Waktu berdetak seiringan dengan detik. Detak dan detik tanpa satupun titik. Hanya koma yang mengiringi tindak tanduk manusia. Dua puluh enam alfabet huruf, sudah bosan mengiringi, mengarungi juga mewadahi segala hasrat manusia. Peradaban mutakhir yang kian bejat tiada akhir.


Begitu pula cacing yang sudah bosan digusur oleh beton, beton yang masih takut menginjak air, air yang lelah menampung keringat ikan, ikan yang memanjat pohon, pohon yang di-genosida manusia. Itu semua adalah hasil, dari beberapa manusia yang merasa memiliki jejak riwayat kuasa, untuk meminta tunduk semua makhluk.

Manusia "sejati", sudah lama mati. Manusia kontemporer, dagingnya pudar, kulitnya menebal. Ditandai dengan bahasa dan istilah demoralisasi ataupun dehumanisasi. Marwah manusia juga sudah lama hancur, oleh manusia sendiri. Sialnya, di sisi lain, manusia gemar menyalahkan. Menyalahkan setan yang menggoda. Menggoda manusia berbuat dosa.

"Sejatinya, cermin adalah benda yang belum ditemukan manusia, sehingga aktivitas bercermin adalah sesuatu yang mustahil. Tercermin dari ketiadaan introspeksi dan mawas diri."

Selain itu, manusia kontemporer cenderung senang sekali menyiksa makhluk lain. Memakan hewan tanpa rasa puas, mengebiri tumbuhan tanpa batas. Lalu, menduduki puncak rantai makanan. Tapi tidak pernah mau Simbiosis Mutualisme dan malah memilih untuk menjadi parasit. Tepatnya, brood parasite, seumpama organisme yang memanfaatkan (tepatnya merugikan) organisme lain demi keperluannya sendiri.

Oh andaikan para manusia kontemporer tahu, bahwa Klorofil adalah nama lain dari sel darah hijau, dan Klorofil adalah saudara dari Eritrosit atau sel darah merah. Pun juga menyadari Magnesium dan Zat Besi itu bersaudara. Tapi sialnya, lagi-lagi, manusia lebih suka untuk menumbuhkan Zat Beton, lalu mencuci tangan atas perbuatan yang dilakukannya, dan menggosok giginya dengan Flouride.

Apakah para manusia kontemporer pernah memikirkan nasib Pineal Gland? Aku rasa tidak. Para manusia lebih suka merawat Otak Reptil-nya, dan bercita-cita menjadi “Snake”. Atau mungkin menjadi serigala, untuk merevitalisasi frasa Homo Homini Lupus.

Entahlah, lupakan.

Seperti manusia lainnya, aku sesekali larut dalam kontemplasi. Aku membayangkan apa jadinya bila kita semua menerima fakta, bahwa mereka semua berasal dari sumber yang sama. Mungkin tidak akan ada pertikaian, pertempuran dan pertumpahan darah. Mungkin juga senjata api, senjata tajam apalagi senjata pemusnah massal tidak akan pernah ada.

Sebab kala bersama senjata, baik otak maupun mesiu, manusia malah semakin liar dan buas, melebihi hewan yang manusia sebut sebagai makhluk buas. Dan beberapa manusia kontemporer, nampaknya tidak hanya ganas tapi juga banal dan binal. Beberapa yang lain, bahkan mencabuli raga manusia lain, juga telah mencabuli hakikat baik dan benar, hitam dan putih, suci dan kotor.

Sebagian manusia kontemporer bertindak frontal, terang-terangan berprilaku gelap dan gelap-gelapan seraya mencitrakan dirinya terang di khalayak umum. Manusia modern, memang primitif, benar-benar naif. Mengencingi manusia lain, penghuni piramida kasta bawah.

Manusia kontemporer, juga telah mengerdilkan Tuhan yang maha besar. Seakan-akan kalam Tuhan, hanya memiliki satu makna. Seakan-akan hak prerogatif Tuhan hanyalah bualan, untuk meninabobokan api keserakahan. Kematian tafsir kalam sudah terjadi, hasilnya adalah sejarah kelam dan genderang perang bukan terang benderang, yang tercatat dalam sejarah dengan tinta darah.

