Selayang Pandang

Diskursus pendidikan selalu berada dalam proses panjang yang tak kunjung usai. Fakta ini tak dapat dinafikan, mengingat pendidikan adalah kata kunci sekaligus mata rantai dalam membangun peradaban manusia dari waktu ke waktu.

Dengan kata lain, peradaban manusia yang berproses dalam sejarah tidak dapat tidak bertumpu dan dibangun dalam dan melalui pendidikan. 

Dalam konteks Indonesia, urgensi pendidikan ini telah termakhtub dalam Undang-Undang Dasar 1945 yakni negara mengupayakan dan menjamin adanya proses mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Hal ini secara khusus tereksplisit dalam pasal 31 UUD 1945 bahwasanya, "Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran; serta pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang."

Potret Pendidikan Indonesia Hari Ini

Sehubungan dengan amanat luhur UUD 1945, reformasi sistem pendidikan Indonesia semakin dimaksimalkan dari hari ke hari. 

Salah satu bentuk reformasi yang kita hadapi hari ini ialah program Merdeka Belajar yang diusung oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Indonesia, Nadiem Makarim. 

Program Merdeka Belajar ini dimaksudkan sebagai bentuk reposisi sekaligus rekonstruksi pendidikan Indonesia pada suatu sistem pendidikan yang membebaskan. Pendidikan yang luwes dan berorientasi pada upaya-upaya kreatif dan inovatif.

Di sini terlihat konstelasi  sistem pendidikan kita yang sadar pada  kebebasan belajar sebagai langkah pertama sekaligus tujuan akhir dalam upaya menunaikan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Di tengah upaya-upaya itu, kita diperhadapkan pada suatu situasi yang cukup pelik. Kita berada dalam ragam pergeseran paradigma di segala aspek kehidupan akibat pandemi covid-19. 

Aspek pendidikan termasuk di dalamnya. Sebagai salah satu elemen penting dalam hidup berbangsa dan bernegara, pergeseran pada sektor pendidikan berdampak signifikan bagi indikator-indikator pendidikan itu sendiri. Secara khusus yang patut menjadi fokus perhatian adalah persoalan pengajaran dan pembelajaran. 

Pandemi Covid-19 menuntut sistem pendidikan kita masuk secara cepat dalam alur digitalisasi. Ini cukup mengganggu sembari menggugat kesiapan sistem pendidikan kita yang cenderung masih berkutat dalam sistem konvensional. 

Kultur pendidikan kita dipaksa beradaptasi dengan model baru pendidikan yang berorientasi pada kondisi mengajar dan belajar tanpa sekat ruang kelas yang acap kali terbatas baik dari kesiapan sarana-prasarana maupun tenaga kependidikan. Pandemi sungguh menantang pendidikan kita. 

Dari Merdeka Mengajar Sampai Merdeka Belajar

Di tengah berbagai upaya dan tantangan pendidikan yang kita alami hari ini, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa harus tetap menjadi tujuan yang harus terus menggema. Tidak ada tawar-menawar. 

Upaya dan proses pencerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan dan sistem-sistem di dalamnya tidak boleh terjebak pada pilihan minimalis. 

Situasi pandemi ini harus menjadi momentum penting yang menantang kita untuk terus bereksplorasi sembari mengelaborasi pikiran, energi dan terobosan-terobosan baru yang semakin memperkokoh pendidikan kita. 

Dua hal urgen yang hari ini perlu disiapkan untuk mencapai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa ialah Merdeka Mengajar dan Merdeka Belajar. 

Program merdeka belajar telah kita mulai. Namun indikator pendidikan tidak terbatas pada aspek belajar. Ada pula aspek pengajaran yang penting sebagai penyeimbang (balancing) pendidikan. Kita perlu dan bahkan harus mengupayakan model merdeka mengajar. 

Merdeka mengajar dimaksudkan sebagai bentuk pemberdayaan pengajar dalam hal ini para tenaga pengajar dan kependidikan untuk bebas, fleksibel, kreatif, dan inovatif dalam memberikan pengajaran. 

Hal ini perlu diperhatikan khusus mengingat para tenaga pengajar kita masih terbelit di bawah hegemoni pola pendidikan administratif yang cenderung mengikat, menyita waktu dan terkesan represif.

Pola pendidikan administratif yang terlampau mengikat ini justru membangun tembok pembatas tak kasat mata yang selanjutnya menjadi kesulitan dan tangangan tersendiri bagi para pangajar dalam mengembangkan pola dan metode kreatif inovatif sebagai jembatan untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai karakter. 

Merdeka mengajar merupakan salah satu dari dua kunci untuk mencapai cita-cita pendidikan dalam kerangka mencerdaskan kehidupan bangsa.  

Merdeka belajar juga merupakan komitmen kreatif dan inovatif yang sadar bahwa pendidikan adalah mata rantai keberlanjutan dan kemajuan peradaban dan bahwa  lingkungan hidup keseharian menjadi laboratorium yang menyimpan khazanah pengetahuan dan kehidupan yang menjanjikan.  

Hal ini mau menunjukkan sebuah komitmen yang dibangun secara sadar untuk memahami bahwa pengajaran adalah soal mencari pola dan strategi yang tepat untuk membangun pendidikan dan selanjutnya menggapai bangsa yang cerdas dan unggul melalui tranfer ilmu pengetahuan dan karakter yang berdaya guna secara efisien dan efektif. 

Merdeka mengajar pada akhirnya menjadi prasayarat utama yang membuka jalan bagi terwujudnya merdeka belajar sebagai kunci memaksimalkan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Dengan merdeka mengajar denyut filosofi Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita kian digaungkan. "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani." (Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).