Dalam esainya, “Traktor dan I Gusti Ngurah Ceger”, Goenawan Mohamad memberi penekanan bahwa modernisasi adalah pembebasan. Modernisasi adalah emansipasi dalam arti sepenuhnya. Di dalamnya terdapat semangat merdeka: merdeka untuk memilih, merdeka ikut dalam politik, merdeka dari acuan tradisi dan takhayul dan merdeka dari kekurangan materi.

Namun pada kenyataannya, sejak akhir 1980an, ketika gagasan modernisasi telah digantikan oleh wacana posmodern, gagasan pembebasan atau pemerdekaan sebagai definisi modernisasi tak bisa dianggap telah menukik dalam jantung masyarakat Indonesia. Modernisasi dalam pengertian awam adalah mesinisasi dalam setiap aspek kehidupan. Kehidupan modern adalah kehidupan dengan mesin dan komputasi, bukan pemerdekaan dalam nalar-pikir.

Maka kita tak perlu berdecak-heran ketika mendapati sajak Rendra yang berjudul “Sajak Anak Muda” yang ia bikin pada 1977. Rendra, dalam sajak tersebut mencukil daki-daki kehidupan kita dan menunjukkannya di depan mata kita. Rendra menunjukkan itu agar kita dapat melihat bahwa daki-daki itu adalah kebusukan generasi muda, kebobrokan estafet generasi tua yang dilanjutkan oleh generasi muda.

Di dalam kegagapan,/kita hanya bisa membeli dan memakai,/tanpa bisa mencipta./Kita tidak bisa memimpin,/tetapi hanya bisa berkuasa./seperti bapak-bapak kita. Demikianlan salah satu bait Rendra. Tak perlu tafsir hermeunatik segala untuk memahami sajaknya. Kalimat-kalimatnya jelas sejelas jerawat wajah tapi kita selalu memanipulasi dengan pembersih wajah.

Generasi muda sebagai generasi penerus petani misalnya. Pemuda kelahiran 1980an hampir memiliki rasa jijik dan najis terhadap profesi satu ini. Banyak yang turut dalam ombak urbanisasi, menggruduk kota-kota, yang dalam pandangan Goenawan Mohammad adalah sebuah perkembangan tak tertolak.

Jika saat ini di persawahan desa-desa, kita melihat para tua renta masih menanam padi, itulah buktinya. Anak-anak muda minggat ke kota, dan ironisnya menitipkan buah hatinya kepada simbahnya di desa, memberi kasih sayang buah hati dari nomor rekening bank.

Generasi ini adalah generasi yang dalam sajak Rendra tersebut memiliki: Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat./ Di sana anak-anak memang disiapkan/ Untuk menjadi alat dari industri./ Dan industri mereka berjalan tanpa henti./ Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?/ Kita hanya menjadi alat birokrasi.

Maka, kita tak perlu heran lagi, jika mimpi menjadi pegawai negeri sipil, yang memberi janji jaminan finansial di masa tua, adalah mimpi semanis madu. Generasi ini adalah generasi yang diciptakan sebagai alat birokrasi juga sekrup pabrik-pabrik para cukong.

Maka jangan heran jika politikus kondang di negeri ini mendidik anak-anaknya untuk terjun dalam politik praktis, menjadi alat birokrasi. Anaknya, saudaranya, sepupunya, yang meskipun jebolan dari perguruan-perguruan tinggi luar negeri, yang menurut anggapan awam adalah perguruan tinggi luar negeri itu haibat, justru ketika pulang hanya menjadi alat birokrasi. Kita tidak bisa memimpin, tetapi hanya bisa berkuasa, kata Rendra.

Tahu siapa politikus itu, yang memiliki dinasti politik keluarga di negeri ini?

Tapi, politikus mana yang masih mau membaca dan mengikuti kebenaran puisi? Ingat! Negeri ini dibangun oleh para pujangga, oleh para empu. Tapi diporak-porandakan oleh para politikus yang tak mengerti kebijaksanaan kalimat-kalimat pujangga.

Namun begitu, ada yang membuat hati kita adem. Ikhtiar menuju bangsa pencipta kita mulai rasakan kini. Wacana mobil nasional, wacana swasembada pangan, wacana pembuat alat-alat elektronik nasional, juga wacana sebagai generasi pencipta dalam bisnis digital, terus digelorakan kepada generasi muda.

Kita mendapati banyak perusahaan rintisan yang dilakukan oleh para pemuda saat ini. Bahkan aplikasi-aplikasi pertanian juga dibikin untuk, misalnya, memotong jalur distribusi hasil panen agar petani untung dan harga produk tidak terlalu mahal ketika sampai di konsumen.

Namun, ombak urbanisasi ini sudah begitu besar. Tak ada karang yang bisa menahannya. Para pemuda-pemudi desa berbondong-bondong menjadi mahasiswa di kota. Mereka menjadi sarjana dan ironisnya jarang yang mau kembali ke desa untuk membangun wilayahnya yang masih terbelakang dalam hal nalar-pikir.

Mereka lebih memilih berada di zona nyaman kota, dengan ijazah di tangan untuk melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan. Atau mencoba merintis perusahaan sendiri yang tetap berpikir lokasi strategis dan penuh dengan orang-orang konsumtif. Tentu saja pilihannya akan jatuh di kota.

Saat terdapat sedikit sarjana yang nekat kembali ke desa, ia seperti sajak Rendra yang berjudul “Sajak Seonggok Jangung”. Kata Rendra: Apakah gunanya pendidikan/ bila hanya mendorong seseorang/ menjadi layang-layang di ibukota/ kikuk pulang ke daerahnya?/ Apakah gunanya seseorang/ belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,/ atau apa saja,/ bila pada akhirnya,/ ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata:/ “Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Ibarat kita berjalan di sebuah persimpangan, semestinya kita sudah mengambil jalan menyimpang sejak dua dekade lalu. Jalan menyimpang yang menuju bangsa modern dengan nalar pikir pencipta. Tapi saat itu, kita bandel untuk tetap lurus mengikuti jalan yang kita yakini.

Kini setelah terasa begitu jauh dan melelahkan, kita menoleh ke belakang, dan kita mendapati bahwa kita salah jalan. Kita mencoba membuat jalan pintas untuk menyusul persimpangan yang kita lewatkan. Dan terasa semua sudah hampir terlambat. Ya, hampir terlambat.