Seberapa pentingkah sejarah bagi kita? Pernahkah kita bersepakat untuk tidak saling mengungkit “sejarah” kehidupan kita masing-masing? Sejarah agama, tradisi dan identitas kita? Sebab, itu hanya akan “menguras” tenaga, waktu dan pikiran untuk memikirkan hal-hal yang sudah kita tinggalkan.

Lihatlah bagaimana kaum fundamentalis Islam “terperangkap” dalam romanitsme masa lalu, dan memaksakan diri “menghidupkan” kembali masa lalu untuk hadir di masa kini. Waktu terus berjalan, kehidupan terus bergerak, tak ada yang sama, antara hari ini atau pun besok.

Lihatlah Dubai, negeri di Timur Tengah itu dulunya “hanya” hamparan samudra pasir yang luas dengan masyarakatnya yang hidup berdasarkan pola hidup orang gurun. Dulu mereka tak mengenal teknologi “telepon pintar”, internet ataupun sarana transportasi super canggih.

Dubai adalah Onta dan padang pasir. Tapi itu “dulu”, sekadar “masa lalu”, sejarah yang sudah ditinggalkan. Tapi kini, lihatlah negara itu, di sanalah dibangun gedung paling tinggi sejagad raya, Burj Khalifah dan negara dengan sumber daya minyak yang berlimpah. Mereka membangun sistem transportasi yang canggih, teknologi hidup bersama dengan badai gurun yang datang dengan “rutin”. “sejarah” Dubai seolah telah terbang bersama dengan hembusan angin gurun.

“Masa lalu” bagaimana pun tak boleh dilupakan seperti itu saja. “masa lalu” adalah pelajaran. Masa lalu, sejarah, adalah “penuntun” kita untuk melewati kehidupan, menata langkah ke arah masa depan yang lebih baik. Itulah yang menjadi alasan kenapa Herodotus menulis buku sejarah, atau Thomas Stamford Raffles menulis Sejarah Jawa dan Philip Hitti menyusun risalah tentang sejarah Arab dan Islam.

Mereka ingin “meninggalkan” secercah “cahaya” bagi generasi yang akan datang selanjutnya, agar kita yang hidup kemudian memahami, bahwa sebelum masa dimana kita hidup sekarang, ada peristiwa-peristiwa yang telah menyusun jalannya dunia seperti yang kita hadapi saat ini.

Kita pun demikian, memiliki kisah masa lalu. kita punya sejarah hidup. Agama dan tradisi kita pun telah melewati rentangan waktu panjang. segala peristiwa yang telah menuntun langkah kita sampai sejauh ini. Harusnya “masa lalu” memberi kita semua pelajaran, terutama tentang bagaimana kita hidup dengan yang lain.

Mereka yang juga memiliki masa lalu yang sama sekali berbeda dengan kita. agar kedepannya lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan, cobaan dan konflik akibat kita tak pernah paham asal usul kita. Tapi yang terjadi justru tak seperti yang kita harapkan.

Masa lalu membuat kita “membandingkan” segala hal, sejarah membuat kita justru “cemburu” dengan “masa kini”. Pada akhirnya, “sejarah” kita masing-masing telah “menceburkan” kita dalam sebuah “perang” masa lalu.

Perang, Konflik dan pertikaian, apakah itu karena kita tidak memahami asal usul kita? Ataukah kita justru telah kehilangan arti sebuah “kehidupan”?

Lama aku merenung tentang Perjalanan yang banyak diliputi hal magis membuat aku bertanya, “apakah semua ini kebetulan?” Ataukah kita hanya memainkan peran yang telah tercatat dalam “skenario?”. Tiba-tiba aku teringat sebuah novel tua, Sang Alkemis. Novel yang ditulis Paulo Coelho pada tahun 1988.

Tentang “Jiwa dunia”, begitu sang alkemis berkata kepada Santiago si gembala domba. Dia berkata, bahwa dunia diciptakan oleh satu “tangan” dan dengan demikian dunia adalah satu, hal-hal di dunia ini adalah unsur-unsur yang saling “berkorespondensi”.

