“Man is born free and everywhere he is in chains”, salah satu pernyataan dari J.J. Rousseau (1762) yang cukup terkenal. Pernyataan ini diawali dengan mengemukakan prinsip alamiah/kodratiah bahwa manusia pada dasarnya terlahir bebas. Akan tetapi, prinsip tersebut diikuti dengan mengemukakan fakta bahwa di mana pun manusia terbelenggu. 

Rousseau mengemukakan ironi dua dunia. Dua dunia itu adalah dunia konseptual (das sollen) dan dunia nyata (das sein). Dua dunia yang berseberangan dalam melihat manusia.

Ada ironi yang hendak dikemukakan Rousseau yang saling tarik-menarik. Rousseau hendak menjelaskan fenomena hubungan antara majikan dan budak. Esensi hubungan majikan dan budak adalah hubungan kekuasaan antara orang yang memberi perintah dengan orang yang diharuskan mematuhi perintah tersebut.

Pernyataan Rousseau tersebut ditulis dalam buku “Du Contrat Social” yang diterbitkan pada tahun 1762. Bukan suatu kebetulan tahun tersebut adalah babak awal revolusi industri. Revolusi industri dimulai dari tahun 1760 sampai tahun 1840. 

Ada fenomena baru dalam masyarakat yang tercipta dari hasil revolusi industri. Fenomena baru yang terjadi adalah bergesernya pandangan masyarakat dari masyarakat konvensional menjadi masyarakat yang disebut masyarakat modern.

Masyarakat konvensional berpandangan aktivitas berkebun ataupun beternak sebagai hal yang mainstream. Sementara masyarakat modern berpandangan menjadi buruh dari suatu perusahaan adalah hal yang mainstream.

Pandangan ini berimplikasi, menjadi buruh/budak adalah hal yang dapat diterima dalam kehidupan masyarakat. Pergeseran pandangan ini mengubah keyakinan dasar bahwa perbudakan dapat diterima meskipun pada dasarnya manusia adalah mahkluk bebas.

Pergesaran pandangan masyarakat pada masa revolusi industri diwariskan secara terus-menerus hingga saat ini. Bagi masyarakat saat ini, bekerja di perusahaan lebih bisa diterima daripada menjadi petani, peternak ataupun pekebun.

Semenjak revolusi industri, pendapatan banyak negara (GDP per kapita) meningkat dan relatif lebih stabil, terutama negara-negara Eropa. Produksi barang meningkat dan semakin jarang terjadi kelangkaan barang di pasar. Hal ini membuat kondisi negara menjadi stabil, sehingga banyak negara menganut pemikiran revolusi industri.

Ide pokok revolusi industri adalah berpangkal dari prinsip bagaimana menghasilkan barang produksi sebanyak-banyaknya dengan biaya produksi serendah-rendahnya. Maka proses-proses produksi yang dianggap kurang efektif diubah menjadi lebih efektif. 

Perubahan proses produksi, yakni dari proses produksi yang menggunakan kekuatan otot menjadi proses produksi yang menggunakan kekuatan mesin.

Revolusi industri tumbuh subur di negara Inggris (Great Britain). Inggris menjadi tempat yang cocok untuk berkembangnya revolusi industri karena negara ini menganut pemikiran pasar bebas dari Adam Smith. Campur tangan negara sangat diminimalisasi dalam kehidupan masyarakat, kecuali untuk urusan keamanan. 

Kondisi di Inggris berbeda dengan negara-negara monarki Eropa lainnya, di mana di banyak negara Eropa menerapkan campur tangan negara sebesar-besarnya terhadap kehidupan masyarakat. Dengan semakin sedikit restriksi dari negara, berimplikasi kepada berkembangnya sains dan teknologi. Masyarakat swasta bebas melakukan inovasi tanpa larangan dari negara. 

Penemuan-penemuan di bidang teknologi semakin banyak. Salah satu teknologi penggerak revolusi industri adalah mesin uap yang dikembangkan James Watt. Penemuan mesin uap ini didukung oleh kondisi geografis sumber daya alam negara Inggris dengan konsentrasi batu bara yang melimpah. 

