Asrama adalah rumah bagi santri, di sanalah semuanya bermula, dan semua mimpi dan harapan dirajut. Karena begitu pentingnya peran asrama dalam menghadirkan sosok santri dengan segudang prestasi maka banyak aspek yang harus diperhatikan.

Asrama sebagai salah satu rukun pondok merupakan akomodasi ataupun tempat tinggal santri. Di Asrama tercipta sebuah integrasi dari sebuah sosialisasi maupun interaksi antar santri. Asrama merupakan miniatur kehidupan.

Proses interaksi yang terbangun haruslah interaksi positif dari sebuah hierarki kelas di mana senior harus menjadi panutan bukan malah menjadi monster yang menakutkan bagi adik-adiknya.

Sesungguhnya di sinilah proses asuh berjalan, bila kakak kelas menjadi pengayom, menjadi panutan dan seterusnya, maka akan terbangun suasana positif pada mental santri untuk menjadi santri yang istimewa. jika suasana seperti ini terbangun maka prestasi sepertinya hanya tinggal menunggu waktu.

Sebuah pondok pasti akan terus mencari solusi dan inovasi-inovasi sistem dalam pengembangan kehidupan santri di asrama. Faktanya bahwa kenyamanan di asrama bukan berarti harus kemewahan kamar, tapi bagaimana hubungan yang terbangun antara kakak dan adik kelas sinergi dalam kontek tawasaw bil Haq wa tawa bishabri.

Dalam konteks disiplin Pesantren, semuanya harus tunduk pada aturan dan disiplin Pesantren. Nilai-nilai ini sesungguhnya sudah menjadi pondasi dasar dalam pembangunan mental santri sejak Pondok dibangun.

Sehingga seluruh masyarakat Pondok ini harus bahu membahu menjaga agar santri yang tinggal dan belajar bisa mengeksplorasi kemampuan dirinya agar mampu memiliki prestasi yang membanggakan.

Di dalam asrama suatu Pondok Pesantren santri fungsi asrama bukan hanya untuk tidur maupun istirahat, tapi juga pelatihan kemandirian dan kedisiplinan demi memupuk karakter dan akhlak.

Contohnya yaitu ketika shalat berjamaah, hal ini sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang karena hukum salat berjamaah menurut Madzhab Imam Syafi'i adalah sunnah muakkad. Namun dalam Sunnah Pondok wajib hukumnya.

Ketika mereka meresapi dan memahami makna shalat berjamaah yaitu fastabiqul khairat, pembiasaan dalam hal-hal positif. Dalam sebuah proses disiplin dan aturan di mana santri tidak dibebaskan begitu saja.

Pondok Pesantren menyiapkan santri yang tidak hanya sholeh dan genius secara ritual. Santri yang dimaksud adalah santri yang rajin dan tekun beribadah. Tapi  juga mendidik agar santri sholeh dan cerdas secara sosial, yaitu manusia yang dapat bersosialisasi, dan berinteraksi dengan baik terhadap lingkungannya.

Pada dasarnya, manusia adalah An-nas, yang berarti makhluk sosial yang perlu berinteraksi dan bersosialisasi terhadap sesamanya. Lalu Al-Basyar, yakni makhluk biologis yang membutuhkan makan, minum, dan lainnya. dan Al-insan, makhluk psikologis yang kadang senang, sedih, kecewa dan lainnya.

Proses kaderisasi lewat pengurus-pengurus asrama merupakan langkah dasar dalam membentuk kedisiplinan santri. Kehidupan berasrama merupakan kehidupan berhadapan dengan berbagai macam tabi’at dan karakter. Ada proses guiding dan conseling. Dimana ada proses fathership dan partnership.

Fathership adalah proses pembimbingan dan pengarahan melalui guru-guru maupun pengurus-pengurus asrama. Partnership adalah hubungan kerjasama.

Akan terjalin semacam bangunan kesadaran bahwa kehidupan berasrama dengan berbagai macam karakter dari berbagai latar belakang santri, dimana harus ada bimbingan bahwasanya kehidupan di luar nanti sama dengan kehidupan berasrama.

