Semua berawal ketika runtuhnya kekhalifahan di Baghdad pada abad ke-13, pusat kebudayaan Islam, hancur. Semenjak itu, umat Islam seperti domba tanpa penggembala. Tidak ada yang melindungi, sehingga mereka pun jatuh ke dalam genggaman bangsa-bangsa yang tak lagi mengenal Tuhan."

Mongol begitu beringas, meluluhlantakkan kota peradaban tersebut, yang pada waktu itu dipimpin oleh Al-Musta’shim Billah. Baghdad berubah menjadi lautan darah manusia.

Khalifah tak kuasa membendung pasukan berkuda Mongol, akibat kekuatan militer yang kurang mumpuni. Kondisi ini diperparah dengan adanya “orang dalam’’ yang turut mengatur masuknya tentara Mongol ke Baghdad.

Namun sebelum itu, Islam pernah berkuasa hingga 2/3 dunia, selama hampir 13 abad. Kota Baghdad menjadi perhatian dunia, bagi orang-orang yang ingin belajar, berdagang, dan kepentingan lainnya.

Baghdad kemudian menjadi kota kosmopolitan yang berpenduduk bukan hanya Arab, tapi juga berbagai suku bangsa seperti Persia, Turki, India, Cina, dan negeri-negeri di Asia Tengah. 

Masa Kejayaan Islam

Dr. Sayyid Al-Wakil, menukil perkataan penulis Amerika yang menggambarkan keadaan Eropa pada masa itu. “Jika matahari telah terbenam, seluruh kota besar Eropa terlihat gelap gulita. Di sisi lain, Cordoba terang benderang disinari lampu-lampu umum.

Eropa sangat kotor, sementara penduduk Cordoba sangat peduli dengan kebersihan. Para Tokoh Eropa tak mampu menulis namanya sendiri, sementara anak-anak di Cordoba sudah mulai bersekolah. Lanjut Sayyid Al-Wakil.

Charles Kimball mengatakan, ketika Eropa merana di Masa Kegelapan, peradaban Islam tumbuh subur dari spanyol hingga India. Selama beberapa abad, kaum Muslim memimpin dunia dalam berbagai bidang seperti matematika, kimia, kedokteran, arsitektur, holtikultura, dan astronomi.

Kaum Muslim bangga dengan sejarah dan peradaban mereka. Namun, suatu kesalahan terjadi. Dari abad ke-16 hingga ke-20, sebagian besar wilayah dengan mayoritas penduduk Muslim, jatuh di bawah kekuasaan asing. Charles Kimball, (Kala Agama Jadi Bencana, 2008).  

Masa Keruntuhan: Invasi Bangsa Mongol

Juwaini, sejarawan abad ke-13 dalam bukunya (Tarikh-I-jehan Gusan). Mengatakan, ‘’Jengish Khan naik ke atas mimbar masjid dan mengaku sebagai cemeti Tuhan yang diutus untuk menghukum orang-orang yang penuh dosa”.

Dalam kitab Tuhan termaktub, bahwa setiap yang pernah eksis pasti akan menghadapi ajal, (Al-Araf 34). Tak terkecuali bagi kekhalifahan Islam yang tercatat dalam sejarah telah mengalami kematian peradaban. Hingga pada puncaknya, tatkala Mongol meluluh lantakkan Baghdad pada tahun 1258 M.

Jengish Khan mendapatkan momentum untuk memulai invasi ke negeri-negeri Islam tatkala Khawarizm dan Khalifah An-Nashir bertikai. Konflik tersebut membuat Khalifah An-Nashir mengundang dan memprovokasi Jengish Khan untuk menyerang Khawarizm dan kesultanannya.  

Menurut Al-Khudhari, cara-cara yang demikian itu lumrah dilakukan oleh beberapa Khalifah Abbasiyah. Misalnya ketika orang-orang Turki-Baghdad memegang dominasi dan hegemoni atas Khilafah, maka Khalifah mengundang Bani Buwaihi untuk menyingkirkan orang-orang Turki-Bagdad.

Ketika merasa ajalnya sudah dekat, Jengis Khan membagi wilayah imperiumnya, menjadi empat teritorial yang dipimpin oleh keempat anaknya. Yaitu Jochi, Chagatai, Tolui, dan Ogedei.

Kepada Ogedei, diberikan kehormatan menjadi putra mahkota. Dan kelak akan menggantikan ayahnya sebagai Maharaja Imperium Mongol. Jengis Khan menemui ajalnya pada tahun 624 H/1227 M.

