ada aturan baru saat bertamu sekarang, yaitu dilarang meminta tanaman hias. Karena tanaman hias saat ini, mahal!

Bagi saya, meme-meme itu lucu sekali. Entah sindiran, atau memang kenyataan. Tapi memang ada seorang kawan, yang beneran tanaman koleksinya dicuri orang.

Saya rasa mengikuti trend bertanam tanaman hias yang sedang viral, sah-sah saja. Apalagi itu membuat kepuasan tersendiri bagi mereka, dan juga menjadi jalan rezeki bagi para penjual tanaman. Namun, seperti halnya fenomena gelombang cinta yang dulu pernah viral, dengan harga yang di atas kewajaran, berarti kemungkinan fenomena yang saat ini terjadi pun bisa bernasib sama.

Tanaman yang saat ini mereka beli sangat mahal, bisa jadi ke depan sudah tidak berharga lagi. Apalagi jika semua orang berbondong-bondong membudidayakannya, pasti harganya akan terjun bebas. Kembali ke harga normal. Bahkan kembali tidak lagi dilirik orang. Seperti gelombang cinta yang saat ini mangkrak di pekarangan-pekarangan. Jangankan dibeli mahal, gratis pun sudah tak menggoda iman.

Terkadang permainan para pemain pasar besar memang bisa membuat masyarakat yang suka latah ikut-ikutan kehilangan akal. Asal mengikuti trend, harga tinggi pun tidak jadi soal. Entah memang suka dengan tanamannya, atau sekadar demi gengsi semata.

Hebatnya lagi, di tengah krisis ekonomi saat ini, di mana banyak orang-orang tercekik, bahkan untuk makan saja sulit. Namun banyak orang yang menghamburkan uangnya hanya untuk sekedar membeli tanaman hias, yang menurut saya harganya tidak masuk akal. Barangkali kita ini memang bukan hanya sedang menghadapi krisis ekonomi, tapi juga sedang disusupi krisis empati.

Ketika saya membaca berita anak-anak yang harus nyambi jualan cilok, jual ayam, mengumpulkan ceceran padi, demi bisa membeli smartphone dan kuota internet, agar tetap bisa mengikuti pembelajaran daring, hati saya meronta. Begitu berat perjuangannya untuk menuntut ilmu di masa pandemi.

Lalu saat melihat ibu-ibu renta menjajakan koran di trafic light dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya, dan tampak tidak ada yang membeli, sungguh memprihatinkan. Untuk mendapatkan seribu-duaribu rupiah saja membutuhkan pengorbanan yang melelahkan. Teriknya matahari tidak menggoyahkan semangatnya untuk terus mencoba menawarkan dagangannya. Dengan terus berharap, di kendaraan yang ke sekian puluh, atau ke sekian ratus, ada yang membukakan jendela mobilnya untuk membeli.

Sementara itu, di lain dunia, ada yang dengan mudahnya membeli tanaman hias jutaan, puluhan hingga ratusan juta. Saya pun geleng-geleng kepala.

Meskipun mungkin mereka yang memborong tanaman hias dengan harga gila-gilaan itu, juga ternyata sedekahnya gila-gilaan juga, siapa yang tahu? Namun, fenomena ini cukup menggelitik kesadaran.

Kita memang menjadi pangsa komoditas pasar yang gurih. Cukup saja dibuat sesuatu itu viral, bergengsi dan nge-trend. Pasti gemuruh ego kita meronta-ronta, ingin mengikuti trend dan tidak mau ketingggalan.

Jadilah, harga yang tidak wajar itu menjadi wajar saja di mata ego kita. Lebih sayang membelanjakan sembako 10 juta untuk dibagikan ke kaum duafa. Sementara membeli tanaman hias daun, dengan nominal yang sama, enteng-enteng saja rasanya.

Lumayan, kan, untuk menaikkan harkat dan martabat diri. Dengan mengoleksi tanaman-tanaman mahal itu, lalu diposting di media sosial, makin mengukuhkan, bahwa kita termasuk golongan "horang kayah".

Dari sini sangat terlihat, memang ada kesenjangan yang nyata dalam masyarakat kita dalam hal ekonomi. Di satu sisi, banyak orang kelebihan duit, di satu sisi banyak orang yang untuk makan saja sulit. Ditambah krisis ekonomi yang sedang melanda saat ini, mereka yang sudah sulit makin terjepit.

Entahlah, ini salah siapa? Mau menyalahkan penguasa, mereka juga sedang gundah gulana. Mau menyalahkan pebisnis tanaman hias, lha itu memang lahan usahanya. Mau menyalahkan mereka yang beli, lha itu uang-uang mereka sendiri, siapa yang berani melarang coba? Masak menyalahkan Tuhan?

Saya jadi teringat nasihat guru Gede Prama, "di masa sulit ini, kurangi menunjukkan kemewahan, karena banyak saudara kita yang tengah dirundung kesulitan." Bagi saya ini menghujam cukup dalam. Menyembunyikan kemewahan, dan lebih mengutamakan kesederhanaan, merupakan sebuah bentuk empati. Dan hal ini makin jarang kita temui, apalagi di era media sosial. Semua orang ingin unjuk diri.

Membeli tanaman hias mahal, sebenarnya karena dorongan hati nurani atau sekadar untuk gengsi? Mari kita renungkan kembali.