Rakjat Jelata
4 bulan lalu · 89 view · 4 menit baca · Lingkungan 90724_18020.jpg
Kusila (kiri) bersama suaminya saat berkeja mengepak kompos di unit pengolahan kompos di Desa Purwodadi, Kecamatan Tebing Tinggi, Tanjab Barat, Jambi, Senin (11/2/2019).

Dari Kompos untuk Kertas

Sinar matahari yang hanya menembus sela daun kelapa sawit membuat lokasi pengolahan pupuk kompos di Desa Purwodadi, Tanjungjabung Barat, Jambi, begitu teduh. Puluhan pekerja tampak sibuk mengepak tumpukan kompos ke karung dan beberapa pekerja lainnya ada yang mengangkut karung berisi kompos ke dalam bak truk.  

Dari puluhan pekerja itu, salah satunya ada Kusila dan suaminya yang juga sibuk mengepak kompos. Suaminya memegang cangkul dan menggaruk tumpukan kompos untuk dimasukkan ke ember, kemudian ke karung.

Pupur dingin di wajah Kusila pun mulai luntur, seakan menandakan lelah bekerja seharian. Tapi ia masih semangat memegang lembaran-lembaran karung guna mempermudah suaminya memasukkan kompos. Kusila juga kebagian tugas mengangkat dan menata karung-karung berisi kompos itu.

Dalam sehari, Kusila dan suaminya bisa mengumpulkan penghasilan Rp 100 ribu. Setiap kali proses pengepakan pupuk kompos di unit pengolahan seluas dua hektar itu, keduanya selalu dilibatkan.

"Bantu suami, kebetulan ada waktu kosong. Kan lumayan bisa jadi tambahan uang jajan anak dan kebutuhan dapur, apalagi sekarang ekonomi lagi sulit," kata Kusila.

"Upahnya bagi dua, satu karung upahnya Rp 500,  kan lumayan untuk tambahan ekonomi keluarga,"  timpal suami Kusila.

Saat tak ada aktivitas pengepakan kompos, Kusila dan suaminya bekerja ke ladang sebagai buruh harian lepas.  

Selain Kusila, ada 34 pekerja lainnya yang dipekerjakan di pengolahan kompos milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mandiri Sejahtera, Desa Purwodadi.

Tak hanya laki-laki yang bekerja di pengolahan kompos itu. Kaum hawa pun ikut bekerja. Beberapa ibu rumah tangga dipekerjakan untuk proses pengepakan kompos sebelum diangkut ke dalam mobil.

"Wis rampung mbak Kus...? Ayo muleh  (sudah selesai mbak Kus...? Ayo pulang)," ucap seorang perempuan lainnya seraya mengajak Kusila bergegas pulang ke rumah karena terik Matahari sudah mulai condong ke barat.    

Dibeli Perusahaan

Pupuk kompos yang diolah tangan terampil masyarakat di unit pengolahan Tani Makmur menjadi awal perjalanan kesuburan pohon Akasia (Acacia denticulosa) dan Eukaliptus, yang menjadi bahan baku kertas.


Dari lembaran-lembaran kertas yang banyak digunakan kalangan luas itu ada jasa keringat yang mengucur dari wajah penuhh optimisme Kusila dan pekerja lainnya dalam memproduksi kompos untuk tanaman bahan baku kertas.

Ratusan ton pupuk kompos tersebut disuplai ke perusahaan pemegang konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Wirakarya Sakti untuk tanaman Akasia. Sebelum disuplai ke perusahaan tanaman industri terluas di Indonesia itu, pupuk kompos harus melalui uji laboratorium terlebih dahulu.

Ketua Unit Pengolahan Kompos Tani Makmur, Sasmito, mengatakan, dalam proses pemasaran produk kompos, mereka telah bekerjasama dengan perusahaan konsesi HTI tersebut. Sehingga menurut dia, kelompok tani tidak perlu khawatir terhadap pemasaran produk yang telah dihasilkan.

