Ibu kota negara Republik ini akan pindah ke Kalimantan. Lho! Bukan ke Kalimas di Surabaya. Bukan ke Kalisat di Jember. Bukan ke Kalibagor di Banyumas. Bukan ke Kaligangsa di Tegal. Bukan ke Kaliwungu dekat Kendal yang tak asing bagi suku Jawa yang sudah sepuh karena kota Kaliwungu pernah ngetop setelah dinyanyikan oleh penembang Waljinah yang kondang itu.

Ibu kota negara akan pindah ke Kalimantan? Iya, Bro. Tidak ke Kalijambe dan Kaliyoso dekat Solo. Bukan ke Kaligawe di Semarang. Tidak ke Kaligarang juga di Semarang,  tempat Pak Harto sang jenderal besar dan bapak pembangunan pernah bertapa kungkum. Juga bukan ke Kaliurang dii Sleman, Yogyakarta, tempat Mbah Marijan wafat karena abu vulkanik Gunung Merapi yang marah.

Presidon Jokowi mengumumkan kepindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur setalah melakukan kajian yang mencukupi dari berbagai aspek. 

Namun, dengan biaya ratusan triliun rupiah, pemindahan ibu kota negara ini akankah dapat terwujud di periode kedua masa jabatan Presiden Jokowi yang akan berakhir pada tahun 2024?

Desa yang Besar

Berdasarkan kajian, Jakarta rawan tenggelam. Waduh! Polusi udaranya sudah sangat mengkhawatirkan. Penduduknya mbludak sejak pagi hari hingga malam hari karena urbanisasi yang tak terbendung dan serbuan para penglaju dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kemacetan yang mengular menjadi pemandangan yang tak aneh.

Jakarta pernah mendapat sebutan sebagai desa yang besar (big village). Karena penduduknya yang kaum urban dengan perilakunya yang ndesani. Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Jakarta memang memiliki area, lokasi, daerah, atau wilayah yang menggambarkan bahwa Jakarta ketika itu merupakan sekumpulan sawah, kebon, kali, rawa, dan hutan.

Tengoklah nama tempat yang berkaitan dengan sawah. Ada Sawah Besar dan Sawah Lio. Jakarta juga memiliki kebun yang lengkap. Seperti layaknya apotek hidup. Sebutlah Kebon Sirih, Kebon Pala, Kebon Melati, dan Kebon Jahe,

Pencinta sayutan dan buah-buahan layaknya dapat berkunjung ke Kebon Sayur, Kebon Singkong, Kebon Kelapa, Kebon Manggis, Kebon Jeruk, dan Kebon Nanas. Namun, Anda akan terkekeh karena Jakarta juga memiliki kebun yang tak pernah ditanami apa pun. Namanya Kebon Kosong, sebuah kelurahan yang terdapat di Kecamatan Kemayoran di Jakarta Pusat. 

Jakarta juga memiliki kali yang sangat terkenal pada saatnya sebagai kawasan esek-esek, namanya Kalijodo. Konon pada zaman penjajahan Belanda, tempat ini dikenal sebagai tempat mencari jodoh. Wah, asyik dong!

Selain Kalijodo di Kecamatan Tambora Jakarta Barat, nama kelurahan di kecamatan dan kota administrasi yang sama yang juga menggunakan kata kali adalah Kalianyar. Kelurahan ini merupakan kelurahan yang terpadat penduduknya se-Indonesia.

Beberapa nama tempat lainnya yang juga menggunakan kata kali, terkesan angker dan seram. Jika Anda tak mau bernasib malang, janganlah bertandang  ke Kalimalang. Jika Anda tak mau digulung derasnya air kali, janganlah berkunjung ke Kalideres. Nah, jika Anda tak mau dijemput maut, janganlah pergi ke Kalimati.

Dulu Jakarta juga merupakan daerah rawa. Nama tempat, seperti Rawamangun, pasti tak asing bagi Anda. Sebelum pindah ke Depok, Jawa Barat, kampus mahasiswa berjaket kuning, Universitas Indonesia, sejak zaman Orde Lama bermarkas di sini. Dalam kritik sastra, sangat dikenal kritik sastra Aliran Rawamangun.

Selain Rawamangun, masih ada Rawasari dan Rawabunga. Juga ada Rawa Kerbau, Rawajati, dan Rawa Teratai. Daerah Rawa Belong di Jakarta Barat terkenal sebagai daerah pemasok bunga uantuk ucapan selamat. Daerah yang namanya membuat kita happy adalah Empang Bahagia, dekat Terminal Grogol di Jakarta Barat.

Meski di Jakarta kini telah berdiri bangunan dan gedung pencakar langit yang megah nan mewah, dulu Jakarta juga merupakan hutan. Karena di Jakarta terdapat Kelurahan Utan Kayu dan Utan Panjang. Jadi Anda tak usah heran jika ibu kota negara akan pindah ke hutan juga. Hutan belantara di Kalimantan.

