Mahasiswa
2 tahun lalu · 1040 view · 9 min baca menit baca · Seni 35954.jpg
google

Dari Puisi Balsem sampai Berzikir Bersama Inul

Mengenal Lebih Dekat Karya-Karya Gus Mus

Gus Mus Kiaku, Kiamu, Kiai Kita Semua

Bicara mengenai sosok Gus Mus, bagi saya, akan sangat sulit dilepaskan dari tradisi masyarakat pesantren yang mendarah daging dalam dirinya. Karya-karya bernapaskan islami menjadi ciri khasnya baik dalam puisi, cerpen, maupun lukisan yang selama ini dihasilkannya. 

Gus Mus merupakan sosok panutan paling ideal bagi para santri yang tidak hanya melulu bergumul dengan kitab-kitab kuning, ngalap berkah, sima'an, atau rutinitas-rutinitas keagamaan lainnya, melainkan juga produktif dalam hal berkesenian; bermusik, marawis, melukis, berpuisi, dsb.

Boleh dikatakan, Gus Mus merupakan gambaran seorang Kiai yang juga Seniman. Tidak banyak kiai sepertinya di Indonesia. Kesenian, baginya, menjadi salah satu metode dakwah yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan ilahiah serta nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran agama.

Agama, bagi seorang muslim yang memahami nilai estetik dalam berkesenian --dalam hal ini sosok Gus Mus saya jadikan sebagai permisalan, tak sekadar ajaran dengan sumber teks dan pemahaman yang melulu membicarakan halal-haram, dan acapkali membuat kita bergidik, lebih-lebih ketika mendengar ayat-ayat soal ancaman neraka. 

Di tangan Gus Mus, ayat-ayat menakutkan itu "menjelma" menjadi puisi yang lembut, namun tetap menjaga keutuhan maknanya, pesan yang tersampaikan dengan baik, serta membawa kita kepada perenungan panjang.

Sebagai seorang yang dulunya santri, dan kini mengayomi masyarakat sebagai seorang Kiai, Gus Mus cukup memahami realitas sosial yang terjadi di sekitarnya. Bukan tanpa dasar, hal ini terlihat dari sebagian besar puisi-puisinya, yang kalau boleh saya klasifikasikan, menjadi 3 prinsip utama: 1) Gus Mus dan Tuhannya. 2) Gus Mus dan keadaan sosial masyarakat. 3) Gus Mus dan kesan dalam kehidupannya (menyangkut peristiwa, orang-orang di sekitarnya, dsb).

Sekilas tentang Perjalanan Hidup Gus Mus

Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri, atau yang kerap disapa Gus Mus, dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Gus Mus lahir dari latar belakang kehidupan pesantren. Kakeknya, H. Zaenal Mustofa dan ayahnya, KH Bisri Mustofa adalah pengasuh pondok pesantren dan merupakan ulama kharismatik di kalangan umat Nahdhatul Ulama (NU). 

Mengikuti jejak kakek dan ayahnya, Gus Mus kini sangat produktif menulis serta memimpin Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Lazimnya para kiai-kiai, Gus Mus disibukkan dengan kegiatan sehari-hari dalam mengajar para santri dan masyarakat sekitar.

Gus Mus yang menguasai bahasa Arab, Inggris dan Prancis kemudian lebih banyak berkiprah sebagai ‘kutu buku’ dan penulis. Gus Mus menulis beragam jenis tulisan berupa esai, cerpen dan puisi yang tersebar di berbagai media massa seperti: Kompas, Tempo, Horison, Suara Merdeka, Jawa Pos, Gatra, dll. 

Kelihaian beliau dalam menulis, tak lepas dari pengaruh kakek dan ayahnya yang juga penulis yang cukup produktif. Gus Mus kerap menuis kritikan melalui medium esai, cerpen, puisi, lukisan, bahkan humor, Gus Mus berharap tidak menyakitkan hati, namun mampu menembus relung jiwa yang berbuah penyadaran.

Gus Mus; Beliau Nyentrik Maka Beliau Ada

Gus Mus merupakan sosok yang unik dan eksentrik. Gus Mus, sebagaimana yang kita tahu, tidak hanya seorang Kiai, namun juga seorang seniman dan sastrawan. Salah satu sikap nyentriknya ialah mencantumkan profesi ‘penulis’ di kartu tanda penduduknya.

