55728_34774.jpg
Foto: artelista.com
Cerpen · 9 menit baca

Dari Pondok Ranji ke Pasar Minggu

Pagi ini, aku sudah berjalan dari kosan temanku. Karena kosan itu berada di lantai dua dengan tangga di depannya, aku harus menuruni tangga itu. Perlahan-lahan kutapaki undakan demi undakan itu dengan hati-hati demi menghindari resiko terjatuh. Aku tak mungkin menahan dua rasa sekaligus akibat terjatuh: rasa sakit dan rasa malu.

Pagi ini jam 05.00 WIB. Matahari masih belum tampak. Aku menyaksikan langit yang cerah. Dan keramaian di jalan raya yang mesti kucapai dalam jarak 100 meter telah terdengar. Aku membayangkan kemacetan-kemacetan di sana. Astaga. Aku berharap kemacetan belum terjadi separah biasanya. Aku harus bisa sampai di tempatku sebelum jam 08.00 WIB. Aku harus mempersiapkan bahan bacaan dan diskusi di kelas pagi ini.

Aku mulai berjalan melewati gang-gang sempit. Di pertigaan depan, aku mengambil ke kiri. Di kanan dan kiri, toko-toko sembako masih tutup. Tapi beberapa pemilik warung makan sudah mulai sibuk. Masakan-masakan yang hangat untuk pagi ini mulai tergelar. Aromanya sampai juga di hidungku dan membuat aku tak dapat menolak untuk menoleh dan mengamati sebentar.

Terlihar: telor goreng dadar, ceplok, tempe goreng, dan sayur-sayur yang masih hangat. Aku melihat nasi yang mengepul. Tapi aku hanya melewatinya dan sambil tersenyum menghibur perut yang lapar: aku hanya perlu makan nanti biar bisa bertahan hingga esok hari.

Aku memang sudah terbiasa menunda segala yang menggoda. Perkara makan bukan soal yang penting. Nanti juga aku bisa menemukan warung lain dan aku bisa makan. Atau aku masak saja di tempatku sambil membeli lauk dan sayuran secukupnya.

Di tempat rantau seperti ini, aku memang harus pandai berhemat demi menyambung hidup dari hari ke hari. Aku harus menyesuaikan antara pengeluaran dan pemasukan. Aku sadar aku hanya buruh laundry yang dibayar setiap kali datang. Dua kali dalam setiap minggu. Dan aku cukup bersyukur aku punya pemasukan itu dan itu mencukupi dalam seminggu atau kadang lebih.

Aku sudah di tepi jalan raya. Kemudian aku menyeberang dengan hati-hati untuk sampai halte. Setelah menyeberangi dengan kepanikan menghadapi lalu lalang kendaraan dan beberapa kali mendapati marahnya bunyi klakson dan polusi, juga pengendara yang lupa diri, akhirnya aku sampai di halte juga. Beruntung pagi ini aku tidak perlu lama di halte. Angkot yang ke stasiun sudah menunggu di depan halte. Aku naik dan tak lama mobil berjalan ke arah stasiun. Tidak sampai 20 menit, aku sudah sampai di Pondok Ranji. Kuserahkan selembar lima ribu rupiah kepada sopir angkot. Dan aku bergegas ke stasiun.

Aku berfikir pagi selalu menyenangkan. Kendaraan berjalan lancar tanpa hambatan kemacetan. Berbahagialah orang-orang yang tidak malas bangun pagi-pagi. Mereka akan berhadapan dengan suasana yang relatif lengang. Dengan cara ini, aku memperoleh kebahagiaan kecil.

Di stasiun, aku langsung buru-buru menuju tempat tap in kartu. Kusentuhkan KMT-ku dan nyala hijau. Aku segera masuk dan buru-buru menuruni tangga melewati terowongan dan naik tangga lagi lepas dari terowongan muncul di peron. Sekarang dengan nafas yang terengah-engah aku berdiri di peron menunggu kereta menuju stasiun Tanah Abang. Petugas memberi aba-aba bahwa kereta sebentar lagi datang. Juga terdengar dari pengeras suara stasiun. 

