Bagaimana sebuah kelompok pertemanan tiba-tiba bermetamorfosis menjadi kelompok kajian? Dan, indekos (kosan) berwarna hijau seluas dua petak kecil yang seperti titik kecil dihimpit rumah-rumah warga, di tengah-tengah ramainya Sedap Malam, tempat hujan menumpahkan banjir dan yang semula sekadar tempat tidur dan tongkrongan, tiba-tiba tersulap menjadi sentra awal diskusi sosiologi dan segala yang menyangkut ilmu pengetahuan?

Kelompok kajian itu bernama Kasogi: Kajian Sosiologi. Dan kami, kelompok pertemanan dimaksud, tak pernah bermimpi: kosan itu bakal menjadi tempat mula diskusi yang kini bertahan hingga sekian generasi. Itu tahun 2010 tapi dengan tanggal dan waktu yang berdiri di luar ingatan.* Tapi cerita tentang Kasogi bukan cerita instan: bermula dan menjadi kini secara tiba-tiba, atau penuh keajaiban yang berlangsung tak terduga?

Ia dimulai dari satu magrib dengan kesediaan dan ikhtiar perubahan dari seorang senior dan kesediaan kami untuk menerimanya. Seorang senior, dengan sepedanya, telah menunggu kami sejak itu. Dan kami, yang terbiasa tak tepat waktu, akhirnya rampung berkumpul di indekos hijau habis isya. Kami yang dimaksud ada sekitar enam orang. Dan seorang senior: Cecep Sopandi.

Malam itu, yang kami ingat, duduk mula perkara adalah pertanyaan yang meragukan, melabilkan bahkan hendak meruntuhkan. Kami yang datang dari pelosok daerah masing-masing bertemu di satu titik lintas ilmu pengetahuan bernama Ciputat, dengan harapan yang tinggi-tinggi, tiba-tiba menghadapi pertanyaan yang mengerdilkan, pembicaraan yang menggambarkan betapa tak dekatnya antara kenyataan dan mimpi.

Tentu saja dia tidak benar-benar ingin mematikan harapan. Dia bukan sosok yang tak bertanggung jawab yang meninggalkan kami dalam harapan yang diruntuhkan. Dan kami sungguh-sungguh mendengarnya, dibuatnya pukau, dibuatnya kadang gelisah dan kadang beberapa kalimat dari tuturannya berlalu begitu saja tanpa kami pahami. Maklum, pengetahuan kami masih pengetahuan siswa dan dia kadang menggunakan retorika rumit ala mahasiswa.

Bila dirumuskan lagi dengan ingatan hari ini dan tafsir-tafsir baru dariku: ia bicara tentang kuliah. Betapa tak sesederhana itu perihal kuliah: masuk kelas, dengar ceramah dosen dan pulang dengan tugas yang bergunung-gunung.

Salah seorang dosen sosiologi kebudayaan di kelas pernah mengatakan, betapa semakin tinggi kamu belajar – TK, SD, SLTP, SLTA dan PT – betapa makin berkurangnya perhatian guru kepadamu. Yang berkurang tentu saja bukan perhatiannya, melainkan cara dia menuangkan ilmu pengetahuan.

Kita tak akan dijejali ilmu pengetahuan sebanyak yang bisa diberikan sewaktu di tingkat-tingkat bawah. Semakin kita tinggi belajar, semakin kita perlu mandiri mencarinya sendiri. Dan di sini, di perguruan tinggi, kemandirian belajar mutlak diperlukan.

Itu sebabnya, kelas (ruang fisik yang disekat-sekat) tak selalu cukup untuk menampung keinginanmu atas ilmu pengetahuan. Dosen yang ceramah tak selalu perlu sepenuhnya diterima ceramahnya sebagai benar, apalagi satu-satunya pemilik otoritas atas ilmu pengetahuan yang kadang membuatmu pukau dan akhirnya bungkam membuat seolah semuanya selesai.

Sebaiknya kelas bukanlah ruang-ruang fisik yang menyekatmu menjadi sekian orang dan kamu tertutup dari mendengar yang di luar. Sebaiknya kelas adalah imajinasi tentang suatu area di mana lalu lintas ilmu pengetahuan dapat kau serap, entah itu pasar, taman, halaman dan lainnya. Dan kau bisa belajar sebebas-bebasnya, dan membaca sebanyak-banyaknya tanpa selalu mengidentikkan bahwa belajar adalah di kelas (ruangan sempit yang disekat-sekat).

Ada ungkapan orang bijak: semua tempat adalah kelas, dan semua orang adalah guru dan Kasogi, lingkaran anak-anak yang semula hanya punya mimpi, lalu perlahan menjadi kelompok diskusi yang bertahan hingga kini, sejauh ia konsisten bahwa ilmu pengetahuan bukan mutlak didapatkan di kelas tapi di mana-mana.

Bukan sepenuhnya dari dosen semata tapi dari siapa pun yang tak bosan-bosan mencintai ilmu pengetahuan dengan membaca, berbagi ilmu, berdiskusi atau menulis, maka ia Kasogi yang perlu dipertahankan. Kasogi yang sejenis itu adalah terjemahan dari kegelisahan dan harapan yang pernah terbit di satu masa 2010 pada sekelompok orang yang pernah benar merindukan ilmu pengetahuan.

Terakhir yang tak boleh terlupakan, Kasogi bukan produk dari keajaiban, ia dibangkitkan oleh keinginan dan keteguhan menggerakkan. Dan satu orang yang telah memberi kami kebangkitan adalah Bung CS.

*Kawan-kawan yang lain, yang seangkatan, mungkin bisa mengingatnya dan mengoreksi beberapa cerita yang terlewatkan.