Di lain waktu, Gus Mus pernah mencantumkan identitas yang dianggap tidak lazim dalam sebuah esainya di Kompas, ketika ia ingin membantah beberapa pernyataan dan sikap arogan Uli Abshar Abdalla, menantunya sendiri, dalam artikel panjangnya “Menyegarkan kembali Pemikiran Islam”. Alih-alih Gus Mus mencantumkan identitas seorang kiai atau pimpinan pesantren sebagaimana biasanya, namun di esai itu ia menuliskan: Mustofa Bisri; Mertua Ulil Abshar Abdalla.

Gus Mus; Jiwa Seni dalam Diri Seorang Kiai

Mengapa ia sampai kini masih menulis dan melukis, Gus Mus menyatakan: “Saya punya kebiasaan, kalau ada dorongan dari dalam itu, kalau tidak saya tuangkan dalam tulisan atau oret-oretan, rasanya masih seperti ada ganjalan. Apa yang saya lakukan itu merupakan dorongan dari dalam. Baik menulis maupun melukis, itu dorongan dari dalam yang tidak bisa dibendung, bahkan oleh saya sendiri. Karena sakit kalau tidak saya tuangkan. “

Gus Mus mengakui, perjalanan hidupnya banyak dipengaruhi pandangan gurunya, KH Ali Maksum dan KH Bisri Mustofa ayahnya. Keduanya memberikan kebebasan kepada para santrinya untuk mengembangkan bakat seni. 

Ketika mondok di Krapyak, di masa itulah Gus Mus mengaku sering keluyuran ke rumah para pelukis, di antaranya ia bertandang ke rumah Affandi untuk melihat bagaimana sang maestro melukis. Dari situlah, menurut penuturannya, ia terkadang iseng-iseng melukis dengan spidol dan cat air, yang pada mulanya tak pernah serius.

Seringkali pula Gus Mus, dianggap kiai nyeleneh karena menulis dan membaca puisi. Namun, Gus Mus dengan bijak menjawab, “Sastra itu diajarkan di pesantren. Dan para kiai itu, paling tidak setiap malam Jumat, membaca puisi. Burdah dan Barzanji, yang rutin dibaca para kiai dan santri itu adalah puisi dan karya sastra yang tinggi.”

Gus Mus; Lukisan Kontroversi  dalam Sebuah Pameran di Surabaya

Sebagai pelukis, Gus Mus populer akibat insiden lukisan ‘Berzikir Bersama Inul’. Pada saat itu, lukisan yang menggambarkan sosok seorang biduan wanita yang tengah “bergoyang” di hadapan para kiai, dikritik habis-habisan oleh para pengunjung pameran di Kota Surabaya. Pameran yang tidak hanya memamerkan karya Gus Mus, ada pula di dalamnya karya Djoko Pekik dan Danarto ikut dipajang. 

Namun, setelah dikritik, lukisan itu justru jadi sampul depan sebuah buku. Ketika dikonfirmasi, Gus Mus memberikan klarifikasi atas lukisan tersebut dengan mengaitkan maksud isi lukisan dengan nilai yang terkandung dalam tasawuf.

Ada hal yang jauh lebih penting diurus ketimbang mencaci maki si “penghibur rakyat” Inul. “Indonesia akan tenang asal rakyatnya mau berzikir,” katanya.

"Saya bukan mengkritik Inul, tapi saya mengkritik orang beragama. Jadi saya gambarkan Inul di tengah, kiai dan ulama-ulama di sekeliling, dan judulnya 'Berdzikir bersama Inul'. Berdzikir itu bukan pekerjaan daging saja, tetapi dengan roh.

“lukisan inul adalah simbol daging. banyak orang di indonesia lebih mengutamakan daging. salatnya lima kali sehari, naik haji tiap tahun, tapi tetap saja melakukan korupsi. ada yang berzikir sampai nangis-nangis, tapi perilakunya tidak menjadi lebih baik."

Jim Supangkat, seorang kurator seni rupa, mengatakan bahwa lukisan Gus Mus berbeda dengan ‘sebagian besar kaligrafi yang terkesan tulisan yang diindah-indahkan’. Sedangkan Danarto, menyatakan bahwa lukisan Gus Mus cenderung kepada ‘cara-cara i’tikaf yang memadai’ dalam mengarungi kehidupan ‘yang semakin hari semakin ganas.