Dari jauh, bagian depan kereta sudah kelihatan. Tepat berhenti di depanku, aku mendapati sebuah gerbong yang masih kosong. Oh tidak. Ada beberapa orang yang sudah duduk. Tapi aku lihat beberapa tempat duduk masih banyak juga yang kosong. Sebuah pagi yang indah. Tidak sia-sia aku bangun pagi. Pintu terbuka dan aku melompat ke dalam gerbong berebutan dengan orang-orang yang juga buru-buru rebutan kursi.

Pintu ditutup dan kereta melaju lagi. Kereta akan melewati dua stasiun lagi – Kebayoran dan Palmerah – sebelum stasiun untuk transit: Tanah Abang. Di sana, aku akan transit dan naik KRL ke arah Manggarai dengan melewati beberapa stasiun: Karet, Mampang, Manggarai, Tebet, Cawang, Duren Kalibata, Pasar Minggu Baru, dan aku turun di Pasar Minggu. Sepanjang menuju Tanah Abang, aku sungguh menikmati KRL yang kutumpangi. Dan sekali lagi, aku mendapati kebahagiaan kecil dalam perjalanan ini.

Setidaknya aku tak perlu berdesakan seperti yang pernah terjadi pada seminggu yang lalu. Waktu itu, aku baru berangkat dari jam setengah tujuh. Tiba di stasiun pukul tujuh. Orang-orang sudah berdiri di Peron seperti sebarisan tentara yang siaga menunggu kereta datang. Dan segera mereka melompat dan saling dorong di dalam.

Aku benar-benar tersiksa dalam gerbong yang berdesakan itu. Orang-orang tak peduli satu sama lain. Mereka hanya memikirkan kepentingannya masing-masing. Asal diri sendiri selamat dan dapat tempat yang nyaman, mereka tidak peduli sama yang lain.

Suara dari petugas kereta berkali-kali mengingatkan untuk tidak memaksakan diri naik apabila muatannya sudah penuh. Jaga keselamatan. Perhatikan keselamatan. Tapi orang-orang hanya menjaga keselamatannya sendiri. Mereka tetap masuk berebutan demi menuju tempat tujuannya masing-masing. 

Sebagian penumpang memuntahkan sumpah serapahnya berkali-kali saat kakinya terinjak orang lain atau tangannya yang terdempet. Seorang ibu-ibu harus rela berdiri dan terjebak di tengah-tengah desakan orang-orang.

“Apa yang mereka pikirkan?”

Jangan-jangan mereka tidak sempat memikirkan yang lain-lain sebab pikirannya sudah dipenuhi oleh kerja: rutinitas, ketepatan waktu, deadline, gaji, dan soal lain-lain di kantor. Time is money. Ungkapan ini nampaknya berlaku di sini. Mereka bekerja menurut durasi waktu. Mereka dibayar berdasarkan satuan waktu. Jika mereka telat dalam sekian menit, gaji dipotong. Itu sebabnya mereka harus buru-buru.

Di kota-kota, etos kerja memang sangat tinggi. Tak sedikit dari mereka yang tak sempat untuk bersenang-senang. Senin sampai Jumat, orang-orang bergelut dengan pekerjaan dari pagi hingga sore. Perjalanan dan pekerjaan yang meletihkan membuat mereka tak punya banyak waktu. Saat pulang, mereka hanya berfikir seberapa cepat bisa sampai rumah dan dapat istirahat dengan baik. Jam 21.00 WIB, kebanyakan mereka sudah terlelap dalam tidurnya atau sengaja memaksakan diri untuk terlelap.

Kereta berhenti di Tanah Abang. Orang-orang berebutan keluar seperti jutaan semut yang keluar dari sarangnya. Atau kalau kamu melihatnya dari peron seberang, kamu akan melihat sebuah badan kereta seperti ular besar dan panjang yang pada beberapa titik memuntahkan isi perutnya. Isi perut itu adalah orang-orang.