Maka hidup berasrama merupakan pelatihan mental dalam menghadapi kehidupan yang sebenarnya kelak. Dengan begitu maka santri harus saling asah, saling asuh, dan saling asih. Jadi kehidupan berasrama memang tidak idealis karena terjalin begitu saja dalam rangka kurikulum kehidupan.

Pesantren tidak hanya menyiapkan kurikulum pendidikan tapi juga kurikulum kehidupan. Dimana santri dilatih untuk siap menghadapi berbagai tantangan. Sehingga santri sudah siap secara mentalitas ketika menjalin kehidupan yang sebenarnya nanti. Karena orang sukses tanpa proses tidak akan bisa.

Sistem Scoring merupakan penilaian, yang sangat berpengaruh dalam peningkatan prestasi santri. Sanksi dalam sistem ini berlandaskan pada tiga hal, pertama memperbaiki yang salah. Karena orang yang salah apabila tidak diberitahu kesalahannya, ia akan tenggelam dalam kesalahan.

Kedua, membantu proses berjalannya suatu disiplin. Ketiga, sebagai cerminan bagi yang lain. Sehingga santri akan berpikir untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Sanksi merupakan proses dari pendidikan. Tujuan paling utama dari sistem skoring adalah muhasabah (evaluasi diri). 

Setiap manusia ingin mencapai kesuksesan, mencapai sebuah prestasi. Semua santri pasti memiliki potensinya masing-masing. Hanya saja santri harus dilakukan semacam rangsangan-rangsangan melalui penilaian-penilaian. Tujuan kedua adalah Fastabiqul Khoirot. yang ketiga adalah Al-I’tibaru lil ghoir.

Manakala disiplin berasrama dilakukan dengan baik, memahami konsep kehidupan berasrama yaitu satu tujuan, berbagi pengalaman berbagi pengetahuan, berbagi ilmu, sebagai wujud kesadaran bahwasanya kepercayaan orang tua sebagai birrul walidain dan kader untuk umat.

Maka anak akan sadar untuk apa orang tuanya memasukkannya ke dalam Pesantren. Yaitu agar anaknya dapat menjadi seorang yang berbeda, yang memiliki nilai lebih dari yang lainnya. Kehidupan kita bukan hanya sesaat tapi untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Dengan berbagai macam cara santri dapat bertahan di Pondok Pesantren. Seluruh santri yang lulus dari Pesantren adalah orang-orang hebat dan luar biasa karena santri diuji dalam kenyamanan dirinya di pondok ini. Maka, kenyamanan berasrama sangat berpengaruh dalam mendongkrak prestasi santri.

Faktor yang menghambat prestasi santri adalah keluarga. Maka kerjasama antara orang tua dengan anak, dan orang tua dengan guru sangat dibutuhkan dan sangat berpengaruh.

Faktor selanjutnya yang menghambat prestasi santri bukan karena makanan santri yang tidak enak. Namun yang paling utama adalah diri sendiri yakni malas. Terkadang, sikap malas belum dapat mereka kendalikan. Sehingga potensi yang sebenarnya dimiliki menjadi tertutupi. Namun kembali kepada santri itu sendiri.

Agar santri dapat mencapai sebuah prestasi yang diharapkan, bagaimanapun taat kepada orang tua merupakan kunci utama. Membuat orang tua bahagia melalui bertahan hidup di Pesantren merupakan prestasi seorang santri.

Maka semangat dan sabar tetap menjadi kunci utama. Kembalinya kita kepada Allah SWT. Karena hidup didunia ini merupakan wasilah, untuk mencapai berbagai prestasi untuk bahagia kembali kepada Allah SWT.

Al Madju la bil jaddi, bal bil jiddi. Kemuliaan bukan karena nenek moyang namun karena perjuangan. Karena prestasi bukan hanya ketika kalian berdiri di atas podium dan diberikan penghargaan.

Tetapi prestasi santri adalah mau memanfaatkan ilmunya, mau taat kepada peraturan-peraturan, maupun mengingatkan teman yang salah dengan cara yang baik itulah prestasi seorang santri.