Dikutip dari situs Kementerian PPN/Bappenas, pada akhir Februari 2020 Kementerian PPN/Bappenas bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) yang didukung Pemerintah Denmark, meluncurkan gagasan baru tentang pengembangan Ekonomi Sirkular (circular economy) di Indonesia. 

Melalui inisiatif ini, Indonesia ditawarkan untuk mengadopsi program ekonomi sirkular yang telah diterapkan pemerintah Denmark. Nantinya, Indonesia akan menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mengadopsi ekonomi sirkular untuk meningkatkan daya saing dan investasi sektor swasta.

Pertanyaan mendasarnya adalah apa itu ekonomi sirkular? Apa bedanya dengan sistem ekonomi yang sekarang? Apa hanya sektor swasta yang menggunakan sistem ini?

Ekonomi sirkular didasarkan pada beberapa prinsip. Pertama, bahwa limbah atau hasil buangan produksi dan konsumsi adalah ‘makanan’. 

Alam mengajarkan bahwa tidak ada limbah dalam proses bekerjanya alam. Misalnya, kotoran binatang dan dedaunan yang gugur adalah ‘makanan’ bagi tanah agar subur. Dengan demikian, kita dapat mengikuti proses tersebut dengan mendesain produk agar dapat digunakan kembali atau dibongkar pada masa akhir penggunaannya. 

Produk dan material lama yang usang tidak terpakai lagi menjadi ‘makanan’ bagi produk baru. Sehingga produk dan materialnya tetap memiliki nilai dan dapat digunakan kembali. 

Kedua, membangun ketahanan dalam keragaman. Alam mengajarkan bahwa tiap spesies saling mendukung untuk sehatnya sistem. Sehingga keanekaragaman dapat menjadi kekuatan di tengah berbagai persoalan alam. 

Artinya, dengan memiliki keanekaragaman kekuatan dan sumber daya akan jauh lebih mudah menghadapi disrupsi dan ketidakpastian. Hal ini terkait dengan perlunya kolaborasi dari pihak-pihak dalam rantai pasok. 

Ketiga, menggunakan sumber daya terbarukan. Untuk dapat menjalankan ekonomi sirkular jelas perlu dukungan maksimal dari sumber daya yang tidak ‘linear’, tapi sumber daya yang juga ‘sirkular’ atau terbarukan. 

Keempat, dalam ekonomi sirkular bukan hanya satu pihak saja yang berubah, tapi diperlukan perubahan mindset dari semua pemangku kepentingan. Sehingga untuk menjalankannya perlu berpikir dalam suatu sistem yang saling memengaruhi satu dengan lainnya.

Dalam model ekonomi linear, prosesnya adalah take-make-waste. Artinya, dalam proses produksi, kita mengambil (take) bahan dari alam, lalu membuat produknya (make), kemudian produk tersebut berpindah ke tangan konsumen. 

Setelah konsumen berhenti atau selesai menggunakan produk tersebut karena apa pun alasannya, produk dibuang menjadi limbah (waste), kembali ke alam. Proses ini yang coba dihilangkan di dalam sistem ekonomi sirkular.

Ekonomi sirkular bertujuan untuk meredefinisi pertumbuhan, dengan fokus pada manfaat positif bagi seluruh masyarakat. Ini memerlukan proses bertahap untuk memisahkan kegiatan ekonomi dari konsumsi sumber daya yang terbatas, dan merancang limbah tetap berada di dalam sistem (in the loop), tidak dibuang kembali ke alam.

Secara umum, kegiatan di dalam suatu industri dengan sistem ekonomi sirkular ada beberapa; seperti penggunaan kembali (reuse), dapat diperbaiki (refurbish), dapat diproduksi ulang (remanufacture) dan dapat didaur ulang (recycle). Ada yang menganggap ekonomi sirkular sama dengan proses daur ulang.

Tidak salah namun tidak sepenuhnya tepat. Karena daur ulang hanyalah satu bagian aktivitas dalam sistem. Sedapat mungkin proses daur ulang tidak dilakukan. Karena proses daur ulang membutuhkan sumber daya yang besar. 

Memang ada produk yang mau tidak mau harus mendaur ulang seperti produk elektronik dengan mendaur ulang komponen-komponen produk tersebut jika memang produk tersebut sudah tidak dapat digunakan sama sekali.

Jika melihat pada paragraf pertama bahwa ekonomi sirkular digunakan untuk meningkatkan daya saing dan investasi terutama di sektor swasta. Apa hanya sektor swasta? Tentunya tidak. Jika melihat penjelasan tentang ekonomi sirkular, baik swasta maupun perusahaan milik negara pun dapat menjalankannya. Bahkan akan lebih baik jika BUMN yang mulai mengubah sistem linear, perlahan-lahan menuju sirkular.

Mengubah suatu sistem yang sudah begitu lama digunakan tentu tidaklah mudah dan cepat. Membutuhkan waktu untuk menuju ke sistem baru. Begitu juga dengan perubahan paradigma menuju sistem ekonomi sirkular dari ekonomi linear. Ada beberapa alasan mengapa ekonomi linear tidak berjalan dengan baik. Sumber daya seperti bahan bakar fosil, makanan, dan air semakin sulit diperoleh. 

Dalam ekonomi linear pola produksinya adalah terus mengambil bahan dari alam untuk menghasilkan produk, sehingga jika bahan-bahan dari alam sudah sulit didapat, apakah mungkin dapat berproduksi? Sementara bahan-bahan yang menipis tersebut juga dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia untuk hidup.

Alasan lain, keanekaragaman hayati menurun di seluruh dunia. Namun layanan ekologis yang disediakan oleh alam dieksploitasi sesukanya. Dipercaya bahwa pandemi yang sedang kita alami adalah akibat dari gagalnya proses produksi linear menjaga hubungan antara manusia dengan alam.

Sistem linear yang sudah dimulai kurang lebih sejak lahirnya revolusi industri hingga sekarang memang mengubah peradaban manusia. Ia membawa banyak kemajuan bagi manusia dalam berbagai bidang industri hingga mengantarkan kita tiba di peradaban sekarang. 

Namun jelas bahwa cara linear tidak berkelanjutan untuk keberlangsungan hidup makhluk hidup, termasuk manusia. Satu sisi ia membawa kemanfaatan tapi di sisi lain semakin mewujud kelemahannya.