Dengan demikian, tidak ada yang namanya “kebetulan” di dunia ini. Segalanya berjalan sesuai dengan skema dan skenario. Seperti gigi-gigi roda yang menggerakkan jarum jam, tak ada yang terjadi secara kebetulan, karena dunia berjalan di atas mekanisme yang saling ‘berkaitan’; Maktub, “telah tercatat”.

Melalui “hati” kita, dunia menuntun langkah-langkah kita dan menerangi kegelapan. Dalam hidup, “kegelapan”, kegetiran, kesulitan, bukanlah hal-hal yang mengerikan, seperti yang digambarkan dalam kisah-kisah misteri atau film-film horor di negeri ini.

Terkadang, “kegelapan” memberikan harapan, seperti gelapnya langit menghadirkan harapan akan hujan yang akan menyuburkan sawah-sawah petani, yang akan mengairi sungai-sungai di mana ikan-ikan hidup dan mencari makan.

Kegelapan “menyimpan” cahaya yang terselubung, “bersama-sama dengan kesusahan, selalu diikuti dengan kemudahan”, begitu kata Al-Qur’an. Dan bukankah saat-saat tergelap dalam hari adalah saat-saat mendekati fajar yang terang benderang?

Satu-satunya yang membuat kita bertahan sejauh ini dalam kesulitan adalah tetap meyakini bahwa hati adalah satu-satunya yang bisa dipercaya. Bukankah melalui hatilah Tuhan dan alam semesta ini berbicara kepada kita?. Percayalah, bahwa dimana hatimu berada disitulah hartamu berada, begitulah Injil berkata.

Betapa banyak manusia-manusia yang menyerah pada langkah terakhir mendekati impiannya, menghancurkan harapan-harapan yang telah dibangun selama bertahun-tahun, dan berhenti ketika mereka tinggal selangkah menuju tempat “harta” abadi tersimpan.

Banyak manusia yang mengabaikan “impian”, menyesalinya di hari tua, seperti pedagang kristal tempat Si Gembala bekerja yang mengubur impiannya berziarah ke Mekkah karena mengabaikan petunjuk semesta, merasa “nyaman” dengan kehidupannya sebagai pedagang krisal yang kaya raya, mengabaikan “kata” hati dan kehilangan satu-satunya kesempatan mewujudkan harapan dan cita-cita.

Bagiku, setiap manusia diberi dua pilihan dalam upayanya mewujudkan impiannya; bertahan dalam kesulitan atau keluar dari kesulitan.

Sang alkemis mengajarkan kita tentang “harta” sebenarnya; bukan bongkahan “emas”, mahkota raja, atau pedang yang bertahkan berlian dan batu-batu mulia. Harta sebenarnya adalah pelajaran yang kita ambil disetiap fase-fase kehidupan yang kita lalui menuju “impian”, setiap jalanan berbatuan, lorong-lorong gelap, atau kegetiran hidup lainnya. Kesulitan dalam perjalanan adalah ujian “kelayakan”, pantaskah kita memperoleh “harta” sebenarnya?

Yang perlu kita lakukan adalah mulai melangkahkan kaki, seperti Santiago yang percaya dengan impiannya; dari Spanyol, menembus ganasnya padang pasir, menuju piramida-piramida yang meyimpan “harta karun” sang alkemis. Dan seperti kita tahu, hartanya ada ditempat dia “berasal”, harta adalah “hati”.

Seperti kata sang alkemis, logam apa pun dapat diubah menjadi emas melalui proses pemurnian. Begitu pun hati kita. Ketika dimurnikan, dibersihkan dari unsur-unsur lain; egois, benci, ketamakan dan “partikel” negatif lainnya, menjadi “harta” paling berharga. Satu-satunya yang membuat kita bertahan hidup adalah impian kita.

Terkadang di tengah perjalanan, ada mukjizat dan keajaiban menyertai kita, entah kita mengharapkannya atau tidak, sebagaimana keajaiban yang mengisi sisi-sisi yang “terabaikan” dalam kehidupan kita.