Beberapa tahun lalu, kosakata kita bertambah ketika mendengar sebuah istilah "disruption" (disrupsi). Sebuah fenomena global di mana banyak nilai dan norma lama mengalami pergeseran, pemain utama dalam pasar mengalami pergantian, perubahan mendasar dalam distribusi ekonomi, dan lain-lain.

Disrupsi teknologi telah mengubah lanskap kehidupan sosial ekonomi. Prof Rhenald Kasali sampai mengeluarkan dua buku untuk memberikan panduan perspektif memahami fenomena ini, yaitu Disruption (2017) dan Self Disruption (2018).

Tiba-tiba muncul jasa transportasi yang bisa dilakukan oleh setiap individu yang memiliki kendaraan melalui penggunaan aplikasi. Buku-buku berbahasa asing yang dahulu begitu sulit didapatkan, sekarang dengan mudah dapat kita peroleh di layar smartphone kita melalui format ebook.

Pola jual beli produk mengalami pergeseran di mana pembeli tidak harus menemui penjual dan penjual tidak harus menunggu pembeli. Sejumlah aplikasi jual-beli online menjamur dan pemesanan sejumlah makanan melalui jasa aplikasi menjadi gaya hidup masa kini.

Sebagaimana pengamatan Prof Kasali, "Kita menghadapi suatu era baru – era disruption. Era ini membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset, dan disruptive marketing.” (Disruption, 2017)

Namun sampai tiba pandemi Covid-19, semua konstelasi menjadi berubah. Dunia masih ada namun berjalan tidak sebagaimana mestinya. Tiba-tiba sejumlah pekerja harus dirumahkan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Kegiatan ekonomi melambat di semua sektor.

Setiap orang hampir di mana pun menggunakan masker (terkecuali yang bandel dan tidak memiliki literasi kesehatan). Mencuci tangan atau membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer menjadi pemandangan sehari-hari.

Setiap kegiatan pemerintahan dan pendidikan dilaksanakan dengan mengambil posisi duduk berjarak (physical distancing). Beberapa kegiatan pendidikan, konferensi, dan diskusi publik dijalankan secara virtual melalui aplikasi Zoom.

Bukan hanya teknologi informasi yang saat ini mendisrupsi dan mengubah lanskap kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, sosial politik, namun pandemi bernama Covid telah mendisrupsi banyak sektor kehidupan.

Pandemi yang mendisrupsi saat telah menjadikan setiap pemerintahan dan warga negara dunia, -meminjam istilah Sosiolog Marxis Slavoj Zizek- "We are all on the same boat" (kita telah berada di kapal yang sama - Panic: Covid-19 Shake the World, 2020).

Apa artinya? Kita semua berbagi problem yang sama, baik dalam pendekatan mengatasi penyebarluasan virus maupun menyembuhkan mereka yang sedang terjangkit.

Foto: 9gag.com

Di era digital yang telah "melipat dunia" (Amir Yasraf Piliang), "mendatarkan dunia" (Thomas Friedman), semua pemerintahan dan warga dunia bukan hanya terkoneksi dengan berbagai informasi dan pengetahuan, namun terkoneksi dengan semua problem dunia, mulai dari perubahan iklim hingga penularan penyakit melalui virus, termasuk Avian Influenza dan sekarang ini Covid-19.

Dampaknya? Jangan ditanya, bukan hanya bersifat regional melainkan global. Mulai dari penurunan daya beli, pengangguran, hingga peningkatan angka kriminalitas menjadi sorotan pemberitaan.

Belum lagi yang disebut -kembali meminjam istilah Slavoz Zizek- "triggered a vast epidemics of ideological viruses" (memicu meluasnya epidemi virus ideologi - 2020:39) alias penyebarluasan berita palsu (hoaks) dan bermunculannya sejumlah teori konspirasi yang makin menyesatkan kesadaran publik.

Sampai kapan pandemi ini akan berakhir? Tidak ada yang dapat memastikan. Apalagi saat WHO memberikan pernyataan bahwa virus ini tidak akan hilang dan berdampingan dengan manusia.

Foto: blomber.com

Maka tidak ada jalan lain selain memilih seluruh aktivitas sosial ekonomi berjalan kembali. Menunggu pandemi mereda hanya akan makin memperburuk situasi. Kelumpuhan ekonomi akan menimbulkan kekacauan lanjutan di berbagai ranah terkait yang dampaknya bisa lebih mematikan tinimbang terpapar Covid-19.

Pilihan sulit memang, namun harus diambil oleh para pemangku kebijakan publik. Itulah sebabnya istilah "new normal" dinarasikan di ranah publik sebagai sebuah strategi menjalani kehidupan sosial ekonomi yang baru namun dengan menjadikan sejumlah kebiasaan baru (mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik, tidak bersentuhan) menjadi sebuah kebiasaan normal.

Tentu, istilah “new normal” bukan sekadar tetek bengek penggunaan masker dan tata laku yang meminimalisasi pencegahan penularan Covid belaka. Lebih dari itu adalah kesiapan pemerintah dan institusi pemerintah dalam mempersiapkan sarana-prasarana kesehatan, kedisiplinan masyarakat mematuhi sejumlah protokol kesehatan, ketegasan aparat keamanan mengawal penegakan protokol kesehatan di masyarakat, perubahan pola interaksi dalam transaksi jual beli, inovasi baru di bidang kewisataan, dan seterusnya.

Mengutip pandangan Elisabeth Kubler Ross dengan judul "On Death on Dyng" mengenai lima tahapan manusia saat merespons dirinya mengalami penyakit yang mematikan, yaitu: (1) Menolak (2) Marah (3) Tawar Menawar (4) Depresi (5) Menerima (Zizek, 2010).

Jika kita terapkan dalam kehidupan sosial khususnya cara manusia dan pemerintahan dunia merespons, pada umumnya semula berada pada fase penolakan dengan meremehkan keberadaan virus ini dengan sejumlah pernyataan.

Dan akhirnya, setelah beberapa bulan ini kita semua harus menerima kenyataan bahwa virus ini masih akan lama berada di kehidupan kita dan kita diajak untuk "berdamai" (istilah Presiden Jokowi) dengan menerapkan sejumlah protokol kesehatan sebagai bentuk "new normal".

Sebagaimana disruption era membutuhkan disruptive regulation, disruptive culture, disruptive mindset dan disruptive marketing, demikian pula pandemi global Covid-19 membutuhkan sebuah regulasi baru, gaya hidup baru, tata laksana interaksi baru yang terangkum dalam istilah “new normal”.

“Show must go on” (pertunjukan harus berjalan terus). Pandemi ini menyingkapkan kepada kita betapa manusia dan teknologi yang diciptakannya bersifat kontingensi (diliputi ketidakpastian). Penyakit dan kematian tetap menjadi problem eksistensial yang akan mengiringi kehidupan manusia, betata pun teknologi telah melaju mengubah peradaban.

Menunggu pandemi bukan jalan terbaik. Kehidupan harus terus berjalan, namun dengan cara pandang dan perilaku yang baru. Selamat datang, new normal.