Puisi Balsem; Panas Sesaat, Adem Kemudian

Sebagai seorang penyair, Gus Mus lebih dikenal dengan “puisi balsem”-nya. Menurut Gus Mus, kumpulan sajaknya disebut puisi balsem karena ia ingin sajaknya berfungsi sebagai balsem. Berikut pendapat Gus Mus mengenai puisi balsemnya:

Biasanya, untuk memahami makna sebenarnya dari suatu sajak atau puisi, orang harus lebih dulu mengkerutkan dahi (sulit dipahami). Itu pun pemahaman kita belum tentu persis seperti yang diinginkan si penulis sajak atau puisi. Tapi itu tidak berlaku untuk sajak-sajak saya. 

Saya tidak pernah berlindung dari kata-kata. siapa pun yang membaca puisi-puisi balsem saya, tak perlu mengerutkan dahi untuk memahaminya. Seperti halnya balsem, puisi saya langsung pada tujuannya, lugas dan tegas. Dan seperti orang yang diolesi balsem, kelompok orang yang disinggung dalam puisi saya juga akan merasa panas. Tapi hanya sebentar. Bahkan setelah itu, boleh jadi, malah membenarkan apa yang saya coba sampaikan lewat puisi itu.”

Masih menurut penyair yang selalu memakai kopiah ini mengatakan, bahwa puisi balsemnya lahir sebagai bentuk ketidakpuasan karena ia masih merasakan adanya jarak antara seniman dan masyarakat. Mengutip Abdul Wachid BS, puisi-puisi Gus Mus memang cukup ampuh menyembuhkan sebagaimana balsem yang terasa panas sepintas, namun selebihnya mengobati ‘si sakit hati,’ bahkan ‘si sakit jiwa’.

Pengaruh sastrawan luar dan Indonesia terasa kental dalam puisi-puisi Gus Mus. Tanpa memungkiri, Gus Mus mengaku bahwa ia banyak belajar dari mereka.

... kepada merekalah sedikit banyak saya belajar menulis puisi. mereka yang cermat membaca karya saya, insya Allah, akan dapat merasakan adanya berbagai pengaruh dari banyak penulis  atau penyair lain di dialamnya. Ada puisi saya yang ‘berbau Ka’ab’, ‘berbau Ma’arry’, ‘berbau Khayyam’, ‘berbau Bushiri’, ‘berbau Iqbal’, ‘berbau Syauqi’, ‘berbau Goenawan’, ‘berbau Emha’, ‘berbau Danarto’, ‘berbau Zawawi, ’berbau Sapardi...

Penilaian Sastrawan terhadap Puisi Gus Mus

Sutardji Colzoum Bachri menilai gaya pengucapan puisi Gus Mus tidak berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak bercantik-cantik dalam gaya pengucapan, namun melalui kewajaran dana kesederhanaan berucap atau berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tetapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise.

Taufiq Ismail mengatakan, sajak-sajak Gus Mus memiliki rasa terlibat yang kuat dalam masalah sosial, kesungguhan seorang saleh yang berilmu, kerendahan hati, dan rasa humor.

Sedangkan Sapardi Djoko Damono menyebut sajak-sajak Gus Mus itu “sembranan,” yaitu menyindir yang dilakukan dengan cara kelakar sehingga terkadang menimbulkan senyum, bahkan tawa terkekeh bagi orang yang mendengar atau membaca puisinya. Sapardi juga menyebutkan, segi stilistika tematik puisi Gus Mus sama dengan puisi mbeling yang dimototri oleh Remy Silado di awal tahun 1970-an.

Gus Mus; Pendatang Baru di Dunia Cerpen

Sebagai penulis cerpen, Gus Mus boleh dikatakan baru menerbitkan cerpennya di tahun 2002. Cerpen pertama Gus Mus berjudul “Gus Jakfar.” Menurut Gus Mus cerpen tersebut lahir karena dipropokasi oleh Danarto. Pada tahun 2003 cerpen tersebut terpilih sebagai cerpen pilihan kompas 2003. Kemudian, pada tahun 2005, kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi menerima hadiah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari pemerintah Malaysia. Setidaknya, sampai saat ini, Gus Mus baru menulis sebuah buku kumpulan cerpen berjudul Lukisan Kaligrafi, yang di dalamnya memuat 15 cerpen.

Secara keseluruhan, tema  dalam cerpen-cerpen Gus Mus berhubungan dengan kehidupan masyarakat pesantren Jawa. Kehidupan masyarakat pesantren tersebut dapat dilihat melalui tokoh-tokoh dan latar yang mewakili dunia pesantren. Hal ini diakui oleh Gus Mus sendiri, bahwa hampir semua cerpennya bertema pesantren.

S Prasetyo Utomo mendeskripsikan ciri khas cerpen-cerpen Gus Mus yang religius dan berlatar pesantren membedakannya dengan cerpen-cerpen Ahmad Tohari.

