'Nyam, nyam, kriuk, krauk, nyam. Haaeeeq.' Demikian lamat-lamat terdengar suara bakteri mikroskopis asyik mengunyah, lalu bersendawa.

Pernah kita alami, membeli masakan segar, setiba di rumah saat dibuka bungkusnya ternyata sudah beraroma asam pertanda basi. Dulu, seringkali diduga karena si pemilik warung gunakan penglaris, karena tetap enak saat masakannya disantap di tempat.

Apakah benar demikian? Kita coba simak secara ilmiah.

Penyebab masakan mendadak basi, dikarenakan ulah bakteri Anaerob. Bakteri yang metabolismanya tak perlu Oksigen.Bakteri ini sering terpapar di area yang kurang higienis.
 
Apakah warung tenda kentaki (kentara kaki), bahkan restoran pun bisa jadi sarang bakteri anaerob ini, antara lain Escherichia coli dan Lactobasilus.

Jika bakteri-bakteri tersebut masuk bareng makanan yang kebanyakan dibungkus plastik ataupun styrofoam melalui tangan peladennya, mangkoknya, stik pencapitnya, irusnya, centongnya dan sebagainya, maka ketika sampai rumah lalu bungkusnya dibuka, bakterinya mendadak mati karena terpapar Oksigen.

Setiap makhluk hidup, ketika mati pasti meninggalkan sesuatu. Manusia mati tinggalkan nama. Gajah mati tinggalkan gading. Burung mati tinggalkan kenangan. Nah, bakteri Anaerob matinya tinggalkan asam Peroksida, menuai aroma basi.

Jadi biang masakan bungkus mendadak basi adalah bakteri anaerob. Karena faktor higienis sang koki dan dapur rumah makannya, bukan karena ada persaingan penglaris gaib.


Besek Tumbal Selulosa.

Masih terkait ulasan tentang mendadak basi akibat ulah bakteri anaerob pada masakan yang dikemas dalam wadah kedap udara seperti plastik ataupun styrofoam.

Besek anyaman bambu lebih bermanfaat sebagai wadah masakan dibanding kedua bahan sintetis tersebut di atas.

Karena selain alamiah dan ramah lingkungan, besek juga bisa menjadi semacam ‘tumbal Selulosa’ bagi bakteri aerob ataupun anaerob. Sehingga masakan yang disimpan dalam besek, bakal tak gampang basi.

Bagaimana ‘tumbal Selulosa’ bisa terjadi? Itu tak lain karena peran senyawa Selulosa yang mendominasi bambu hingga 50-an %.

Struktur Stereokimia Selulosa terdapat Glukosa di dalamnya.

Oleh karenanya bakteri Selulotik pemilik enzim pencerna Selulosa, bakal lebih tertarik ‘hinggap’ ke besek, dibanding ke masakan yang tersimpan di dalamnya.

Bakteri aerob seperti Pseudomonas sp, Bacilus sp, juga bakteri anaerob seperti Clostridium sp, bakal memangsa Selulosa yang berlimpah dalam anyaman bambu besek.

Bakteri-bakteri pun sibuk melahap Selulosa besek, dibanding berkembang biak di atas masakan dalam besek.

'Nyam, nyam, kriuk, krauk, nyam. Haaeeeq.' Demikian lamat-lamat terdengar suara bakteri mikroskopis asyik mengunyah, lalu bersendawa.

Manusia tak bisa melahap dan mencerna anyaman bambu karena tak punya enzim Selulase. Manusia hanya mampu melahap bambu saat masih berupa akar muda bernama rebung, yang diolah menjadi masakan, antara lain; lumpia atapun rebung masak lodeh.

Paket Nasi Gudeg Dalam Besek.


Air Kendi Lebih Adem.

Tampak sederhana namun canggih, air kendi adem karena hukum II Termodinamika. Berbahan lempung membuat air dalam kendi tak terpisah adiabatik dengan lingkungannya.

Sebagian air yang diserap ke pori-pori sisi luar kendi, pelan-pelan menguap karena bersinggungan udara luar. 

Saat uap air dan suhu udara luar imbang, sementara pori-pori lempung tetap menyerap air, maka panas yang digunakan untuk menguap bukan dari udara luar. Namun dari air dalam kendi itu sendiri.

Suhu air dalam kendi lalu terus dikontribusi bagi air resapan sisi luar kendi, untuk menguap lagi. Oleh karena proses demikian, maka air kendi pun jadi lebih adem, dibanding jika disimpan dalam gelas, teko logam ataupun plastik.

Derajat keasaman (pH) air kendi juga lebih tersangga, karena kandungan Alkali tanah dalam lempung kendi.

Kendi Di Meja Makan Bersanding Aneka Masakan.

Cara minum air kendi juga khas, tak langsung disedot dari pancuran kecilnya, ataupun dituang terlebih dahulu ke cangkir pun gelas. Namun langsung ditenggak.

Teknik menenggak air kendi perlu keahlian tersendiri, yaitu olah napas serta atur momen yang tepat membuka dan menutup otot kerongkongan. Keliru atur momen, bisa tersedak.

Dipandang dari kejauhan, bentuk bibir si peminum air kendi, yang karena mulutnya melongo sambil mendongak, bisa mirip bibir ikan Mujair. Membuka dan menutup mengikuti irama tenggak. Belum lagi kedua mata lebih dinamis melek merem, mengikuti momen buka tutup otot kerongkongan.

Tapi, justru cara minum demikian itu lebih sehat. Karena mulut mungil kendi terbebas dari selomotan beragam bentuk rupa dan karakter bibir banyak orang.

Juga, pas air kendi mengucur, maka airnya tersapu oleh udara segar yang mengandung Oksigen dan Nitrogen. Dua gas bebas alami yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Ademnya air kendi juga tak sedingin air kulkas. Sehingga menjadi solusi bagi penyuka air adem seger, tapi khawatir kena panas dalem gara-gara minum air kelewat dingin.

Jadi, selamat mencoba menenggak air kendi. Mak 'Klok oklok oklok oklok oklok oklok. Glek! Aahh!' Usap bibir pakai telapak tangan, lalu senyum bahagia.

Dari dulu hingga kini, ilmu dan pengetahuan selalu menurun antar generasi. Dari besek hingga kendi, adalah bukti para leluhur mewariskan jejak sains dan teknologi.