Belum lama, saya melihat satu foto lalu lalang di beranda Facebook. Foto Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengobrol santai di lapangan terbang. Sebuah pesawat berkelir biru menjadi latar belakang. Cakep sekali.

Ceritanya, kedua pejabat negara kesayangan kita itu akan ke Kalimantan Tengah.Tentu bukan untuk piknik, melainkan meninjau megaproyek yang tengah digeber negara. Proyek lumbung pangan nasional beranggaran Rp68 triliun, di mana Pak Prabowo ditunjuk sebagai salah satu komandan bos.

Tapi sebenarnya bukan proyek itu yang mau saya komentari. Saya justru tertarik pada setelan yang dikenakan Pak Prabowo. Setelan warna khaki dengan saku tempel tersebar di empat penjuru kemejanya. Sekali lirik, saya kira semua orang segera paham, itu setelan bergaya militer.

Bukan hal luar biasa melihat beliau dalam pakaian bergaya militer. Dan tentu saja tidak ada salahnya, apa pun alasan di balik pemilihan gaya busana itu. Hal itu semata hanya mengingatkan saya tentang betapa masifnya pengaruh militer atau militerisme menyusupi kehidupan kita sehari-hari. Paling tidak dalam hal pakaian yang kita kenakan setiap hari.

Kita? Pak Prabowo saja, keleusss.

Let me tell you, gaesss. Bahkan baju kaos alias t-shirt yang saya dan Anda kenakan nyaris setiap hari adalah artefak militer. Akar sejarahnya tertancap di zona perang Amerika versus Spanyol tahun 1898.

Di tahun itulah t-shirt pertama kali diluncurkan secara massal untuk kebutuhan prajurit yang maju perang. Menyusul kemudian, pada 1913, US Navy menetapkannya sebagai undershirt resmi mereka. Dan dari situlah kepopuleran t-shirt bermula, hingga kemudian menyusup sampai ke dalam lemari kita.

T-shirt itu hanya satu contoh. Ada daftar panjang item fesyen modern yang akar sejarahnya bisa ditarik dari barak militer. Atau paling tidak dipengaruhi oleh peristiwa perang-perang besar sepanjang sejarah.

Dari zona peperangan era Napoleon Boneparte, misalnya, lahir cikal bakal jas tutup, kerah kemeja, aksesori kancing, epaulet, dan bisban. Bahkan pengaturan letak kancing kemeja pria dimulai dari barak tentara.

Kostum panggung Michael Jackson dan para pemain drum band adalah contoh gaya militer zamannya Pak Napoleon.

Contoh lain. Evolusi bentuk korset wanita menjadi bra didorong oleh peristiwa Perang Dunia I dan II. Perang membutuhkan banyak logam untuk membuat alat-alat tempur. Penggunaan kawat dan lempeng logam pada konstruksi penyangga korset harus dipangkas untuk memenuhi kebutuhan perang. Maka bentuk korset pun ikut terpangkas demi mendukung peperangan.

Saya rasanya mau berterima kasih untuk peristiwa perang dunia, sekarang saya tidak perlu terjepit dalam ketatnya korset.

Saya kira, tidak begitu sulit dimengerti mengapa dalam perkara perbusanaan tampak gejala supremasi militer atas sipil. Jika peperangan bisa diibaratkan panggung, maka para tentara adalah aktornya. Penonton biasanya menggandrungi penampilan para aktor dan dengan senang hati mengadopsinya.

Saya jadi ingat peristiwa ketika Pak Jokowi tampil di televisi mengenakan jaket bomber. Dalam sekejap, distributor Zara—label produsen jaket itu—kehabisan stok dan kewalahan melayani permintaan konsumen. Jaket bomber datang dari arena PD I, seragam para pilot tempur pasukan Amerika. Di era 1970-an, industri fesyen membawanya ke tengah masyarakat sipil.

