2 bulan lalu · 34 view · 4 min baca · Politik 32434_14562.jpg
2.bp.blogspot.com

Dari Bulan Sabit hingga Palu Arit

Kebangkitan Nasional Indonesia

Mengingkari peran Islam dalam melahirkan kesadaran nasional sama tidaknya fear-nya ketika mengingkari peran yang juga dimainkan oleh kalangan berhaluan sosialis komunis. Antara Bulan Sabit dengan Palu Arit ibarat dua sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan.

Kadang kala narasi-narasi bangkitnya kesadaran dan pergerakan nasional Indonesia lahir dan dimotori oleh kalangan terdidik. Yang dihasilkan oleh kebijakan politik etis Pemerintah Kolonial Belanda terhadap tanah jajahan.

Ada hal lain yang tidak dapat dipungkiri bahwa ada kalangan yang melahirkan kesadaran nasional tidak melewati jenjang pendidikan yang disediakan oleh Belanda. Malah peran dan kehadiran mereka banyak menginspirasi seperti Bung Karno, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Pergerakan awal kesadaran nasional Indonesia dimotori oleh kalangan pedagang dengan kelas ekonomi menengah. Sosok seperti Haji Samanhudi yang memotori dan memelopori lahirnya Sarikat Dagang Islam.

Yang menarik bahwa pada masa itu, kepeloporan dan kepemimpinan banyak dipegang oleh mereka-mereka yang pernah berziarah ke Mekkah. Lalu, menjadi pemimpin yang menentang kebijakan-kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda.

Akibatnya timbul kesadaran dari kalangan pedagang plus mereka yang telah berhaji menjadi pelopor segaligus penggerak terhadap ketidakadilan yang diterima Kaum Bumi Putra. Berpadunya antara kesadaran akan penindasan Kaum Kolonial dengan dibarengi dengan penguasaan terhadap pasar sebagai penyedia keperluan sehari-hari.


Tidaklah mengherankan apabila mobilitas dan militansi dari kalangan pedagang menentang penjajah lebih diterima oleh semua lapisan masyarakat. Sebab, kalangan pedagang yang telah berhaji tidak terikat oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Berbeda dengan kalangan Priyayi yang menempuh pendidikan Belanda, maka akan mendapatkan jabatan sebagai Pegawai Belanda.

Kehadiran kesadaran di kalangan pedagang yang melahirkan Sarekat Dagang Islam juga tidak terlepas dari persaingan di pasar. Dalam Perundang-undangan Kolonial ada istilah “Timur Jauh”, termasuk di dalamnya Cina dan Arab.

Persaingan dagang dengan kalangan Cina juga turut memicu lahirnya kesadaran di kalangan pedagang. Sebab, Cina dipandang sebagai bagian yang senantiasa dekat dan diuntungkan oleh pihak Kolonial Belanda.

Tetapi, hal itu berbeda dengan Arab. Sebaliknya mereka tidak dipandang sebagai pesaing dalam dunia dagang. Walaupun orang-orang Arab juga banyak yang berdagang, mungkin hal itu lebih disebabkan oleh kesamaan agama.

Sikap kalangan pedagang dan Sarekat Dagang Islam yang menentang kalangan penjajah menjadi embrio awal tumbuhnya kesadaran dan kebangkitan nasional. Tampaknya sejak awal kesadaran nasional Indonesia dipicu oleh ketidakadilan yang dirasakan oleh kalangan pedagang.

Sarekat Dagang Islam begitu cepat berkembang utamanya di kota-kota yang banyak aktivitas perdagangan. Akibatnya semangat kebersamaan dan sikap peduli terhadap semua kalangan yang ditunjukkan oleh Sarekat Dagang Islam menjadi organisasi yang besar dan diperhitungkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Keberadaan Sarekat Dagang Islam makin membesar ketika Haji Oemar Said Cokroaminoto memegang tampuk kepemimpinan. Tampaknya lewat Cokroaminoto tokoh-tokoh seperti Bung Karno, Semaun dan Kartosuwiryo terpercik dan mengalir kesadaran akan semangat nasionalisme.

