Lagu Nostalgia di Sela-sela Kerja

Di sela-sela waktu break kerja di dapur yang sibuk dan panas, pada sebuah panti jompo kota Winchester, lagu You're The Voice dari John Farnham mengalun, mengantarkan saya ke masa-masa sekolah dasar, waktu malas masuk siang. Lagu itu memang kerap diputar jelang jam 11 siang oleh Radio Mara, stasiun radio terkemuka di Bandung pada tahun 80-an.

You're the Voice ini, dikutip dari laman wiki, dirilis sebagai lagu promo pada September 1986, sebelum album John Farnham, Whispering Jack, dirilis pada bulan itu juga. Lagu ini merupakan satu hits terbesar pada tahun 80-an di Australia. Sempat menduduki puncak tangga lagu selama tujuh minggu, dari mulai 3 November hingga 21 Desember 1986.

Jangankan makna, mengerti lirik lagu itu saja saya sebetulnya tidak bisa. Tapi, mendengar derap musiknya saya paham, ini lagu untuk menyemangati. Diputar, mungkin dengan maksud, khusus menyemangati para pendengar radio, yang kerap disapa dengan panggilan bung, tuan, dan nyonya oleh sang penyiar, agar tetap semangat menuju tengah hari.

Setelah saya masuk SMP, zaman saya sedang senang-senangnya menerjemahkan lirik lagu berbahasa Inggris untuk kebutuhan nyanyi di band cilik yang saya perkuat, lagu John Farnham ini jadi salah satu yang saya terjemahkan liriknya. Masa-masa itu saya belum paham betul maknanya, tapi yang jelas saya sudah mengerti, ini adalah sebuah lagu tentang kemanusiaan.

Dengan setangkup nostalgia masa kecil menuju remaja, maka sepulang kerja saya langsung mengakses youtube. Sampai lupa ganti baju yang masih beraroma omelette, lantaran kebanyakan merebus dan menggoreng telur untuk penghuni panti jompo.

John Farnham ternyata masih bisa bernyanyi dengan power dan tone yang prima, saat saya menyimak video konsernya bersama supergrup masa kini, Coldplay, di channel Viva Coldplay. Sama primanya dengan ketika saya pertama kali mendengarnya menyanyikan lagu You're The Voice ini lewat Radio Mara.

John Farnham : The Voice of National Anthem

John Farnham adalah penyanyi yang sangat dihormati di Aussie. Dia dikenal sebagai penyanyi yang identik dengan lagu kebangsaan Australia. The Singer of Australia National Anthem, begitu jawaban masyarakat umum di Australia bila kita bertanya: siapa sih John Farnham itu?

John mendunia karena penampilan duetnya yang memukau bersama Olivia Newton John, pada perhelatan Olimpiade Sydney tahun 2000, saat mereka membawakan olympic theme ketika itu yang berjudul Dare To Dream.

Seorang penyanyi sudah biasa dikenang lewat hits-hitsnya. Tapi seorang penyanyi yang masih terus diperbincangkan karena performanya saat menyanyikan lagu kebangsaan dan menyanyikan lagu mars olimpiade tentu punya tempat tersendiri di hati para penggemar dan sejarah musik. Seperti itulah kira-kira barat memandang sosok John Farnham ini.

Marah pada Aktivis Anti-Islam

Pada tahun 2015, sebuah organisasi anti-Islam di Aussie, Reclaim Australia, tanpa izin menggunakan hits You're The Voice untuk kampanye organisasi itu di youtube.

John Farnham, yang juga aktivis perdamaian dunia itu, marah besar. Dia merasa, apa yang disuarakannya dalam lagu itu bukanlah semangat memecah belah, bukan semangat menyuarakan rasisme, dan bukan semangat untuk memandang apa saja yang berbeda harus dilibas.

"Saya sudah menarik penggunaan lagu You're The Voice itu dari youtube, untuk digunakan oleh orang-orang itu (para aktivis Reclaim Australia maksudnya). Penggunaan lagu ini hanya menunjukkan betapa miskinnya jiwa dari orang-orang yang kehilangan nilai-nilai kehidupan," ucap John Farnham filosofis, melalui surat yang dibacakan manajernya Glenn Wheatley, kepada harian Sydney Herald Tribune.

"Orang Australia harus berdiri diatas cinta pada toleransi dalam abad modern ini!" tambahnya lagi.

Tidak hanya suara indahnya itu yang terngiang lagi di telinga saya, ketika membaca kabar lawas dari Sydney Herald Tribune itu. Semangat John Farnham yang tertuang dalam lirik:

...you're the voice, try and understand it
make the noise and make it clear,
we're not gonna sit in silence
we're not gonna live with fear...

...engkau adalah suara itu, mengertilah dan pahamilah
sampaikan dan jelaskan suaramu,
kita tak boleh duduk terdiam,
kita tak boleh hidup dalam ketakutan

 ...jadi ikut terngiang juga di hati dan benak ini. Mengantarkan saya berefleksi, walau baju kerja belum diganti, tak menghiraukan badan yang hilang timbul beraroma telur ayam broiler.

Semangat John Farnham dalam lagu dan tindakannya itu jadi seperti manifestasi, dari nasehat sahabat Nabi SAW yang saya kagumi, Sayyidina Ali bin Abu Thalib.

"People are of two kinds, either your brothers in faith or your equals in humanity," demikian kata mutiara beliau yang masyhur di dunia barat. Yang bukan saudaramu dalam iman, bisa jadi saudaramu dalam kemanusiaan, begitu kira-kira maknanya.

Nasehat sahabat Nabi SAW ini sangat populer sekali di kalangan masyarakat barat. Di sekolah anak saya di Inggris juga terpampang quotes ini.

Untuk apa tulisan itu dibingkai dan terpampang di salahsatu sudut utama sekolah?

Ternyata poster itu merupakan bentuk himbauan dan perlawanan terhadap diskriminasi, rasisme, bullying, persekusi, yang jauh beberapa tahun sebelumnya sempat membuat nama sekolah cemar.

Rasa-rasanya, ironis ya, kalau ada yang mengatakan pengagum Sayyidina Ali, tapi justru tak fasih menerjemahkan semangat yang terkandung dalam quotes tersebut.

Quotes yang diejawantahkan luas nilai-nilainya oleh masyarakat barat, untuk melawan bentuk sikap rasis dan diskriminasi dari penganut faham white supremacy, di kalangan sesamanya sendiri.

Sebelum melantur, saya pun mengakhiri refleksi (lebih tepatnya lamunan), yang terkadang terjadi spontan saja sepulang kerja, sambil melihat televisi, atau sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangan.

Semoga saja bau telur yang tercium dari jarak 100 meter yang melekat di baju saya, menjadi sebab tersenyumnya Sayyidina Ali di alam yang lain. 

Sebab, ada seorang muslim al faqir, fans beratnya, yang dengan gembira memasakkan omelette dan sandwich dari pagi sampai sore, untuk para lansia yang mayoritas tak pernah lepas dari rosario, memeluk kitab bibel di pembaringan, atau terpekur di kursi roda panti jompo, tempat al faqir ini menjemput rezeki.