“idiom-idiom estetika Gus Mus menjadi khas karena muncul dari intuisi dan obsesinya terhadap objek yang sangat dia kenal. Ia tak berpaling dari objek dunia pesantren, kesufian, dan pergulatan manusia yang mencari cahay keilahian. Kancah perhatian cerpen-cerpennya yang berpusat pada dunia pesantren dan keulamaan telah mewarnai diksi-diksi yang terbingkai estetika lokal, yang membedakannya dengan cerpen-cerpe Ahmad Tohari, misalnya, dalam Senyum Karyamin yang berlatar sosial pedesaan, meski keduanya sama-sama ulama pesantren.”

Selain itu, Utomo juga mengkritik cerpen-cerpen Gus Mus yang terkesan meggurui karena Gus Mus memasukkan fatwa-fatwanya ke dalam cerpen yang tentunya mengurangi kadar estetika cerpen-cerpennya.

Ada saatnya Gus Mus tergelincir pada tradisi kelisanan yang melancarkan fatwa dalam teks sastra. Tentu ini mengurangi kadar estetika cerpen-cerpennya. Mestinya ia bisa menahan diri untuk tidak menyusupkan fatwa-fatwa keulamaan secara verbal dalam narasi fiksinya, cerpen-cerpen itu lebih merasuk empati pembaca. Layak disayangkan, fatwa yang tersisip dalam cerpen-cerpennya telah menandai lahirnya diksi-diksi yang menggurui, kecuali dalam dua cerpen, “Gus Jakfar” dan “Lukisan Kaligrafi”.

Karya-karya Gus Mus yang telah Diterbitkan

Gus Mus telah menghasilkan sejumlah karya tulis, seperti Ensiklopedi Ijmak (Pustaka Firdaus, Jakarta), Proses Kebahagiaan (Sarana Sukses, Surabaya), Awas Manusia dan Nyamuk yang Perkasa (Gaya Favorite Press, Jakarta), Maha Kiai Hasyim Asy’ari (Kurnia Kalam, Jogjakarta), Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat, Jogjakarta), Syair Asmaul Husna (Al-Huda, Temanggung), Saleh Ritual Saleh Sosial, Esai-esai Moral (Mizan, Bandung), Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya), Canda Nabi & Tawa Sufi (Hikmah, Jakarta), Melihat Diri Sendiri (Gama Media, Jogjakarta), dll.

Selain karya-karya di atas,Gus Mus telah menulis delapan kumpulan sajak dan sebuah kumpulan cerpen, yaitu: Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta), Tadarus (Prima Pustaka, Jogjakarta), Pahlawan dan Tikus (Pustaka Firdaus, Jakarta), Rubaiyat Angin dan Rumput (Matra Media, Jakarta), Wekwekwek (Risalah Gusti, Surabaya), Gelap Berlapis-lapis (Fatma Press, Jakarta), Gandrung, Sajak-sajak Cinta (Al-Ibriz, Rembang), Negeri Daging (Bentang, Yogya) dan Kumcer Lukisan Kaligrafi (Kompas, Jakarta.

Mengakhiri bahasan kali ini, setidaknya kita bisa menilai lewat karya-karya yang telah dihasilkannya, bahwa Gus Mus sepertinya ingin mengatakan, Kiai dan santri tidak boleh hanya berasyik masyuk dengan pengajian, membaca Quran, atau wiridan di pesantren dan malah melupakan masyarakat di luar pesantren. Kiai dan santri juga merupakan anggota masyarakat dan berhak mengapresiasikan imajinasinya lewat kesenian, khususnya lewat medium karya sastra, untuk sebuah perubahan atawa sekadar bahan perenungan.


Sumber Bacaan:

  • Kritik Sosial dalam Cerpen-Cerpen A. Mustofa Bisri: Sebuah Pendekatan Sosiologi Sastra, Laode Aulia Rahman Hakim, FIB UI, 2008
  • KH. A Mustofa Bisri dan Puisi, Abdul Wachid BS, Pikiran Rakyat, 29 Oktober 2005
  • Sohirin, “Mustofa Bisri: Puisi Tradisi Pesantren,” Koran Tempo, 18 Desember 2005.
  • A. Mustofa Bisri, Penyair dan Pelukis, www.gusmus.net, diposting di web tersebut pada tanggal 8 Maret 2006.
  • http://www.gusdurfiles.com/2015/03/berdzikir-bersama-inul-karya-lukisan-kh.html

Artikel Terkait