Teken kontrak suplai untuk konsesi HTI dimulai Februari 2018. Dalam kontrak tersebut tercatat dalam tiga bulan pertama mereka menyuplai 200 ton. Kemudian berlanjut 300 ton dan dua bulan terkahir ini sebanyak 450 ton.

Dalam meningkatkan usaha produksi kompos kelompok tani yang beranggotakan 11 anggota kompos dan 13 peternak sapi tersebut, pihak perusahaan pengolahan bubur kertas Lontar Pappyrus pulp and paper products memberikan bantuan alat pengolahan dan pelatihan sumber daya manusia.

"Kami juga diberikan pelatihan supaya pupuk yang dihasilkan ini berkualitas sesuai yang diminta perusahaan atau harus lulus uji lab," kata Sasmito seraya menambahkan bahwa potensi di desanya cukup besar dan masih bisa  dikembangkan.

Bahan baku kompos itu berasal dari 30 persen kotoran sapi, 20 persen sampah kering, 20 persen limbah pelepah sawit dan bahan baku lainnya. Selain bahan baku tersebut juga ada bahan campuran 1 persen urea dan MOL serta larutan EM4 untuk proses fermentasi.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, pembuatan kompos harus melalui uji laboratorium sebelum disuplai ke perusahaan.

"Harga pupuk Rp 1.135 perkilo. Bisa dikalikan sendiri dalam sekali menjual 200 ton. Keuntungan dari penjualan ini kembali ke anggota dan juga untuk biaya operasional termasuk untuk mengupah pekerja," ujar Sasmito.

Kawasan produksi kompos itu berada di kebun sawit plasma di Desa Purwodadi, kawasan transmigrasi era tahun 1980-an. Konsep pengembangan kompos terintegrasi itu salah satu model untuk pemenuhan kebutuhan pokok pupuk organik. Pengembangan ini sekaligus pemberdayaan ekonomi, khususnya menjadi mata pencaharian saat sawit mereka dilakukan replanting.

Kontrak Untung


Sementara dalam kontrak kerja sama, pihak perusahaan yang areal konsesinya berada di sekitar masyarakat Desa Purwodadi juga berkepentingan meningkatkan perekonomian masyarakat, sehingga berdampak pada keberlanjutan konsesi tanaman industri itu.

Sasaran program yang menjadi konsen tersebut, memang untuk masyarakat di sekitar konsesi perusahaan yang memiliki akses pemanfaatan sumber daya hutan atau memiliki dampak langsung dengan kegiatan operasional perusahaan.

Program ini dinilai menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah ekonomi sosial dan lingkungan antara perusahaan dan masyarakat. Sebab saat ini masih banyak masyarakat yang tinggal di sekitar konsesi perusahaan yang ekonominya masih di bawah rata-rata.

“Program yang digulirkan ini cukup memberikan untung kepada masyarakat, dan bisa menjadi sumber ekonomi tambahan. Apalagi saat ini produksi sawit masih paceklik,” kata Sasmito yang juga menjabat sebagai Ketua BUMDes.

Kondisi ekonomi masyarakat di sekitar perusahaan, jika terus dibiarkan tanpa ada intervensi, akan berdampak pada wilayah kelola masyarakat, termasuk potensi meletusnya konflik.


Selain berdampak pada konflik agraria, jika dibiarkan akan berdampak pada stabilitas perusahaan dalam memenuhi bahan baku kertas.

Kertas yang berasal dari konsesi tanaman industri merupakan benda tipis yang bahan bakunya harus terus ada. Sebab ke depan, kertas juga bisa menggantikan plastik. Kertas dinilai lebih ramah lingkungan karena mudah terurai.

Masalahnya, jika bahan baku ingin terus berlanjut, diperlukan intervensi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar konsesi, supaya mereka juga ikut menjaga tanaman. Dengan begitu, keberlanjutan produksi kertas akan terjamin.

Artikel Terkait