Pak Jokowi hanya satu faktor viralnya lagi jaket itu. Sama hebohnya ketika Tom Cruise memakainya di film Top Gun. Tapi di samping itu, saya kira faktor kegandrungan manusia pada artefak-artefak perang memang tidak pernah surut. Kenapa? Karena manusia nyatanya memang menggandrungi perang. Yang tidak disukai hanya dampak buruknya.

Manusia selalu bersemangat akan peperangan. Perang apa pun itu. Jika tidak ada perang fisik, ada perang ide. Jika bukan perang bersenjata, ada perang ujung jari di media sosial. Bahkan anak kecil pun suka berperang, meskipun hanya simulasi perang di game online.

Sepanjang sejarah peradaban dunia, sudah berapa banyak perang yang terjadi? Dunia ini rasanya sepanjang waktu disibukkan oleh perang. Tidak heran jika panggung-panggung peragaan busana juga tidak henti menyodorkan item-item fesyen dari zona perang.

Panggung-panggung itu sangat memahami hasrat manusia akan perang. Dan bekerja untuk melayaninya dari waktu ke waktu. Bahkan bukan hanya panggung fesyen. Panggung musik dan hiburan lain, panggung politik sampai panggung tujuh belasan ikut juga bersamanya.

Bukankah sudah jamak kita melihat para artis, tokoh politik sampai anak-anak TK berkostum ala panglima perang atau tokoh militer? Kita pernah tersentak melihat musisi Ahmad Dhani berkostum ala Heinrich Himmler. Dia boleh berkata itu hanya sekadar fesyen, tapi Romo Magnis Suseno bahkan mengomentari bahwa fesyennya itu amat mudah ditafsirkan sebagai bentuk dukungan terhadap fasisme.

Tentu kita bisa sepakat, bahwa selera busana kita tidak lantas otomatis berhubungan dengan nilai-nilai atau ideologi tertentu, misalnya. Namun bagaimanapun, busana tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh. Ada banyak fungsi lain bersamanya.

Pakaian adalah alat komunikasi tanpa kata. Itu kata Collin Mc Dewell, penulis dan pakar sejarah fesyen. Sebagai alat komunikasi, tentu ada pesan yang diantarkannya. Pesan apa itu? Pesan tentang hasrat-hasrat manusiawi. Itu kata saya, emak-emak dasteran merangkap tukang jahit.

Kembali ke soal kostum Pak Prabowo ketika meninjau lumbung pangan nasional itu. Pesan apa yang mungkin kita tangkap? Tidakkah tersirat hasratnya akan perang dan supremasi militer?

Mungkin tidak sejauh itu. Tapi bagaimanapun, arena politik adalah juga arena perang. Dan Pak Prabowo bukan politisi kaleng-kaleng. Kesiapannya bertarung di arena politik tampaknya dipersiapkan sampai ke baju-bajunya segala; iya, kan?

Proyek lumbung pangan itu nyatanya disusul beragam polemik. Keterlibatan Kementerian Pertahanan dipertanyakan beberapa pihak. “Kok Kementerian Pertahanan yang jadi leading sector? Harusnya, kan, Kementerian Pertanian?”

Terlebih ketika tersiar kabar, nantinya tentara juga dipekerjakan menggarap lahan yang disediakan untuk proyek itu. “Apa-apaan? Kenapa harus tentara yang mengurusi soal pangan nasional? Wah, jangan-jangan tentara nanti hanya jadi centeng pemerintah untuk berhadapan dengan masyarakat, bahaya, tuh”.

Pertanyaan-pertanyaan macam itu, bukan level Pak Prabowo yang perlu menanggapinya. Tugas beliau adalah berdiri di sisi Pak Jokowi supaya bisa dipotret dalam satu frame. 

Dalam pakaiannya yang bergaya pasukan Amerika di Perang Dunia I, bisa ditafsirkan beliau hendak mengirim sinyal. "Helloww, saya dalam posisi siap tempur, lho. Tolong hati-hati, gaess."

Tapi siap tempurnya untuk kepentingan apa atau siapa, itu saya tidak paham. Jadi, waktu dan tempat sekarang saya serahkan saja kepada Anda yang paham. Silakan. Saya pamit dulu, ya.