"Oh maha suci manusia dengan segala kesucian yang mereka pertontonkan. Seakan-akan hidup adalah pertandingan sepak bola. Seakan-akan manusia miskin adalah pemulung bola. Seakan-akan manusia kaya adalah pengadil lapangan. Seakan-akan uang adalah peluit yang mengomandoi jalannya pertandingan. Seakan akan Tuhan adalah pencari bakat, dan manusia adalah wonderkid yang selalu Tuhan rindukan."

Sungguh, sudah jenuh dan jengah aku sampaikan bahwa hidup bukanlah pertandingan, bukan pula kompetisi. Aku percaya bahwasanya manusia bukanlah Tajalli, dari domba yang diciptakan untuk diadu. Bahkan domba sekali pun diciptakan bukan untuk diadu. Tapi beberapa manusia berengsek itu terus mengampanyekan, bahwa manusia adalah hewan ruminansia. Pengunyah drama, penghasil metana yang beraroma benci.

Sejujurnya, sudah lama aku merasa ada yang hilang dari sinar mata manusia, khususnya manusia kontemporer. Ketabahannya tidak sekuat dulu, keikhlasannya sirna. Tergantikan segala kalkulasi, prospek, untung dan rugi. Dan hidup bersama manusia kontemporer, adalah perkara mencapai kemapanan dan kesuksesan materi. Standarisasi kelayakan yang penuh kebahagiaan semu. Fana dan pandir.

Dimulai sejak lahir, bersekolah, lalu lulus kuliah dengan nilai tinggi dan bekerja di sebuah instansi, dengan gaji yang tinggi. Dan jika memang kesuksesan sama dengan itu, maka aku lebih baik terlahir sebagai manusia purba saja.

"Bukan aku tidak memiliki kompetensi untuk bersaing, tapi menurutku, sekali lagi, hidup bukanlah kompetisi atau persaingan yang lazimnya berakhir dengan rasa tidak nyaman bahkan pertikaian."

Aku begitu mual dan muak. Melihat manusia-manusia saling unjuk kekuatan, seakan-akan Tuhan hanya menciptakan otot tanpa otak. Tapi aku juga geram melihat manusia-manusia yang membunuh penciptanya sendiri dengan akal logika, seakan-akan Tuhan hanya menciptakan otak tanpa hati. Sekali lagi, aku juga kesal tidak tertahankan, melihat manusia-manusia yang terlalu lemah untuk diperbudak manusia lainnya, seakan-akan Tuhan hanya menciptakan hati tanpa jiwa.

Kadang kala aku mencoba menjadi peneliti. Mengamati setiap senti, tingkah laku manusia abad ini, menyaksikan mereka berangkat bekerja. Merekam segala ingatan tentang mereka, kala mengerjakan tugas-tugas seperti hari sebelumnya, atau mengerjakan kerjaan yang lebih terlihat seperti dikerjai oleh para pemilik kerja.

Dari matahari timbul hingga sang sinar pulang ke peraduannya. Dan kala lunar merekah senyuman, mereka langsung tertidur lelah. Esoknya bangun untuk kembali bekerja. Begitu, begitu, begitu setiap hari. Sampai mereka dapat menjilat sikut mereka sendiri, melihat telinga tanpa bantuan cermin, atau melihat manusia lain yang tidak bekerja tanpa sebelah mata.

Namun mungkin, hakikat manusia dari era batu hingga robot adalah perihal be-kerja agar mampu terus ber-evolusi dan ber-metamorfosa. Frasa, "survival of the fittest" seakan hilang ditelan zaman dan waktu. Dan itu sudah dibuktikan oleh para kepompong (manusia) yang kelak akan menjadi kupu-kupu (manusia dewasa) yang sama dan seragam. Bila tidak hitam, tentu putih, begitu sebaliknya. Mungkin benar pelangi itu ada dan nyata, tapi para manusia kontemporer memang memilih untuk buta warna.

Oh begitu indahnya, kala timbul tenggelam kehidupan ter-representasi-kan dalam mata sinar Xerox. Oh dimanakah Buku Pantone? Apakah buku itu hilang bersamaan dengan nada-nada Pentatonik yang sembunyi, dalam gemerlap bunyi-bunyian Diatonik. Ataukah berlindung diantara segala intrik, dialektik retorik?

Kebanyakan manusia kontemporer ini memang bodoh, sudah bodoh, kuadrat. Dengan sengaja “menghijabi” hatinya dengan pernak-pernik dunia. Dan tidak ada yang tahu, berapa jumlah lapisan yang melapisi hati nuraninya. Tapi yang jelas, itu sudah pasti melebihi jumlah lapisan dalam iklan wafer. Mungkin ribuan, jutaan, milyaran, triliunan, atau mungkin tak terhingga sehingga tidak ada satupun yang dapat mengira-mengira.