Dan pemandangan itu menjadi tidak enak dipandang. Mereka tidak turun dengan tertib. Mereka tidak tertib waktu menuju tangga atau tangga eskalator. Mereka yang datang belakangan tidak memilih antri di belakang tetapi malah berebutan dan saling mendahului. Mereka mendesak masuk melalui samping barisan. Sehingga barisan yang seharusnya berjajar dua atau paling banyak tiga menjadi tidak jelas. Barisan menjadi kacau. Kesalamatan tidak terjamin dengan baik.

Seorang perempuan yang karena berdesakan sewaktu turun dari kereta untuk menuju ke tangga, dia harus terdempet ke badan kereta. Jika tak ada kereta di sisi kanannya, mungkin dia terjatuh ke rel sebab kuatnya saling dorong-mendorong. Seorang bapak tua tak tahan menahan nafas di tengah desakan orang-orang dan akhirnya menyerah keluar dari barisan. Dan aku yang tak tahan menghadapi situasi ini akhirnya memilih diam di dalam gerbong sebentar. Hingga aku pikir aman, aku turun dan memilih berjalan santai di belakang.

Suara dari pengeras suara berkali-kali mengatakan: “terus jalan bagi mereka yang berada di eskalator sisi kanan”. Memang aturan di eskalator begitu. Jika mereka berada di posisi kanan eskalator, mereka harus terus bergerak berjalan. Tidak boleh diam. Bagian kanan memang dikhususkan bagi mereka untuk terus jalan bukan diam mengikuti gerak eskalator saja. Sedangkan bagian kiri memang dikhususkan bagi mereka untuk diam. Maka pecahlah marah-marah dari beberapa orang kepada mereka yang tidak berjalan atau tak bergerak di posisi kanan.

“Jalan dong, jangan diem yang kanan”.

“Sebentar dong jangan marah-marah, ini juga yang di depan tidak bergerak”.

“Oy siapa sih yang paling depan, kok gak gerak. Kalau mau diem, mestinya di posisi kiri”.

“Dasar ga paham aturan. Ga denger apa pengumuman”.

Karakter lain yang aku dapatkan dari orang-orang kota, dengan menyaksikan keributan dan rebutan di stasiun ini: mereka seringkali kehilangan kesabaran. Demi dikejar kepentingannya masing-masing, prioritas diri, mereka jadi kurang memikirkan orang-orang lain. Jika di depannya ada yang lambat atau berjalan telat, akan timbul gerutu marah dari sebagian orang. Mereka benar-benar tak dapat tenang.

Perjalanan menjadi tidak menyenangkan. Dan memang bagi sebagian mereka, rutinitas yang diwarnai dengan desak-desakan adalah siksaan. Tapi bagi sebagian yang lain, berdesakan adalah hal yang biasa.

Terkadang aku menyaksikan orang berjalan-jalan lambat di depanku dan kemudian menghambat kecepatan di belakangnya. Mereka berjalan sambil asik main handphone-nya. Mereka lupa orang-orang di belakangnya, termasuk aku, tidak nyaman perjalanannya terhambat olehnya. Apa yang dipikirkan oleh orang-orang semacam dia di tengah orang-orang yang berlomba kecepatan agar secepat mungkin sampai di tujuan? Ada yang sebagian lagi mengabaikan peraturan: mereka duduk dengan tenangnya di tangga. Orang-orang jelas menjadi terhambat dan berpindah ke baris lain.

“Bila kau ingin menyaksikan adanya aturan”, seseorang berkelakar waktu itu, “tapi tak benar-benar mampu menertibkan orang-orang, kau datanglah ke stasiun tanah Abang atau stasiun transit lainnya. Kau akan mendapati orang-orang yang berebutan dan tata tertib yang diabaikan”.