Mesin uap mampu menghasilkan tenaga hingga 5 tenaga kuda (horse power). Kemampuan mesin uap jauh lebih efektif daripada kemampuan binatang ataupun manusia.

Kemajuan di bidang teknologi sejauh ini kelihatannya baik sekali bagi masyarakat. Akan tetapi, ada sisi lain dari revolusi industri. Pertama, revolusi industri membentuk tren kapitalisasi yang tidak sehat. Kekayaan yang beredar dalam masyarakat hanya dikuasai oleh sebagian kecil masyarakat. Akibatnya terjadi kesenjangan yang sangat tajam.

Revolusi industri telah melahirkan kesenjangan sosial jauh lebih tajam daripada sebelumnya. Hanya orang-orang yang mengusai alat-alat produksi yang menguasai kekayaan karena pendapatan yang melonjak jauh akibat efisiensi proses produksi. 

Kedua, nilai buruh/pekerja dalam proses produksi menjadi lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mesin dalam produksi jauh lebih tinggi daripada kemampuan manusia.

Kedua hal di atas menjadi sebab lahirnya perbudakan modern. Terjadinya kapitalisasi kekayaan pada orang-orang tertentu, membuat sebagian kecil orang menjadi teramat kaya. Kekayaan ini memanjakan sifat manusia yang tidak bisa ditolak, yakni ketamakan.

Jika kita melihat sejarah, semenjak revolusi industri negara Inggris melakukan kolonialisasi besar-besaran dari benua Amerika, Afrika, sampai Asia. Kolonialisasi ini dibiayai oleh kekayaan hasil revolusi industri.

Negara Inggris menjadi negara imperial terbesar pada masa revolusi industri. Negara imperial ini telah menjajah banyak negara berkat kekuatan ekonomi yang dilahirkan dari revolusi industri. Tren ini diikuti negara Spanyol dan Perancis. Tren kolonialisasi disebabkan ketamakan orang-orang bermodal.

Kebijakan kolonialisasi negara-negara imperial ini diikuti dengan kebijakan hukum menerapkan perbudakan. Langkah ini bermaksud melegalisasi perbudakan terhadap pelaku-pelaku kriminal yang dianggap telah dikeluarkan dari perlindungan hukum (outlaw). 

Perbudakan berarti orang yang menjadi budak adalah alat bagi majikannya. Para budak ini digunakan dalam proses produksi dan ditempatkan nilainya sebagai alat produksi. Implikasi dari pandangan perbudakan ini adalah rendahnya nilai manusia dibandingkan nilai mesin dalam proses produksi.

Pandangan terhadap budak dalam proses produksi menyebabkan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap budak. Budak tidak diperlakukan sebagai manusia lagi, budak diberi makan, minum dan tempat tinggal sesuai dengan kemampuan budak menghasilkan kekayaan bagi majikan. Alhasil, banyak budak yang kelaparan dan sakit-sakitan akibat perlakuan yang tidak manusiawi. Sebagian besar budak dicatatkan hanya mampu hidup 3 sampai 4 tahun.

Tren perbudakan ini yang coba dijelaskan oleh Rousseau dengan pernyataan tersebut di atas. Suatu ironi manusia yang telah diperlengkapi harkat dan martabat sejak lahir oleh Yang Maha Kuasa, tetapi dirampas oleh sesama manusia sendiri.

Meskipun tren perbudakan legal ini telah berakhir, akan tetapi pandangan-padangan dari revolusi industri masih diwariskan dan tidak berubah. Dua prinsip revolusi industri yang disebut di atas bahkan masih dianut oleh negara-negara modern. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan berasaskan no work no pay (Pasal 93). 

Asas no work no pay merupakan dasar bagi majikan untuk menilai buruh atau pekerja dalam kaitannya sebagai alat produksi. Dan bahkan undang-undang ini masih memegang tradisi pengupahan seperti jaman dahulu yang masih digantungkan pada penilaian majikan.

Ironisnya, Undang-Undang Ketenagakerjaan menganut nilai-nilai kemanusiaan. Akan tetapi, kandungan normatif dalam Undang-Undang tersebut masih menerapkan nilai-nilai yang diwarisi dari revolusi industri.