Memang benar kata Para Sufi itu, bahwa hidup adalah perjalanan. Tapi modernitas mempecundangi petuah itu, dengan menjelaskan bahwa hidup adalah perjalanan dan bumi adalah jalan tol atau jalan bebas hambatan. Maka pantas saja para tikus-tikus berdasi, penghuni kursi empuk itu begitu rakus. Dan membuktikan bahwa dunia memanglah lumpur. Beberapa ada yang menjadi teratai berbunga, namun banyaknya menjadi feses yang serupa dengan lumpur.

Dan akhirnya waktulah yang membuktikan. Para manusia canggih itu telah tergilas oleh kendaraannya sendiri. Mungkin karena sistem rambu-rambu lalu lintas zaman, benar-benar hanya berwarna hijau. Meracuni otak dengan bisikan, bahwa jika tidak maju maka akan tertabrak mobil lainnya. Tanpa pernah membiarkan kita untuk sejenak diam dan bersyukur.

Tulisan ini untuk manusia bajingan, yang sekarang selalu datang dan berpidato tentang kesejahteraan, keadilan, idealisme, peluang hidup dan dogma, yang pada praktiknya hanya berujung omong kosong. Juga untuk mereka, yang gemar ceramah moral di atas mimbar kekuasaan, dengan dalil dan dalih kebenaran ala Massifikasi. Lalu memuarakan semua sikap, eksistensi dan harga diri mereka kepada surga fisik yang bergelimang materi.

Tulisan ini juga adalah tanda selamat dariku. Oleh manusia purba, untuk manusia modern. Selamat untuk keberhasilannya menjadi makhluk baru. Makhluk yang telah diprogram untuk mematuhi perintah mereka yang kastanya di atas. Aku ucapkan selamat telah menjadi makhluk yang bergerak atas ambisi, untuk menyetubuhi selir-selir kenikmatan. Dengan bahan bakar bernama, pangkat dan uang.

"Mengitari altar kepuasan semu, sembari meracau tidak karuan. Namun, bodohnya, mereka tidak pernah sadar, bahwa tempatnya berlari hanyalah jalan kecil melingkar. Berpagar besi dan dilehernya terikat sebuah tali bernama ambisi."

Sekali lagi, tulisan ini untuk manusia, dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia kontemporer. Persis seperti jargon demokrasi, yang hari ini sudah secara leksikal berkonotasi menjadi democrazy. Tapi perlu digaris bawahi, dan garis tengahi, tulisan ini hanya untuk mereka yang sudah bangun. Bangun dari mimpi untuk menguasai tiga pertiga wilayah bumi.

Oh benar-benar zaman yang gila, untuk manusia purba sepertiku. Sungguh silau dan canggih. Secanggih robot yang semakin mirip manusia, dan manusia yang semakin mirip robot.

Lebih tepatnya robot anjing. Memiliki tugas seperti menerima perintah, mengangguk, menggonggong, sampai menjilat. Tapi setidaknya anjing lebih mulia ketimbang manusia, mereka itu setia dan manusia tidak.

Tapi sepertinya hanya manusia kontemporer, makhluk yang memiliki surga virtual. Surganya adalah layar ponsel selebar enam inchi, atau monitor selebar empat belas inchi. Lengkap dengan kanal-kanal sosialisasi dunia maya, yang diberi kuota tambahan paket oleh operator yang mereka Tuhan-kan. Bermasa depankan tumpukan janji dalam surat-surat asuransi, sementara senyumannya adalah lobi-lobi jabatan dan kenaikan gaji.

Lalu apakah makhluk lain, seperti flora dan fauna memiliki surga? Mungkin tidak. Lagipula, satu-satunya surga mereka yang nyata, yaitu hutan bahkan menuju deforestasi. Lagipula jargon paru-paru dunia, jantung bumi, dan berbagai istilah lain tidak mampu membendung tsunami nafsu manusia (kontemporer), apalagi menyelamatkan biodiversitas alam raya.

Mungkin sekarang adalah saatnya kita semua membuat konklusi, "Hell is contemporary people, maybe all the people but not other."

Akhir kata, semoga tulisan ini dapat menjadi kapak untuk memecahkan lautan beku dalam hati kita.

Semoga semua makhluk berbahagia.