“Juga kalau kau ingin menyaksikan gambaran orang-orang yang sering lupa peduli pada keselamatan”, yang lain menimpali.

Juga kalau kau ingin menyaksikan marah yang tak tertahankan. Juga kalau kau ingin menyaksikan orang-orang kehilangan kesabaran. Juga kalau kau ingin menyaksikan orang-orang berdesakan di dalam gerbong; juga kalau ingin menyaksikan kursi-kursi prioritas yang diisi oleh orang-orang yang bukan lansia, bukan perempuan-perempuan hamil, atau kategori prioritas lainnya yang ditetapkan oleh pihak KRL.

Seseorang pernah benar-benar marah melihat orang-orang duduk di kursi prioritas dan tak mau berdiri memberikan kepada yang lebih membutuhkan. Malah ia pura-pura tidur: dia memejamkan matanya atau menarik topinya agar menutup wajahnya.

“Mengapa tidak sekalian dia bawa tempat tidurnya ke gerbong ini”, gerutu seseorang yang tak suka dengan keadaan itu.

“Mungkin dia letih”, temannya menjawab dengan tenang.

“Tapi seharusnya bukan di kursi itu. Apa gunanya ada bacaan yang ditempel di tempat itu? Apa gunanya pengeras suara berkali-kali memberi pengumuman. Di tiap-tiap gerbong disediakan tempat prioritas bagi orang-orang tertentu. Mereka tidak masuk kategori itu”.

“Tapi mereka duduk dalam keadaan tadi masih kosong?”

“Tapi sekarang ada beberapa orang yang seharusnya duduk di tempat itu terpaksa memilih tempat lain. Seharusnya kalau mereka mau sedikit memperhatikan orang lain yang lebih membutuhkan dan mau berbelas kasih, dan juga paham aturan,  dia seharusnya tidak pura-pura tidur, dia seharusnya bangun dan memberikan kursi itu kepada mereka yang berhak”.

Aku sudah transit di Tanah Abang dan sekarang aku sudah berada di KRL jurusan stasiun Bogor. Kereta sudah melewati beberapa stasiun. Setelah ini aku akan turun di stasiun tujuan: Pasar Minggu. Tapi sambil kereta berjalan, diantara deru bunyi kereta, aku masih terus mendengar suara-suara yang terus menggerutu marah.

“Mungkin seharusnya aturannya harus lebih dibuat ketat. Masing-masing gerbong harus ada penjaganya”.

“Masalahnya bukan itu. Aturan yang ada saja mereka tidak mau mengikuti. Kalau misalnya tiap gerbong harus ada petugas. Sebutlah dua orang petugas untuk dua tempat khusus yang ada di tiap-tiap gerbong. Hitung tiap kereta, ada yang 8 gerbong. Ada pula yang 10 gerbong. Berarti dibutuhkan 16 petugas atau 20 petugas untuk tiap kereta yang beroperasi. Aku pikir itu tidak efektif”.

“Tapi mereka dapat membantu menegakkan aturan di tiap gerbong sehingga orang-orang yang benar-benar membutuhkan memperoleh tempatnya yang layak dan yang sehat, yang lebih muda bisa mengalah dan berdiri”.

“Yang dibutuhkan adalah literasi. Orang-orang itu harus ‘melek’ dan punya kesadaran pada aturan. Juga sedikit perasaan belas kasihan. Apa gunanya aturan ditempel-tempel begitu kalau orang-orangnya tak patuh aturan. Tempel-tempel kotoran saja”.

Aku menduga mereka berdua adalah mahasiswa. Keduanya menenteng buku-buku pelajaran. Juga keduanya membawa ransel. Mungkin saja mereka berdua adalah guru. Tapi bisa saja aku keliru menebak. Dan aku terus membiarkan diri diam tanpa menanyai identitas mereka.

 Satu-satunya yang kutahu: mereka akhirnya turun di stasiun mendahuluiku. Dan dalam beberapa menit, aku juga turun di stasiun tujuanku: Pasar Minggu.