Hutan Belantara

Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur terpilih menjadi ibu kota negara, konon, karena letaknya strategis. Berada di tengah-tengah Nusantara ini. Selain karena lokasinya yang aman dari bencana alam, seperti banjir, tsunami, dan gempa, pemilihan Kutai Kartanegara sebagai ibu kota negara juga sebagai upaya pemerataan pembangunan.

Pemindahan ibu kota negara ke Kutai Kartanegara juga merupakan realisasi dari wacana pemindahan ibu kota negara ke Palangkaraya di Kalimantan Tengah yang pernah didengungkan oleh Bung Karno ketika masih menjabat sebagai presiden Republik ini. 

Presiden Jokowi menggarisbawahi dan mewujudkan rencana besar presiden pertama dan sang penyambung lidah rakyat ini. Selain itu, agaknya Presiden Jokowi juga akan memberikan warisan yang akan menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi presiden terpilih pada Pemilu 2024.

Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur berjarak kurang lebih 1.400 kilometer dari Jakarta. Akankah dibangun jembatan yang melintasi Laut Jawa untuk menghubungkannya? Wow! Akan menjadi jembatan terpanjang di dunia. Wallahualam.

Sebagai pusat pemerintahan yang baru, Kutai Kartanegara sudah saya ketahui ketika saya masih belajar di  kelas lima Sekolah Dasar (SD). Sebagai kerajaan Hindu tertua yang didirikan pada abad kelima, Kerajaan Kutai Kartanegara pernah diperintah oleh Raja Kudungga, Mulawarman, dan Purnawarman. Demikian ingatan yang masih terekam di memori saya.

Tidak sulit kita menemukan hutan belantara di sana. Kalimantan yang juga dikenal sebagai Borneo memiliki hutan yang dikenal sebagai paru-paru dunia. Primata orang utan menjadi primadona fauna yang dikagumi dunia.

Pekerjaan Presiden Jokowi terberat dan terbesar adalah menyulap hutan belantara itu menjadi infrastruktur yang akan digunakan sebagai kantor-kantor pemerintah. Kantor presiden, kantor wakil presiden, dan kantor kementerian layaknya disiapkan. Kantor lembaga legislatif, dan kantor lembaga yudikatif, juga dibangun. Ini sebuah megaproyek yang rawan korupsi.

Kembali ke Jakarta

Meskipun pusat pemerintahan berada di Kutai Kartanegara, pusat perekonomian, perdagangan, dan keuangan tetap di Jakarta. Pepatah kita mengatakan bahwa ada gula ada semut. Ini berarti Jakarta sebagai pusat sirkulasi duit akan tetap menjadi magnet bagi mereka yang mengadu nasib ke Jakarta. Meski ibu kota Jakarta lebih kejam daripada ibu tiri, seperti dikatakan pelawak Ateng almarhum.

Orang-orang tetap akan berbondong-bondong menyesaki Stasiun Senen, Stasiun Jatinegara, Stasiun Gambir, Terminal Pulogadung, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Kalideres, Pelabuhan Tanjung Priuk, juga Bandara Soekarno-Hatta. Mereka rindu Monas dan kangen Ancol. Mereka ingin disapa Tugu Selamat Datang.

Mereka yang berasal dari kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas, sudah kadung dimanjakan dan dininabobokan dengan berbagai kemudahan dan kemewahan. Sebagai pusat perdagangan yang mampu menyedot uang sejak pagi hingga dini hari, Jakarta menyediakan berbagai kawasan bercorak wisata. Ada wisata kaki lima, wisata kuliner, wisata belanja, wisata sejarah, wisata pantai, wisata religi, wisata budaya, dan wisata ilmu (pengetahuan).

Selain itu, Jakarta juga menyajikan aneka hiburan yang menawan. Musik, film, teater tradisional dan modern, taman hiburan, dan pusat-pusat perbelanjaan tersedia di Jakarta. Ini menjadi daya tarik bagi warga metropolitan.

Lirik lagu milik grup band  legendaris Koes Plus agaknya sudah telanjur bertakhta di hati para penakluk Jakarta. Dua larik lirik lagu “Kembali ke Jakarta” milik Koes Plus, “Ke Jakarta aku kan kembali. Walaupun apa kan terjadi,” agaknya sulit dilupakan 

Meski teralienasi, bahkan terkucil sekalipun, dari sang kekasih dan masyarakat, orang-orang akan tetap nempil kamukten kepada kota yang pernah dibangun oleh Pangeran Jayakarta ini. Tak ada say good bye kepada Jakarta.

Jadi, meskipun ibu kota negara telah berpindah ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur, Jakarta masih menjadi pilihan menarik bagi para pencari kerja, pemburu kenikmatan, dan pelancong kehidupan. Memindahkan ibu kota negara di Republik ini dengan luas wilayahnya dari Sabang hingga Merauke memang tidak sederhana. 

Jika benar-benar terwujud, ibu kota negara pindah ke Kalimantan, kalau kita ke sana kali-kali ketemu mantan.