Sedangkan Tolui Khan, di tangannyalah Baghdad luluh lantak. Tolui Khan mendapatkan wilayah Khurasan, kawasan Al-Iraqan (Bashrah dan Kufah).

Dengan politik ekspansionisme Tolui Khan, Imperium Mongol berhasil memperluas wilayah hingga ke barat dan melengserkan dominasi Persia. Hal ini terus berlangsung, hingga Tolui Khan wafat pada 654 H/1256 M. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Hulagu Khan.

Dalam tempo yang relatif singkat, pada 5 februari 1258, pasukan Hulagu Khan berhasil menembus benteng kota, membunuh jutaan manusia yang ada di dalamnya dan menghancurkan bangunan-bangunan peradaban Khilafah.

Fernando Baez, dalam (Penghancuran Buku dari Masa ke Masa). Menyebutkan bahwa, pasukan Mongol membawa naskah-naskah di Perpustakaan Baitul Hikmah ke muara Sungai Tigris. Dan melemparkannya ke sungai, agar tintanya bercampur dengan darah.

Hancurnya Baghdad sebagai pusat peradaban Islam pada tahun 1258 M menjadi tanda kehancuran Khilafah Islamiyah. Meskipun kerajaan-kerajaan Islam di beberapa wilayah masih mampu bertahan dari serangan Imperium, hingga dua abad setelahnya.

Wajah Islam Hari Ini

Lalu bagaimana sikap umat Islam hari ini, memilih bangkit melawan atau tidur dan tertindas. Melawan apa, melawan ketidak adilan, melawan ketamakan penguasa-penguasa zalim. Ataukah justru memilih berdiam diri, pasrah menerima nasib, hingga tenggelam dalam buritan peradaban.

Bagaimana kita memahami slogan seperti, kuntum khaira ummah, ummatan wasathan dan rahmatan lil alamin. kesemuanya adalah jargon yang dibangga-banggakan umat hari ini. Namun realitanya, umat islam terpuruk dan hanya sibuk menyalahkan kelompok di luar dirinya.

Kata Buya Syafii Maarif, ummat Islam hari ini lebih banyak jadi pembantu ketimbang jadi penentu. Dalam urusan tertentu, Arab bisa bermain mata dengan Israel dan Iran bisa berkongsi dengan Rusia. Apakah ini wajah Islam?

Hampir tak ada lagi persaudaraan di antara mereka. Apa yang terjadi di Palestina, Irak, dan Suriah, seakan hanya menjadi tontonan. Solidaritas mereka terkikis. Mereka berubah menjadi Arab yang pragmatis dan cenderung mengabaikan kemanusiaan.

Jadi, apa yang harus diperbuat umat islam hari ini, khususnya Indonesia selaku umat muslim terbesar di dunia,. Apakah hendak meniru Arab? Ataukah justru telah tercebur (menceburkan diri) dalam Islam Arabisme dan tak bergairah lagi untuk menggali Islam yang lebih autentik.

Wajah Islam hari ini, hanya sibuk mengurusi hal-hal yang sifatnya klenik dan takhayul. Cenderung menjaga jarak dari kemajuan IPTEK, maupun enggan membicarakan, wacana-wacana pemikiran pembaharuan Islam.

Umat islam sibuk menyalahkan kelompok di luar dirinya, namun di sisi lain abai untuk berbenah diri. mereka lupa bahwa kerapuhan umat islam bisa jadi bukan dari faktor eksternal, melainkan rapuh dari dalam dirinya sendiri.

Jalan Pulang

Allah berulang kali mengingatkan hamba-hambanya yang berpaling dari kebenaran, salah satu ingatan Allah tersebut; “Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan menggantikanmu dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini’’. (Muhammad 38).

Perlu kiranya umat Islam merumuskan kembali wacana teologisnya, meninjau ulang doktrin yang mengungkung akal sehat, serta kembali kepada Alquran dan Sunnah. ’’Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah kepada Alquran  dan Sunnah. (An-Nisa 59).

Rasulullah Muhammad telah bersusah payah berjuang selama 23 tahun, dalam meletakkan pondasi keislaman. Olehnya itu umat Islam harus menghargai jeri payah nabi tersebut.

Dengan kembali taat kepada perintah Allah dan Rasulnya, maka umat islam akan kembali diberkati seperti sedia kala. Menjadi ummatan washatan, menjadi kepala bukan ekor, serta menjadi rahmat bagi semesta alam. Insya Allah!