Bung Karno begitu mengagumi sosok Cokroaminoto dan tak jarang Bung Karno menghadiri rapat-rapat serta melihat langsung Cokroaminoto membakar semangat massa. Begitu mengakarnya Sarekat Dagang Islam yang kemudian beralih menjadi Sarekat Islam dalam semua kalangan menyebabkan mampu berpengaruh dan menggerakkan massa.

Suatu hal yang tak dapat dimungkiri dengan makin membesarnya pengaruh dan anggota Sarekat Islam. Pada akhirnya muncul banyak pertentangan di kalangan tokoh-tokoh Sarekat Dagang Islam seperti Semaun yang memimpin Sarekat Islam dari Semarang.

Persentuhan Semau dengan ide-ide Sosialis Komunis didapat dari Orang Belanda Henk Sneevliet yang mendirikan ISDV. Sebagai akibat dari pengaruh tersebut, muncullah aksi-aksi pemogokan yang didalangi oleh Semaun. Tindakan-tindakan Semaun yang oleh sebagaian kalangan tokoh Sarekat Islam dianggap telah terpengaruh oleh paham Sosialis Komunis.

Lambat laun pertentangan di tubuh Sarekat Islam menimbulkan masalah. Sehingga diberlakukanlah disiplin organisasi yang menyebabkan beberapa tokoh Sarekat Dagang Islam terdepak, termasuk di antaranya Semaun.

Ada hal yang menarik untuk dicermati bahwa Sarekat Islam yang pada mulanya bernama Sarekat Dagang Islam muncul dari kesadaran kalangan pedagang dengan tingkat ekonomi menengah. Sesuatu yang tidak dapat dimungkiri bahwa pada masa itu, di kota-kota besar telah dibangun kereta api.

Kehadiran buruh-buruh kereta api menjadi salah satu pemicu kehadiran lahirnya aksi-aksi protes. Kondisi semacam itu, yang juga memengaruhi tumbuh dan berkembangnya Partai Komunis Indonesia. Sekaligus adanya konflik tajam yang terjadi di Sarekat Islam yang mengeluarkan tokoh-tokoh yang dianggap tidak lagi sehaluan dengan Sarekat Islam.


Kehadiran tokoh-tokoh berhaluan Sosialis Komunis menjadi salah satu pintu yang menyuburkan kesadaran dan pergerakan nasional. Ada banyak aksi-aksi pemogokan buruh yang dimotori oleh Partai Komunis Indonesia sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda.

Bangsa yang besar semestinya menghormati dan menghargai para tokoh pendahulu, apa pun latar pergerakan yang dibawa baik latar Islam maupun latar Sosialis Komunis. Sehingga hanya dengan penghormatan yang fear terhadap perjuangan mereka bangsa Indonesia dapat bergerak maju tanpa beban dan utang sejarah terhadap masa lalu.

Gus Dur semasa menjabat sebagai Presiden Indonesia pernah mengupayakan dibukanya kembali kebebasan untuk mempelajari dan mengkaji ajaran Marx, Lenin dan Komunisme. Sekaligus Gus Dur meminta maaf atas nama negara kepada kalangan yang telah mengalami diskriminasi dan ketidakadilan yang diterima mengatasnamakan negara di masa lalu.

Masyarakat Indonesia perlu belajar menerima fakta sejarah bahwa di balik kemerdekaan yang dinikmati hari ini, ada keterlibatan dan kontribusi kalangan Islam dan kalangan Sosialis Komunis yang tidak dapat dihapus dan dipinggirkan oleh lembaran sejarah bangsa Indonesia.

Islam masih sedikit beruntung dibandingkan Partai Komunis Indonesia. Sebab, Islam masih diberi ruang mengartikulasikan visi politiknya. Tetapi, berbeda dengan Partai Komunis Indonesia telah di kubur dalam sejarah Indonesia dan dicap sebagai parpol terlarang.

Artikel Terkait